Staging Desire: Gelegak Hasrat dalam Panggung Kehendak

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua semesta artistik bertemu dalam pameran bersama "Staging Desire" di Galeri Salihara: Imam Sucahyo dan Nindityo Adipurnomo. Keduanya membawa pendekatan yang berbeda, namun saling beresonansi.
Di satu sisi, Imam Sucahyo (seniman otodidak asal Tuban) menyulap keseharian menjadi karya magis. Tanpa bekal pendidikan formal, ia mengekspresikan imajinasi dan memorinya melalui medium tak biasa: kardus bekas, kayu apung, krayon, hingga potongan plastik. Lahirlah wayang karton dan rumah-rumah lapuk yang merangkum denyut kehidupan sehari-hari; rapuh, tapi sarat harapan, seolah tumbuh langsung dari tanah tempatnya berpijak.
Berseberangan, Nindityo Adipurnomo (salah satu pilar seni rupa Indonesia) hadir dengan eksplorasi mendalam. Lebih dari tiga dekade, ia menguliti simbol-simbol budaya Jawa dalam konteks sosial yang terus bergeser. Tak hanya sebagai seniman, Nindityo juga arsitek ekosistem seni melalui Cemeti dan IVAA, yang terus mempertanyakan makna dan relevansi identitas dalam karyanya.
Pertemuan kedua dunia ini berpusat pada sebuah magnet visual: sebuah rumah bobrok yang tegak di jantung ruang pamer. Ditemukan Imam di pertanian Tuban, rumah usang berkarakter ini berdiri miring, seakan membisikkan kisah keretakan. Sekelilingnya, figur-figur aneh didominasi warna biru, kuning, dan merah menjulang di tongkat kayu. Wajah mereka penuh cerita, tubuhnya bertekstur kasar jerami yang kontras dengan lipatan acak, membentuk karakter dalam narasi kolosal.
Di atas rumah, struktur vertikal bak makhluk fantastis menegang dengan "tanduk" atau tentakel di puncaknya. Anyaman kawatnya berputar, menciptakan ilusi gerak yang dramatis. Bayangannya terpantul megah ke layar bulat di belakang, menghadirkan dramaturgi wayang kontemporer. Tak jauh, kerangka kayu primitif berpendar, ditemani televisi kecil yang menyelinapkan nuansa modernitas.
Rumah bobrok ini bukan sekadar instalasi, melainkan titik temu memori kedua seniman. Dari metafora kayu lapuk inilah "Staging Desire" berakar, dan seluruh karya yang mengelilinginya lahir. Sebuah panggung bagi hasrat, kerapuhan, dan pertemuan dua jiwa kreatif yang berbeda.
Bagi Imam, rumah bobrok itu laksana pelindung jiwa yang runtuh. Saat kayunya lapuk, energi yang dulu tertahan pun menyebar liar. Reruntuhannya menjadi cermin retaknya struktur domestik: lunturnya nilai bersama dan remuknya kohesi sosial. Ia mengenangnya sebagai gubug penceng (sebutan Jawa untuk konstelasi Salib Selatan). Di masa kecil, atap miring rumahnya ia panjat untuk mempelajari bintang. Kini, kemiringan serupa pada rumah bobrok itu membangkitkan kenangan: pengamatan langit masa lalu menyatu dengan hamparan ladang di depannya.
Lintang Gubug Penceng—penanda arah selatan dan musim kemarau sejak era Mataram—baginya bukan sekadar petunjuk arah. Imam merajut rumah rusak ini sebagai dialog puitis dengan tanah: bagaimana lanskap dipahami turun-temurun, lalu berubah. Ketika iklim tak lagi terprediksi dan konstelasi kehilangan fungsi praktis, ia melihatnya bukan sebagai kehilangan, melainkan bukti abadi tentang kemampuan manusia beradaptasi.
Nindityo membaca makna yang berbeda. Baginya, rumah itu adalah metafora erosi ruang sosial, terutama institusi keluarga. Karena tak pernah menyaksikannya dalam konteks asli, interpretasinya justru lahir dari ketidakhadiran. Kekuatan rumah ini terletak pada ketidakutuhannya. Seperti dalam konsep Lacanian, hasrat tumbuh dari kekosongan: rumah bobrok menjadi situs proyeksi untuk narasi kohesi yang tak pernah terpenuhi.
Proyeksi itu merambat ke seri Keluarga Dinasti di sampingnya. Judul-judulnya yang menusuk (Bapak Dikelilingi Para Penjilat, Bapak Mengadu Domba) bukan sekadar label, melainkan "kebocoran bawah sadar" Nindityo yang menyiratkan kecemasan pasca-Pemilu 2024. Figur-figur rotannya, dibalut kulit kerbau, kulit buaya, bahkan sampah plastik, menyembunyikan senjata paradoks: dari keris Jawa hingga AK-47 yang moncongnya bermutasi menjadi penis kendur.
Bentuk-bentuk hibrida seperti Bapak menyerupai kadal raksasa, adalah tabrakan viseral antara kekerasan politik, tradisi, dan simbol. Meski terpisah dari rumah bobrok, patung-patung ini memperluas sensasi "kerusakan" yang sama: betapa rapuhnya makna bersama di tengah pertarungan kuasa.
Dalam bacaan Nindityo, rumah bobrok menjadi cermin politik kekinian. Fragmen-fragmen karyanya membisikkan kegelisahan mendalam tentang identitas dan representasi di bawah bayang-bayang politik dinasti, terutama pasca-Pemilu 2024 dan siklus kekuasaan yang menjengkelkan. Tanpa klaim gamblang, karyanya menyiratkan erosi simbolis: ikatan keluarga dan otoritas institusi yang menjelma mata uang sekaligus korban dalam mesin ambisi politik.
"Staging Desire" (Panggung Kehendak) pun mekar bukan sekadar sebagai pameran bersama, melainkan pertemuan dua arus kreatif yang berbeda sumber. Bagi Imam Sucahyo, berkarya adalah ritual merangkum: ia menyatukan pengamatan mata, gema memori, dan jelajah imajinasi. Pengamatannya bukan aktivitas pasif, ia merasakan dunia lewat intuisi dan keheningan. Dari kediaman inilah sudut pandangnya yang khas terpancar.
Wayang kartonnya menjadi bukti. Ia menolak pakem wayang tradisional. Arketipe tak dikurung, narasi sengaja dibiarkan terbuka, mengundang tangan penyimak untuk menyusun ulang. Justru dalam ambiguitas ini kekuatannya bersemi: karya-karya itu menjadi cermin yang memantulkan proyeksi personal dan pembacaan yang terus bergerak.
Baginya, hasrat bukan teka-teki yang perlu dipecahkan, melainkan cara menghidupi keseharian: mengamati, menanggapi, lalu mencipta. Tenang, sulit dipatok, dan menolak resolusi paksa. Karyanya adalah rahim tempat makna tumbuh bersama pengamat, hasrat untuk menghidupkan pengalaman yang terasa, tanpa membelenggu artinya dalam sangkar.
Nindityo Adipurnomo berlayar di samudra berbeda. Baginya, hasrat adalah pematri subjek. Tiga dekade praktiknya berpusar pada refleksi kritis tentang identitas yang tak pernah beku. Di sinilah teori hasrat Lacan menemukan relevansi: hasrat yang berdenyut dari ketiadaan, lalu termanifestasi sebagai pertunjukan. Subjektivitas, dalam bingkai ini, bukan inti yang teguh, melainkan bentukan citra, bahasa, dan kerinduan akan sesuatu yang selalu luput dicapai.
Pada titik temu inilah dialog mereka mencapai puncaknya. Pertemuan dua seniman ini berkembang menjadi penelusuran bersama tentang gelegak hasrat—entah yang terang-benderang atau yang bersemayam dalam kelam—sebagai tenaga penggerak penciptaan. Praktik Nindityo, yang puluhan tahun menyelami identitas dengan pisau analitis, menemukan denyut baru dalam ambiguitas magis wayang karton Imam. Sementara proses kreatif Imam, yang berakar pada ingatan indrawi dan tanah, justru mengkristal lebih tajam ketika beresonansi dengan aliran rindu dan imajinasi Nindityo.
"Staging Desire" pun menjadi lebih dari panggung. Ia adalah aliran sungai tempat dua mata air kehendak bertemu, saling menggenangi, lalu mengalirkan pertanyaan abadi: dari mana hasrat bermula, dan ke mana ia akan menuju?
