Konten dari Pengguna

Umat Beragama Harus Jadi Solusi Konflik

Hidayat Nur Wahid

Hidayat Nur Wahidverified-green

Wakil Ketua MPR RI 2019-2024 | Berkontribusi untuk memberi manfaat yang positif bagi sesama.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hidayat Nur Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi simbol beberapa Agama. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi simbol beberapa Agama. Foto: Shutter Stock

Umat beragama di Myanmar, Cina, Palestina, dan India menjadi korban konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh umat beragama lain. Padahal seharusnya, sesama umat beragama menjadi solusi dari konflik, termasuk konflik yang sedang terjadi di Asia.

“Karena, konflik antaragama bukan bagian dari ajaran agama-agama,”

Melihat kondisi umat beragama di Asia hari ini, seharusnya membuat semua umat beragama berpikir lebih keras. Peristiwa yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar, etnis Uighur di Cina, umat Islam di India dan Palestina sangat memprihatinkan.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, seharusnya umat beragama tidak lagi hanya bicara basi-basi, tapi harus betul-betul menghadirkan komitmen beragama yang melahirkan tanggung jawab sosial dan tanggung jawab terhadap hubungan antarpihak.

“Supaya umat beragama betul-betul menjadi bagian dari solusi untuk menuntaskan beragam masalah yang sedang terjadi,”

Hal itu saya sampaikan saat mengikuti lokakarya bertema "Membina Dialog Antaragama dan Intra Agama untuk Mengurangi Konflik di Asia Selatan dan Tenggara" yang diselenggarakan KAICIID dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dua lembaga tersebut bekerja sama dengan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Gusdurian Foundation.

Maksud dari kegiatan lokakarya adalah mendialogkan beragam kondisi keberagamaan di Asia Selatan dan Tenggara. Seraya, mencari titik temu yang bisa menghadirkan beragama yang membawa harmoni dan kehidupan yang semakin damai dan toleran.

Harapannya, umat beragama memahami bahwa beragama bukan untuk menghadirkan konflik, melainkan justru menjadi bagian dari solusi untuk masalah dan konflik.

Dialog ini menggunakan pendekatan organisasi sosial dan keagamaan. Sejumlah tokoh lintas agama hadir dalam forum ini.

“Adapun topik yang dibahas adalah relasi antara Islam dan Buddha. Meski temanya Islam dan Buddha, tapi yang diundang beragam latar belakang agama,”

Saya berharap, forum ini memberikan spektrum yang lebih luas untuk kedua agama, dan menjadi bagian yang terus mengokohkan kehidupan yang harmoni di Asia.