Konten dari Pengguna

5 Penulis Wanita Muslim Inspiratif dan Karya Besarnya

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi. Foto: Pixabay/DGlodowska
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi. Foto: Pixabay/DGlodowska

Dunia sastra tak pernah ada habisnya. Para filsuf, cendekiawan, dan sastratwan kerap menuangkan pemikirannya melalui tulisan mereka. Ada yang berdasarkan kisah atau penelitian nyata, maupun hanya bersifat fiksi. Apapun genre tulisan, karya sastra tetap menarik minat banyak orang.

Wanita turut mengambil peran dalam mengekspresikan karya-karyanya melalui tulisan. Di Indonesia sendiri, kita dapat menikmati buku-buku dari Dewi Lestari, Ayu Utama, Ika Natassa, dan masih banyak lagi. Lantas, bagaimana dengan penulis wanita dari negeri Timur-Tengah?

Dilansir dari situs Mvslim, berikut lima penulis wanita Muslim inspiratif berasal dari negara-negara Arab beserta karya besarnya yang memukau.

Aisyah Al-Bauniyyah (meninggal tahun 1517 M)

Gambar ilustrasi. Foto: Pixabay/congerdesign

Al-Bauniyyah adalah salah satu penulis wanita paling produktif pada masanya. Seperti yang dikatakan oleh seorang penerjemah salah satu bukunya dalam sebuah wawancara tahun 2014, Aishah merupakan satu dari sedikit penulis pra modern yang juga menulis puisi dan karya ilmiah.

Wanita itu menulis puisi dan membacakannya di antara para pria. Dia bertukar puisi dengan cendekiawan pria ketika berada di Kairo, Mereka saling membalas puisi pujian dengan memainkan kata-kata yang indah. Hal demikian merupakan semacam hiburan di kalangan elit dan para penulis.

Salah satu buah pemikirannya yang terkenal adalah "Prinsip-prinsip Sufisme". Melalui karyanya, Aisyah sering berbicara tentang kecintaannya yang abadi kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Buku tersebut disusun untuk membantu orang lain melalui jalan spiritual.

May Ziadeh (1886-1941)

Potret May Ziadeh. Foto: Youtube/Al Jazeera English

Ziadeh lahir di Nazareth pada 11 Februari 1886. Dalam "Memoar Feminis Arab Awal" karya Anbara Khalidi, ia menggambarkan Ziadeh sebagai sosok penulis wanita yang mencapai puncak dunia kesusastraan. Wanita keturunan Palestina-Lebanon itu juga dikenal sebagai sosok yang memenangkan hati bagi semua orang yang mendengarnya.

May Ziadeh menonjol karena karya sastra dan puisinya. Bahkan, sanjungan juga diberikan oleh seorang penyair Lebanon bernama Henry Zugheib. Pria itu mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, bahwa Ziadeh dapat menerjemahlan novel dari bahasa Jerman, Prancis, dan Italia, sekaligus menyuntikkan rasa baru pada dunia sastra Arab.

Nawal El Saadaw (1931-2021)

Sosok Nawal El Saadawi. Foto: Youtube/Clandestinofestival

Nawal El Saadawi dikenal sebagai tokoh feminis yang berani di dunia Arab dari Mesir. Karya nonfiksi yang mengulas feminisme berpengaruh pada peminat studi gender. Novelis Irak, Ali Brader, mengatakan karya Nawal sebagai pembentuk padangan tentang ilmu feminisme dan gender.

Tak hanya di dunia Arab, nama Nawal mashyur secara global. Terbukti, karya-karyanya dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris. Dia adalah penulis kedua yang karyanya paling banyak diterjemahkan dari bahasa Arab setelah Mahfouz. Pemikirannya sering dikutip pada studi feminis dan imperialis Barat.

Sang penulis dan aktivis akhirnya tutup usia pada umur 89 tahun. Wanita yang juga berprofesi sebagai dokter ini membagi pandangannya dalam novel, esai, otobiografi, dan seminar yang dihadiri oleh banyak orang. Meski telah meninggal dunia, jasa dan buah pemikirannya tetap abadi.

Fatima Mernissi (1940-2015)

Fatima Mernissi memberikan kuliah umum di Hempshire College. Foto: Youtube/Hempshire College TV

Fatima Mernissi adalah sosiolog dan penulis asal Maroko. Dia juga salah satu dari sedikit feminis Arab terkenal di seluruh dunia. Lahir di keluarga kaya, Fatima beruntung dapat menempuh pendidikan tinggi di Sorbonne dan Universitas Brandeis hingga memperoleh gelar doktor.

Setelah lulus, ia mengajar di Universitas Mohammed V di Rabat. Keahliannya mengulas isu sosio-politik yang berfokus pada gender dan identitas seksual, khususnya di negaranya sendiri, Maroko. Dia kerap membahas kekuatan wanita Muslim dalam kaitannya dengan keyakinan Islam.

Karya sosiolog paling terkenal "The Veil and the Male Elite: A Feminis Interpretation of Islam" penuh dengan kontroversi dan dilarang di Maroko, Iran, dan negara-negara Arab di Teluk Persia. Buku ini menganalisis secara kritis hukum dan tradisi Islam. Dia menyebutkan pesan asli Nabi Muhammad SAW tentang kesetaraan gender telah diubah oleh para pemimpin politik selama bertahun-tahun.

Dunya Mikhail (1965-sekarang)

Sosok Dunya Mikhail dalam sebuah wawancara. Foto: Youtube/France 24 English

Dunya Mikhail adalah seorang jurnalis serta penulis berbagai jenis karya sastra, seperti biografi, puisi, dan memomar. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul "The Beekeeper: Rescuing the Stolen Women of Iraq", diterbitkan pada tahun 2018 dan sukses mencuri perhatian banyak orang.

Buku ini menceritakan tentang seorang pahlawan yang tidak terduga muncul: peternak lebah yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan wanita yang diperbudak dari Daesh. Dengan kemampuan mengenal medan lokal dan memiliki jaringan yang luas, pria bernama Abdullah Shrem akhirnya membawa para wanita satu per satu ke tempat yang lebih aman.

Dalam menghadapi penderitaan yang tidak manusiawi, karya nonfiksi yang kuat ini menawarkan tandingan terhadap ekstremisme genosida Daesh yaitu harapan, karena orang-orang di sana biasa mempertaruhkan hidup mereka sendiri untuk menyelamatkan orang lain.