Akhir Masa Daendels di Batavia

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Daendels terlalu bersifat diktator, bahkan keadaan darurat militer tidak mengizinkan campur tangan sewenang-wenang dalam urusan peradilan seperti yang dilakukan Daendels. Dia seenaknya mengabaikan perjanjian dagang yang disepakati wakil Hindia Timur di Amerika Serikat.
Dia sangat mencela koloni-koloni di Belanda dan melakukan hal-hal yang dia larang terhadap bawahannya. Walaupun dia menikmati gaji 130.000 gulden, belum ditambah tunjangan lain, dia berkeluh kesah bahwa dia dibayar sangat kecil. Sikapnya ini yang membuat jengkel orang Belanda maupun Jawa. Sebagaimana dia tidak menghargai perasaan para raja Jawa, Daendels juga tidak menghormati perjanjian-perjanjian yang ada dengan mereka.

Foto: Ilustrasi Batavia | www.flickr.com by David Wilson
Tapi tujuan utama misi Daendels sebetulnya berbeda. Dalam instruksi Raja Louis 9 Februari 1807 bahwa reorganisasi tentara adalah kewajibannya yang pertama. Hal-hal lain yang khusus diperintahkan kepadanya adalah penyelidikan kemungkinan penghapusan tanam paksa dan penyerahan paksa kopi, perbaikan kondisi kehidupan penduduk asli terutama budak-budak, dan perbaikan kondisi saniter di Batavia, atau pemindahan ibukota yang lebih sehat di Jawa.
Daendels, peniru setia Revolusi Prancis dan Napoleon, mengabaikan itu. Dia menghapuskan pembatasan antara hak pemilik tanah dengan hamba sahaya. Gubernur Jenderal yang diktator demikian berusaha menjungkirkan seluruh ekonomi Jawa, tidak lupa bahwa alasan utama kehadiranya di Jawa adalah keadaan parah pertahanan koloni itu.
Daendels dengan sangat giat berusaha menyediakan segala sesuatu, membangun pabrik mesiu dan senapan dan benteng dan meriam pantai, satu jalan raya dibangun dari barat Banten sampai Pasuruan timur dalam waktu satu tahun dengan mengorbankan nyawa dalam jumlah besar.
Daendels tahu bahwa Batavia tidak akan pernah bisa dipakai sebagai pusat utama pertahanan Jawa dengan tembok tuanya yang dapat dihancurkan dari laut, iklimnya bisa membunuh serdadu garnisun bahkan sebelum musuh menyentuh pantai. Dia sendiri berpikir akan memindahkan ibukota ke Surabaya.

Foto: Patung Daendels | www.flickr.com by IISG
Akhirnya dia mundur karena berbagai kesulitan di Batavia dan memutuskan memindahkan perumahan kota beberapap kilometer ke pedalaman. Invasi Britania akan segera datang, karena langkah-langlkah Daendels membangun pertahanan justru memaksa Britania menghancurkan benteng Belanda-Prancis itu sebelum tersusun rapi. Tapi Daendels tidak diizinkan melaksanakan pertahanan itu. Pada 1810, Napoleon Bonaparte menurunkan saudaranya, Louis Bonaparte, dan memasukkan Belanda ke dalam Imperium Prancis. Daendels menyebarkan bendera Prancis di Batavia.
Segera sesudah merampas Belanda, Napoleon memanggil pulang Daendels dan menggantikannya dengan orang yang bersifat lebih moderat, Jan Willem Jansens, sebelumnya menjadi gubernur provinsi Cape Colony yang dia capai persis pada waktunya malawan invasi Britania dan menyerahkan koloni itu kepada musuh. Nasib sama terjadi lagi padanya ketika tiba di Jawa.
