Alasan Mengapa Daging Babi Haram dalam Islam

All about hijab.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Islam melarang beberapa daging hewan dikonsumsi dan dianggap najis serta haram hukumnya. Salah satunya adalah daging babi yang banyak ditemukan di pasaran. Tentunya ada alasan yang kuat mengapa Islam melarang demikian. Sebenarnya, ada juga klaim ilmiah yang mendukung hal ini.
Dilansir dari situs New Muslim, babi pada dasarnya adalah pemulung, yang berarti bahwa mereka akan memakan hampir apa saja yang ditemukan dalam perjalannya mencari mangsa. Mereka tak segan untuk mengonsumsi makanan busuk, kotoran, urin, bangkai, dan sebagainya.
Sayangnya sistem pencernaan babi tidak mampu secara efektif mengeluarkan akumulasi racun dari tubuh, karena babi akan mencerna makanan seluruhnya dalam waktu sekitar empat jam. Waktu tersebut tidak cukup lama untuk membuang kelebihan racun yang tertelan. Racun ini kemudian disimpan langsung di sel lemak dan organ babi itu sendiri.
Babi tidak memiliki kelenjar keringat
Babi tidak memiliki kelenjar keringat yang berarti mereka tidak dapat membuang kelebihan racun dengan berkeringat, seperti apa yang dilakukan oleh manusia. Dengan kata lain, babi akan menjadi daging yang jauh lebih beracun daripada yang lain ketika manusia mengonsumsinya.
Kontaminasi bakteri pada babi
Menurut penyelidikan oleh Consumer Reports, 69% dari semua sampel daging babi mentah yang diuji (dari sekitar 200 sampel) terkontaminasi dengan bakteri berbahaya yang dikenal sebagai Yersinia enteroclitica. Bakteri ini dapat menyebabkan demam, penyakit saluran pencernaan, diare, muntah hingga kram.
Daging babi giling lebih mungkin terkontaminasi. Daging babi ini juga dinyatakan positif mengandung kontaminan lain termasuk obat kontroversial yang disebut ractopamine. Banyak bakteri yang ditemukan dalam daging babi sebenarnya resisten terhadap banyak antibiotik, yang membuat pengobatan tidak maksimal.
Babi merupakan inang bagi sejumlah parasit, virus, dan organisme lain, banyak di antaranya dapat langsung menular ke manusia. Contohnya, Taenia solium, yaitu parasit usus yang dapat menyebabkan infeksi jaringan dan hilangnya nafsu makan.
Selain itu, bahaya lainnya pada kandungan daging babi yang berpotensi menyerang manusia adalah hepatitis E, yaitu peradagangan virus yang dapat menyebabkan kelelahan, mual, dan penyakit kuning. Kasus yang lebih parah dapat menyebabkan fibrosis hati dan sirosis.
Bagaimana dengan babi yang dibesarkan dengan cara organik?
Meskipun daging babi yang dibesarkan secara organik jelas akan jauh lebih baik, namun masih menimbulkan masalah kesehatan tertentu. Babi yang dibesarkan di padang rumput sangat rentan terhadap infeksi Trichinella spiralis, juga dikenal sebagai "cacing babi".
Selain itu, daging babi yang dibudidayakan di peternakan juga bergantung pada lingkungannya. Jika lingkungan peternakan tidak steril dan merupakan tempat berkembang biak yang beracun bagi patogen, maka akan menimbulkan bahaya bagi manusia yang memakannya.
Babi yang dibesarkan di industri peternakan juga cenderung tidak memiliki banyak kesempatan untuk berlari di rumput, menghirup udara segar, atau bermain di bawah sinar matahari. Mereka dijejalkan ke dalam gudang besar dan diberi makanan yang sebagian besar terdiri dari obat-obatan dan antibiotik agar mereka tetap hidup dan mendorong pertumbuhan yang cepat.
Babi tidak punya pilihan selain hidup dengan kotoran, air seni, dan muntahan mereka sendiri. Karena itu, banyak babi menderita kudis, ruam menyakitkan yang sangat gatal yang tidak kunjung hilang. Babi yang menghirup gas beracun seperti amonia yang berasal dari urin dan feses dapat mengiritasi paru-paru mereka.
