Konten dari Pengguna

Apakah Jodoh Sudah Ditetapkan atau Harus Diupayakan?

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jodoh. Foto: Unsplash.com/thehkphotocompany
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jodoh. Foto: Unsplash.com/thehkphotocompany

Segala hal yang ada di dunia ini merupakan kuasa Allah SWT, termasuk datangnya jodoh yang tidak tahu dengan siapa dan kapan datangnya. Itu semua hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Sebagai manusia, kita hanya bisa berdoa dan mengupayakan yang terbaik.

Wanita atau pria baik, niscaya akan dipertemukan dengan yang baik pula, begitu sebaliknya. Namun, dalam proses pencarian ada yang berpendapat bahwa jodoh ditentukan melalui ikhtiar dan usaha, lalu sisanya diserahkan kepada Allah SWT.

Dalam Islam, jodoh adalah cerminan diri kita. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 26 yang artinya:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."

Menurut Wikipedia, Lauhul Mahfudz adalah kitab tempat Allah menuliskan seluruh catatan kejadian di alam semesta. Lalu, apakah di dalam kitab tersebut membahas perihal jodoh yang memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?

Melansir dari berbagai sumber, salah seorang anggota Fatwa Darul Ifta Syekh Dr Amr Al Wardani menyampaikan bahwa percaya pada qadha dan qadar adalah bagian dari rukun iman. Rasulullah SAW bersabda,

"Iman adalah engkau beriman (percaya) kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau percaya kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk." (HR Abdullah bin Amr bin Al 'Ash)

Kemudian terdapat hadis lainnya yang berbunyi, "Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi,." (HR Muslim)

Maka, berdasarkan hadis tersebut, Syekh Al Wardani memaparkan kalau persoalan jodoh adalah bagian dari qadar (perwujudan dari qada atau takdir) yang telah tercatat dalam kitab Lauhul Mahfidz.

Apa yang telah Allah SWT tetapkan dan tuliskan di dalam Lauhul Mahfudz adalah ghaib yang hanya diketahui Allah SWT. Dia pula yang menetapkan sebab-sebab yang mengarah pada akibatnya.

Lalu, jika jodoh memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, apakah sebagai manusia kita juga harus mengupayakannya?

Manusia memiliki banyak opsi yang tak terhingga. Bisa saja, ia berjodoh dengan si A, B, C, atau D. Bahkan, bisa jadi ada Qada (ketetapan Allah SWT sejak zaman azali) yang tidak sama sekali memiliki jodoh dari opsi-opsi tersebut atau justru sampai akhir hayatnya. Jadi, yang kita ketahui adalah ketika qada sudah menjadi qadar, maka itulah takdir yang ada pada diri kita.

Maka, sebagai manusia karena kita tidak tahu qada-nya, maka agar takdir yang didapat baik, kita harus berikhtiar. Ikhtiar dengan upaya, usaha, dan doa dalam hal jodoh agar diberikan yang terbaik.