Berguru ke Pedagang Bubur Kacang Ijo, Mandiri Jaya, Jatinangor (Part 1)

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Keinginan menjadi pedagang sukses merupakan salah satu mimpi dari seorang penjual keliling asal Sumedang, Pak Nanang. Mulanya beliau merinits usaha sebagai pedagang keliling dengan satu menu, yakni bubur kacang hijau. Berada di tengah lingkungan mahasiswa membuat Pak Nanang termotivasi mengembangkan dagang menjadi lingkup yang lebih luas, dari satu mangkok menjadi beberapa porsi, dari bubur kacang berkembang dengan penyediaan nasi goreng serta mie instan.
Sederhana namun pasti, perkembangan usaha berlanjut hingga seorang mahasiswa IKOPIN (Institut Manajemen Koperasi Indonesia) memberikan modal awal sebesar lima ratus ribu rupiah pada 1987, menurut Pak Nanang jumlah sebesar itu setara dengan sekitar lima puluh juta pada 2016 ini. Modal tersebut kemudian berkembang hingga dapat membangun usaha tetap bahkan dikenal mahasiswa Jatinangor.

Foto: Bersama Pemilik UKM | Sofi Solihah
Pada 1987 modal awal dikembangkan untuk menyewa tempat kecil seukuran ruko biasa, seiring dengan bertambahnya mahasiswa berdomisili Jatinangor maka secara tidak langsung promosi mulut ke mulut menyebar. Hal tersebut berpengaruh terhadap omset penjualan yang terus meningkat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi berubah dari sistem penjualan tatap muka menjadi perantara teks, yaitu SMS (short message service) hingga pemesanan dapat dilakukan dengan berkirim pesan selanjutnya proses pembuatan menu dan diantarkan ke tempat kos pemesan. Kemudian 2003 tempat mulai dibangun secara bertahap, dimulai dari pembelian semen, batu bata, dan lainnya. Sampai 2016 ini BKI menempati lahan tetap di Kampung Geulis Gang Flamboyan Belakang Pondok 23 Jatinangor.
Pak Nanang banyak mendapat beberapa pelanggan yang begitu dekat dari kalangan mahasiswa yang biasanya membeli dagangan miliknya. Kedekatan Pak Nanang dengan mahasiswa-mahasiswa yang merupakan pelanggannya membuat Pak Nanang sering sharing dengan para mahasiswa untuk mengembangkan usahanya yang berjualan bubur kacang ijo ini.

Foto: Bersama Pemilik UKM | Sofi Solihah
Usaha bubur kacang ijo yang telah dijalani oleh Pak Nanang sendiri ini sudah dimulai dari sekitar tahun 1989. Seperti yang dijelaskan tadi, dengan banyaknya pelanggan Pak Nanang yang merupakan mahasiswa membuat Pak Nanang dekat dan sering sharing dengan mahasiswa, baik itu dari mahasiswa IKOPIN, UNWIM, maupun Unpad yang merupakan pelanggannya. Begitu dekatnya Pak Nanang dengan para mahasiswa yang merupakan pelanggannya membuat Pak Nana sering mendapat saran untuk bisa mengembangkan usaha berjualan bubur kacangnya ini untuk bisa lebih maju dan sukses.
Pak Nanang kemudian berusaha memperbesar usahanya dari banyaknya saran dari pelanggana yang merupakan dari kalangan mahasiswa itu. Lalu untuk memperbesar usahanya tersebut ternyata Pak Nana mendapat modal berupa pinjaman dari salah satu mahasiwa IKOPIN, yang jumlahnya ± Rp 450.000, untuk modal memperbesar usahanya.
Modal untuk mengembangkan usaha yang dilakukan oleh Pak Nanang dengan modal yang dipinjamkan oleh mahasiswa tersebut dengan kesepakatan pembayarannya yaitu dengan mencicilnya sesuai dengan kesepakatan dan perjanjian antara Pak Nanang sendiri dengan mahasiswa itu yang memimjankan uangnya untuk modal Pak Nanang mengembangkan usahanya.
