Funan abad ke-2 sampai ke-3 M (Part 2)

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa sejarah yang kemudian menerima khayalan itu tidak dapat terjadi sesudah abad pertama Masehi, sebab mulai abad berikutnya di Fu-nan terdapat tokoh-tokoh historis yang kenyataannya terbukti oleh epigrafi dan oleh sejarawan-sejarawan Tionghoa. Menurut Sejarah Dinasti Liang, salah seorang keturunan Hun-t’ien yang dalam Bahasa Tionghoa dinamakan Hun-p’an-huang meninggal pada usia lebih dari 90 tahun digantikan oleh putranya yang kedua bernama P’an-p’an yang menyerahkan urusan kerajaan kepada jenderal besarnya Fan Man atau lengkapnya Fan Shih-man menurut Sejarah Dinasti Ch’i Selatan.
Sesudah memerintah selama tiga tahun, P’an-p’an meninggal dunia, seluruh kerajaan memilih Fan Shih-man sebagai raja, Fan Shih-man berani dan cakap, berkat kekuatan tentaraya ia menyerang dan menundukkan kerajaan-kerajaan tetangga, semuanya mengakui sebagai bawahannya. Fan-Shih-man sendiri bergelar Raja Besar Fu-nan, lalu ia menyuruh membuat kapal-kapal besar dan dalam penjelajahannya di laut luas itu ia menyerang lebih dari sepuluh kerajaan, diantaranya Kerajaan Ch’u-tu-k’un dan Tien-sun.

Foto: Ilustrasi Peninggalan Kebudayaan China | www.pexels.com by David Besh
Ia memperluas wilayahnya sampai lima atau enam ribu kilometer, Hall menyatakan ia telah mengubah garis pantai dari delta Mekong-Domai ke Teluk Camranh, salah satu negeri yang ditaklukannya disamakan dengan Kattigara oleh Ptolemy yang oleh Paul Levy ditempatkan di Tiongkok.
Sangatlah sulit untuk menetapkan luasnya wilayah taklukan Fan-Shih-man, ada alasan-alasan yang cukup kuat untuk menganggap nama itu sebagai transkripsi nama Raja Sri Mara yang disebut pada batu tulis berbahasa Sansekerta di Vo Canh (di daerah Nha Trang), prasasti ini lama dikira berasal dari Champa, tetapi sejak tahun 1927 oleh Louis Finnot dianggap kepunyaan sebuah negeri jajahan Fu-nan, jika diidentifikasi Sri Mara dengan Fan-Shih-man benar maka prasasti yang dikeluarkan oleh seorang keturunan Sri Mara yang dilihat dari rupa aksaranya memerintah pada abad ke-3 M dianggap sebagai salah satu sumber sejarah Fu-nan, isinya menunjukan pada masa pengukirannya dan di daerah tempat prasasti itu ditegakkan, yaitu di daerah Khanh Hoa yang sekarang, Bahasa Sansekerta merupakan bahasa resmi pemerintahan kerajaan.

Foto: Bangunan Peninggalan Dinasti China | www.pexels.com by tranmautritam
Dari teks-teks Tionghoa yang telah disebut di atas, dapat disimpulkan bahwa penakluk besar Fan-Shih-man meninggal dunia waktu diadakan ekspedisi melawan Chin-lin atau Perbatasan Emas yang dapat dianggap sama dengan Suvannabhumi, Benteng Emas dalam teks-teks berbahasa Pali atau lebih tepat dengan Suvarnakudya, Benteng Emas dalam teks-teks Sansekerta (dataran rendah Burma atau Semenanjung Tanah Melayu).
Seorang keponakan Fan Shih-man yang bernama Fan Chan menyuruh untuk membunuh pewaris sah Chin-cheng dan merampas kekuasaan. Akan tetapi, kira-kira dua puluh tahun kemudian, Fan Chan dibunuh oleh putra Fan Shih-man bernama Ch’ang. Pembalasan dendam yang tidak ada hasilnya sebab Ch’ang pun dibunuh oleh Jenderal Fan Hsun yang menyatakan dirinya adalah raja.
Diolah dari berbagai sumber
by Sofi Solihah
