Konten dari Pengguna

Hijabers Menyelami Dunia Broadcasting

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hai wanita-wanita tangguh yang sedang meniti karir! Kali ini aku mau sharing tentang pengalaman aku mengambil pendidikan jurusan Marketing Communication Broadcasting. Insyaallah berguna untuk teman-teman yang sedang bingung ingin kuliah di mana, apalagi jurusan apa. Semoga pengalaman aku ini bisa dijadikan referensi. Oh ya, sejak awal aku minta maaf ya jika foto yang akan muncul sedikit, karena pada saat kuliah aku belum menggunakan hijab.

Hijabers Menyelami Dunia Broadcasting
zoom-in-whitePerbesar

Proses Shooting di dalam studio | @nadiaendikaputri

Dahulu ketika SMA, jujur, tidak pernah sedikitpun terlintas di dalam pikiran aku akan mengambil perkuliahan Broadcasting. Keputusan ini aku ambil karena dahulu sebelum menggunakan kerudung aku pernah tampil untuk salah satu stasiun televisi dan aku tertarik melihat proses shooting. Singkat cerita aku melakukan penelitian tentang dunia pertelevisian dan memiliki tekad yang bulat untuk kuliah broadcasting.

Lalu masuklah ke pertanyaan “ambil perkuliahan broadcasting di mana?” untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu digarisbawahi sejak dahulu aku tidak seperti anak pada umumnya.

Contohnya, ketika anak-anak lain ingin mengambil jurusan IPA, aku mengambil jurusan IPS, walaupun nilai-nilaiku sangat cukup untuk masuk ke jurusan IPA (pada zamanku, untuk masuk IPA nilainya lebih tinggi daripada IPS dengan stereotype anak IPA jauh lebih pintar dari anak IPS, makin ke sini, menurut aku itu hal yang sangat lucu, karena semua orang memiliki keahlian dan kepintaran di bidangnya masing-masing. Jadi, semua ilmu itu sama menurutku, selama orang yang memiliki ilmu tersebut pandai menggunakannya).

Sejak kecil, aku sangat mencintai dunia tari, aku banyak memenangkan perlombaan tari sejak kecil termasuk ikut berpartisipasi dalam memecahkan Rekor Muri. Lalu aku mencari kampus yang memiliki kegiatan tari. Aku benar-benar mencari kampus yang tidak hanya bagus untuk jurusannya tetapi kegiatan tarinya juga.

Dan pilihanku jatuh kepada salah satu Kampus di bilangan Jakarta Barat. Kegiatan tarinya cukup terkenal dan berhasil mencetak dancer-dancer yang produktif di dunia tari. Kampus ku ini milik swasta (lagi-lagi ketika orang ingin masuk kampus negeri aku memilih swasta) akupun berpikir sejak kecil hingga SMA aku sekolah di Negeri akupun ingin mencicipi pendidikan di tempat swasta yang notabene memiliki keragaman yang lebih.

Singkat cerita perkuliahan dimulai, diajarkan berbagai ilmu komunikasi terlebih dahulu sebagai pengantar. Semakin lama mata kuliah semakin mengerucut. Masuk lah ke mata kuliah pengantar jurnalistik, public speaking, metode penelitian komunikasi massa, sosiologi komunikasi massa, professional image and acting, penulisan naskah radio dan televisi, the principles of television broadcast production, broadcasting management, reportage technique and news caster, television broadcast production, news magazine.

Kurang lebih itulah beberapa matakuliah yang aku ingat. Kami juga diajarkan praktek. Kebetulan kampusku memiliki stasiun tv sendiri. Jadi setiap melakukan praktek dan tugas-tugas bisa dilakukan di tv kampus sendiri. Belajar video editing, photo editing, sampe pusing laptop ngehang terus karena software yang digunakan berat-berat.

Tugasnya apa saja? Membuat iklan, membuat film pendek, membuat teks berita, membuat program berita, membuat naskah iklan, membuat konsep radio, menulis artikel, dan lain-lain.

Di akhir semester, kami diwajibkan untuk magang di stasiun televisi. aku magang di salah satu stasiun televisi lama, aku ditugaskan di produksi musik. Aku sangat menikmati masa-masa magangku, karena banyak jalan-jalan, ganti-ganti lokasi shooting, bertemu banyak penyanyi terkenal. Belajar menjadi floor director. Wah seru pokoknya!

Hijabers Menyelami Dunia Broadcasting (1)
zoom-in-whitePerbesar

Selesai shooting program musik | @nadiaendikaputri

Setelah lulus, aku bekerja di salah satu Production House International yang memiliki program andalan lomba menyanyi (kalian pasti tau yang aku maksud). ya aku sangat menikmati masa-masa bekerja disana.

Namun, tidak lama kemudian ayah dan ibuku kaget dengan jam kerjaku. Namanya dunia televisi tidak berhenti, 24 jam harus standby, jika di programku sedang kejar episode aku bisa pulang jam 4 atau jam 5 pagi (serius ga bohong). Kalau sedang shooting biasa jam 12 atau jam 1 pagi sudah pulang.

Hijabers Menyelami Dunia Broadcasting (2)
zoom-in-whitePerbesar

Diskusi dengan salah satu crew produksi | @nadiaendikaputri

Ya begitulah dunia brodcast apalagi kalau kamu bekerja di bagian tim produksi, perkuatlah mental dan iman teman-teman. Karena ayah dan ibuku kaget sekali akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut dan tetap dalam dunia broadcasting tapi memilih office nya di salah satu media cetak dan televisi ternama. Sampai akhirnya menjadi penulis di kumparan.

Lalu seperti yang ada di profil singkatku juga bahwa aku mulai menulis artikel berawal dari hobiku menulis puisi. Ya itu benar, dari menulis puisi untuk melukiskan apa yang aku rasakan, lalu aku mencoba membiasakan menuliskan versi “diary” nya juga, sampai kepada aku membuat artikel agar tulisanku juga bisa bermanfaat untuk orang lain.

Bagaimana? Tertarik untuk masuk ke dunia broadcasting juga? Semangat terus ya teman-teman untuk meraih mimpi kalian! Kalian pasti bisa! Akhir kata aku ingin bilang bahwa Memang tidak akan mudah tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Mari berjuang!