Ini Alasan Abu Jahal Tak Mau Beriman kepada Allah SWT

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abu Jahal adalah seorang pemimpin Bani Makhzum yang menjadi tokoh utama penentang dakwah Nabi Muhammad SAW. Bernama asli Amr bin Hisyam, Abu Jahal juga merupakan pesohor yang sebenarnya memercayai adanya Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah rasul. Namun, ia tidak mau beriman hanya karena murni dari kegengsiannya.
Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia. Meski begitu, beliau bukanlah orang yang diperintahkan untuk memaksa siapa pun untuk masuk Islam. Sebab, perihal keimanan adalah hak prerogatif Allah SWT.
Abu Jahal salah satu pemuka Quraisy yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Namun, dibalik itu ia juga memiliki pandangan lain tentang Nabi Muhammad SAW, yakni memercayainya sebagai nabi dan orang yang jujur. Lantas, kenapa ia tidak kunjung beriman kepada Allah SWT?
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 56 yang artinya:
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."
Abu Jahal memang dikenal sebagai pembenci Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah orang yang melakukan dakwah untuk menyebarluaskan ajaran Islam tanpa kekerasan ataupun paksaan. Abu Jahal terus memainkan perannya demi membuat banyak orang pada masa itu memusuhi Islam.
Dirangkum dari beberapa sumber, kisahnya berawal dari keponakan Abu Jahal yang mempertanyakan sosok pribadi Nabi Muhammad SAW, "Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad itu berdusta sebelum ia mengatakan apa yang dia katakan sekarang ini?"
"Sewaktu Muhammad masih muda, ia telah diberi gelar al-amin (dapat dipercaya). Kamu sama sekali tidak pernah mencoba menyebutnya berdusta," jawab Abu Jahal.
Lalu, keponakannya kembali bertanya, "Lantas, kenapa kalian tidak mengikutinya?"
Abu Jahal pun menjawab, "Kami dan bani Hasyim selalu bersaing dalam masalah kemuliaan. Jika mereka memberi makanan, kami juga memberi makanan. Jika mereka menjamu dengan minuman, kami juga demikian. Jika mereka memberi perlindungan, kami juga melakukannya. Sampai-sampai kami sama-sama duduk di atas hewan tunggangan untuk berperang, kami (dan bani Hasyim) sama dalam kemuliaan. Kemudian mereka mengatakan, 'Di kalangan kami ada seorang Nabi (Muhammad SAW). Kapan kabilahku bisa menyamai kemuliaan ini?'"
Inilah yang menjadikan Abu Jahal menolak untuk beriman. Jika dia beriman, maka kabilahnya kalah dalam kemuliaan. Kabilahnya kalah gengi dengan Bani Hasyim. Wallahualam.
