Konten dari Pengguna

Kenali Makna dan 3 Tata Cara Berinfak dalam Islam

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berinfak. Foto: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berinfak. Foto: Unsplash.com

Dalam menjalani kehidupan, tentunya kita tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri, tetapi kita juga perlu bantuan dari orang lain.

Sikap saling membantu merupakan bentuk kepedulian seseorang dan sudah menjadi ciri khas dalam budaya Islam. Hal ini jelas sudah disebutkan Allah SWT dalam firmannya yang ada di dalam QS. Al-Maidah ayat 2 yang artinya:

"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

Tak ayal, perintah tolong menolong dalam Islam kerap direpresentasikan dalam aksi kepedulian. Berinfak bisa menjadi salah satu cara untuk menolong.

Secara istilah, infak adalah ibadah sosial yang dilakukan dengan suka rela, serta diberikan dalam bentuk harta untuk kemaslahatan umat.

Anjuran berinfak bahkan terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 267 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

Infak sebagai ibadah sosial memiliki cakupan yang luas, Bahkan sedekah dan zakat termasuk dalam bagian infak.

Mengenai infak, ada beberapa tata cara berinfak yang baik dan dianjurkan untuk dilakukan agar infak yang dikeluarkan berada di jalan Allah SWT. Simak beberapa halnya berikut ini, ya.

1. Niat yang tulus

Apa saja yang dilakukan dengan tulus dan selalu mengharapkan ridho Allah SWT, tentu akan baik ujungnya. Sama halnya dengan berinfak, sebelum berinfak, hendaknya seseorang harus meluruskan niatnya untuk mengharapkan ridho Allah SWT semata.

"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan." (HR Bukhori dan Muslim)

2. Berinfaklah dengan harta yang halal

Segala sesuatunya tentu harus dilakukan, didapatkan, dan digunakan dengan cara yang halal. Jika niat sudah baik, maka lakukan dengan cara yang baik pula, termasuk penggunaan harta yang akan diberikan untuk berinfak. Ada baiknya orang yang ingin berinfak, menggunakan harta terbaik dan halal.

"Tidak ada salat tanpa thoharoh atau bersuci dan tidak akan diterima pula sedekah dari harta ghulul atau dari berkhianat dan harta yang haram." (HR Muslim dan Al-Baihaqi)

3. Tidak mengungkit infak yang diberikan

Sudah seharusnya, seseorang tidak mengungkit kembali hal-hal baik yang telah dilakukan, termasuk dalam berinfak. Ini dilakukan untuk menghindari riya yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 262 yang artinya:

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Nah, itulah makna dan tata cara berinfak yang dianjurkan dalam Islam.