Konten dari Pengguna

Kisah Kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan Alam Semesta

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi. Foto: Unsplash/@denisdegioanni
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi. Foto: Unsplash/@denisdegioanni

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata "alam semesta"? Apakah itu bumi, planet tempat kita tinggal dan segala isinya? Atau seluruh galaksi bima sakti yang luas tak terkira? Faktanya, manusia masih memiliki keterbatasan untuk menggapai seluruh alam semesta. Hanya Allah Maha Mengetahui.

Bumi adalah tempat ideal bagi makhluk hidup karena menawarkan oksigen, sinar matahari, atau zat-zat lain yang memungkinkan manusia, hewan, dan tumbuhan untuk berkembang biak selama waktu yang lama. Bumi sendiri memiliki bentang alam beragam, seperti pegunungan, pantai, hutan, danau, sungai, hingga gurun yang tandus. Semua ini tentunya memiliki makna masing-masing.

Contohnya, kehidupan di gurun membentuk manusia dan pandangannya tentang penciptaan dan unsur-unsur alam semesta serta isinya. Gurun yang panas dan luas menjadi ladang pembelajaran dan pengujian kesabaran bagi para pengembara. Mereka belajar untuk tetap bergerak maju, menjadi orang asing, dan memahami kuasa Allah SWT di tengah ketidakpastian pasokan air yang minim.

Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke padang pasir, dia belajar dari tradisi lisan suku setempat yang memiliki kemasyhuran dalam bahasa. Kemudian, Rasulullah SAW semakin terampil melalui kekuatan kata-katanya untuk menyampaikan ajaran Islam yang mendalam dan universal melalui frasa pendek dan mudah dipahami.

Begitulah pengalaman hidup orang beriman, yang kemudian dideskripsikan oleh Nabi kepada Abdullah ibn Umar muda dalam istilah yang mengingatkan kita:

"Jadilah di dunia ini seolah-olah kamu adalah orang asing atau musafir." (Al-Bukhari)

Gambar ilustrasi. Foto: Unsplash/@parradesign

Alam semesta dipenuhi dengan tanda-tanda yang mengingatkan kehadiran Sang Pencipta. Kehadirannya juga membuka pikiran manusia untuk melakukan pengamatan, meditasi, dan mengambil hikmah ke dalam sebuah makna. Bahkan, ketika kita melihat gurun yang kering hendaklah memuja nama-Nya.

"Dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Fushshilat ayat 39)

Tahun-tahun pertama kehidupan Muhammad SAW membentuk pandangannya dan memahami tanda-tanda di alam semesta. Ketika Rasulullah SAW menghadapi konflik dan perang di Madinah, sebuah ayat dalam Al-Quran benar-benar mengalihkannya kepada makna yang lebih dalam.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal," (QS. Ali Imran ayat 190)

Dikisahkan bahwa Nabi menangis sepanjang malam ketika ayat ini diturunkan kepadanya. Saat fajar tiba, bilal, muazin, yang datang untuk mengumandangkan adzan, bertanya tentang penyebab air mata itu pada Nabi. Kemudian, Muhammad SAW menjelaskan kepada mereka seraya berkata:

"Celaka bagi siapa saja yang membawa ayat itu namun tidak merenungkannya!"

Dari kisah Nabi Muhammad SAW, kita dapat memetik bagaimana kita melihat alam semesta, seperti menghargai apa adanya, mengamati dan mernenungkan apa yang ditunjukkan hingga apa yang alam mungkin ambil dari kita. Sesungguhnya kita hanyalah manusia yang sangat kecil jika dibandingkan dengan alam semesta tempat kita hidup dan mati.

Gambar ilustrasi. Foto: Unsplash/@baileyzindel