Woman
·
12 April 2021 20:00

Kisah 'Keistimewaan' Kalung Fatimah Az Zahra

Konten ini diproduksi oleh Hijab Lifestyle
Kisah 'Keistimewaan' Kalung Fatimah Az Zahra (262131)
Ilustrasi kisah Fatimah Az Zahra. Foto: Unsplash.com/kellysikkema
Nabu Muhammad SAW diketahui memiliki tujuh orang putra dan putri, yang terdiri dari 6 anak dari Siti Khadijah, yaitu Qashim, Abdullah, Zaenab, Ruqayah, Ummi Kultsum, dan Fatimah. Sedangkan satu orang anak lagi dari Mariyah al-Qibthiyah, yaitu Ibrahim.
ADVERTISEMENT
Salah satu dari tujuh anak Nabi Muhammad SAW, ada seorang putri cantik bernama Siti Fatimah Az Zahra. Ia dikenal memiliki kecantikan serta kepribadian yang baik, sabar, lembut hati, dan penyayang. Namanya pun memiliki arti 'Fatimah yang selalu berseri'.
Siti Fatimah Az Zahra merupakan anak ke-6 yang dilahirkan di Makkah, lima tahun sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama sebagai tanda kenabiannya.
Putri dari Nabi Muhammad SAW ini, diketahui pernah menikah dengan sepupunya, Ali bin Abi Thalib yang merupakan putra dari ABu Thalib. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak bernama Hassan dan Hussain.
Salah satu kebaikan yang dimiliki Fatimah dan patut dijadikan teladan adalah tentang kalung yang dimilikinya.
Dilansir dari berbagai sumber, ada seorang musafir yang menghampiri Nabi Muhammad SAW yang sedang duduk di masjin bersama dengan para sahabat. Musafir tersebut diketahui datang dengan tangan kosong alias kehabisan bekal.
ADVERTISEMENT
Si musafir itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW, "Ya Rasulullah, saya lapar sekalim berilah saya makanan. Saya tidak punya pakaian kecuali yang saya kenakan. Saya tidak punya uang untuk bekal pulang. Tolong saya, ya Rasul."
Nabi Muhammad SAW lalu menjawab, "Sayang aku sedang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepadamu, tetapi orang yang menunjukan kebaikan adalah sama dengan orang yang melakukannya."
"Datanglah ke tempat orang yang dicintai Allah SWT dan Rasulnya. Dia lebih mengutamakan Allah dari pada dirinya sendiri. Dialah Fatimah, putriku," pinta Nabi Muhammad SAW.
Kemudian, Nabi Muhammad SAW meminta tolong kepada sahabatnya untuk mengantar musafir tersebut ke rumah Fatimah. Namun rupanya, ketika tiba di rumah Fatimah, ia juga tidak memiliki sesuatu untuk layak di makan dan uang untuk diberikan. Lalu, Fatimah teringat dengan kalung hadiah pemberian suaminya, Ali bin Abi Thalib. Dengan hati penuh keikhlasan, Fatimah memberikan satu-satunya harta yang dimilikinya kepada musafir tersebut.
ADVERTISEMENT
"Juallah kalung ini. Mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi keutuhanmu," ujar Fatimah.
Lalu, musafir itu kembali mengunjungi Nabi Muhammad SAW yang terlihat masih berkumpul dengan para sahabatnya. Musafir itu memperlihatkan kalung pemberian Fatimah. Betapa terharunya Nabi Muhammad SAW ketika melihat itu sehingga tak kuasa untuk menahan tangis. Mengetahui fakta bahwa putrinya memberikan satu-satunya harta yang dimilikinya untuk membantu musafir tersebut.
Salah satu seorang sahabat, Ammar bi Yasir, mengajukan diri untuk membeli kalung itu.
"Berapa hendak kau jual kalung itu?" tanya Ammar ke si musafir.
"Aku akan menjualnya dengan roti dan daging yang bisa mengenyangkan perutku. Sebuah baju penutup tubuhku dan uang 10 dinar untuk bekalku pulang," jawab si musafir.
Ammar lalu membeli kalung itu dengan harga 20 dinar emas, ditambah sebuah baju, serta seekor unta untuk tunggangan si musafir.
ADVERTISEMENT
Setelah itu, Ammar berkata kepada budaknya yang bernama, Asham. "Wahai Asham, pergilah menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah."
Kemudian, Nabi Muhammad SAW menerima pesan Ammar dengan tersenyum dan melakukan hal yang sama, yaitu memberikannya kepada putrinya, Fatimah. Betapa bahagianya Fatimah menerima hadiah pemberian ayahnya. Meskipun ia tahu, bahwa kalung tersebut adalah kalung milikinya yang diberikan kepada musafir.
Satu hal lagi yang mesti kalian tahu. Fatimah juga mendapatkan hadiah seorang budak. Bukan berbahagia, Fatimah justri membebaskan Asham dan menadikannya manusia merdeka. Asham pun merasa senang karena dirinya tidak lagi menjadi seorang budak.
Begitulah kisah kalung Fatimah. Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah tersebut, ya Hijabers.
ADVERTISEMENT