Kisah Penulis dan Sufi Perempuan Aisyah al-Ba'uniyah

All about hijab.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rabi'ah Al Adawiyah memang dikenal sebagai ulama sufi perempuan yang paling disegani. Konsep mahabbah (cinta) kepada Allah SWT yang diajarkannya masih banyak dikaji hingga sekarang.
Akan tetapi, bukan hanya Rabi'ah saja, setelahnya ada seorang sufi perempuan yang juga mengajarkan konsep mahabbah, yaitu Aisyah al-Ba'uniyah.
Dilansir dari berbagai sumber, Aisyah al-Ba'uniyah adalah seorang sufi terbesar kedua setelah Rabi'ah Al Adawiyah. Lahir di Damaskus pada 865 Hijriah atau 1460 Masehi, Aisyah memiliki nama lengkap Aisyah binti Yusuf bin Ahmad bin Nashir al-Ba'uni.
Nama al-Ba'uniyah dinisbatkan kepada sebuah daerah yang bernama Ba'un yang ada di kawasan Aljloun, utara Yordania.
Ayah Aisyah bernama Yusuf, seorang hakim dari marga Ba'uni di kawasan Safed, Tripoli, Aleppo, dan Damaskus. Tidak hanya dikenal sebagai seorang hakim, ia juga seorang ulama, ahli fikih, dan penyair.
Aisyah al-Ba'uniyah hidup pada masa Dinasti Mamluk. Namanya cukup dikenal sebagai seorang sufi yang sangat produktif. Bahkan, ia dijuluki sebagai seorang penulis, penyair, dan guru sufi yang pernah hidup di Mesir dan Syiria. Karya-karya yang dibuatnya lebih banyak berbentuk prosa dan puisi, membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam berbagai karya yang telah banyak diciptakan sepanjang hidupnya, Aisyah selalu membicarakan perihal cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Dalam al-Muntakhab fi Ushul al-Rutab, Aisyah al-Ba'uniyah menyebutkan ada empat hal yang harus dilakukan oelh para penempuh jalan spiritual, yaitu taubat, ikhlas, mengingat Allah SWT, dan cinta. Kemudian, Aisyah al-Ba'uniyah tulis dalam syairnya yang berbunyi,
"Ikhlaslah, dan jadilah sang pecinta karena keikhlasan. Campakkan kemunafikan, sebab itu adalah kekafiran."
Menurut pandangan Aisyah al-Ba'uniya, orang yang tenggelam dan larut dalam kecintaan kepada Allah SWT adalah mereka yang matanya dibanjiri oleh air mata dan yang hatinya lembut.
Sejarawan Ibnu al-Imad al-Hambali menyebutkan bahwa Aisyah al-Ba'uniya adalah seorang syaikhah salehah, sastrawan, cendekia, dan wanita tercerdas. Maka dari itu, UNESCO mengumumkan 2006-2007 sebagai tahun peringatan internasional untuk memperingati 500 tahun kelahiran Aisyah al-Ba'uniya.
Itulah sedikit kisah seorang sufi perempuan yang tidak kalah terkenal dari Rabi'ah Al Adawiyah, yaitu Aisyah al-Ba'uniya.
