Konten dari Pengguna

Kisah sebelum Hijrah berhijab Menyelami Dunia Tari

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Assalamu’alaikum , pada artikel ini aku ingin sharing tentang pengalaman aku dalam dunia seni tari, darimana aku belajar, aku pernah show dimana saja, dan barangkali insyaallah akan bermanfaat untuk ukhti yang juga sama seperti aku menyukai dunia seni tari. Oh ya perlu diingat kisah perjuangan aku ini dari sebelum aku mengenakan hijab.

Kisah sebelum Hijrah berhijab Menyelami Dunia Tari
zoom-in-whitePerbesar

Drama Musikal di JCC | @nadiaendikaputri

Aku mencintai seni tari sejak SD, tidak pernah ada absen untuk mengikuti kegiatan tari yang ada di sekolah maupun diluar sekolah. Entah kenapa menari itu bagai darah yang mengalir di dalam tubuh, tidak bisa dihentikan karena akan berakibat fatal jika dia menggumpal atau berhenti. Masuk ke SMP pun begitu aku aktif dalam kegiatan seni tari. Semua mulai menjadi serius saat SMA. Ketika SMA aku tergabung dalam ektrakulikuler tari saman. Kebetulan pelatihku saat SMA adalah orang yang sangat profesional dibidang tari saman, dia juga merupakan bagian dari tari saman di Taman Mini Indonesia Indah.

Tim sekolahku sangat giat berlatih, dari yang tadinya tidak pernah menang lomba sampai berturut turut menjuarai berbagai ajang perlombaan tari saman. Tim sekolahku juga menjadi sekolah yang sangat diperhitungkan saat mengikuti lomba tari saman. Puncaknya ketika tim dari sekolahku ikut berpartisipasi dalam pemecahan rekor muri.

Kisah sebelum Hijrah berhijab Menyelami Dunia Tari (1)
zoom-in-whitePerbesar

Pemberian Piagam Rekor Muri | @nadiaendikaputri

Dari yang pada awalnya sekolah tidak memberikan dana, bahkan tidak mendukung, bahkan sulit sekali memberikan kami izin untuk menggunakan ruang kelas sebagai tempat latihan sampai mereka bangga dengan perjuangan tim saman kami. Dahulu kami berjuang sendiri untuk memenuhi kostum, dan membayar pelatih. Sampai akhirnya kami diberikan bantuan dari sekolah setelah banyak memenangkan lomba .

Setelah lulus SMA seperti yang aku ceritakan pada artikel sebelumnya aku mencari kampus yang kegiatan tari nya bagus. Pada awalnya aku menyangka di kampus tersebut ada tari tradisionalnya. Ternyata aku salah, tapi sudah terlanjur mendaftarkan diri. Karena memang untuk masuk ke kegiatan tari di kampus ini tidak main-main. Mereka menggelar proses audisi. Dari ratusan mahasiswa mereka hanya mengambil 40 orang. Dan fokus mereka di modern dance yang sangat jauh dari ranah tari duniaku.

Tetapi aku berpikiran mungkin juga ini kesempatan aku untuk mempelajari jenis tarian baru. Akhirnya bermodalkan nekad aku mempelajari modern dance secara kilat dengan lihat youtube.aku menciptakan koreografi semampuku tetapi tetap yang menurutku terbaik. Dan alhamdulillah aku berada di urutan ke 6 dalam 40 orang yang lolos diterima.

Mulailah masuk pembagian tim. Aku masuk kedalam tim pemula. Didalam tim tersebut kami “digodok” untuk menjadi dancer profesional, diajarkan berbagai macam jenis tarian modern dance. Kalau aku pribadi dari yang tadinya badan aku kaku, aku bahkan tidak bisa split. Sampai split dan freebalance sudah menjadi makanan sehari-hariku. dari tadinya ketakutan sampai menangis ketika di lifting yaitu diangkat-angkat badan kita dilempar-lempar. Sampai pasrah yasudahlah angkat saja kalau jatuhpun yasudah jatuh saja. Dari awalnya keseleo merupakan “siksaan” lahir batin sampai aku bisa dalam keadaan kaki keseleo besok nya tetap perform. karena tim kami memang sering lomba dan dipanggil perform di berbagai acara besar.

Tetapi aku sangat menikmati semua proses tersebut kuncinya karena aku sungguh mencintai seni tari. Puncaknya ketika aku diberikan kesempatan untuk menjadi pemeran utama dalam drama musikal yang ditampilkan dalam inagurasi di JCC. Aku sampai mengundang kedua orangtuaku untuk datang melihat aku beraksi diatas panggung JCC.

Setelah lulus kuliah aku mulai mencoba terjun ke dunia tari yang sesungguhnya bergelut dengan dancer profesional. Dancer-dancer itu, Mereka sungguh luar biasa, daya tangkapnya begitu cepat. Jika ada show biasanya persiapannya hanya 1 hari dibabat habis semua koreografi. Pada awalnya aku sampai sakit kepala mengikuti pola latihan mereka. sampai akhirnya mulai terbiasa. Lalu akupun sempat ikut kembali di drama musikal Usmar Ismail.

Sempat mengisi sebagai dancer untuk show di stasiun televisi. namun tidak lama setelah aku lulus alhamdulillah hidayah itu datang dan aku mantab menggunakan hijab. Sejak saat itu aku berhenti menari untuk industri karena memang tidak ada dancer untuk perform di televisi yang menggunakan hijab. Lumayan terpukul karena seperti yang aku bilang, menari itu bagai darah yang mengalir untukku.

Akhirnya aku tetap menari tetapi dalam lingkup yang lebih kecil. aku menari bersama teman-teman seniorku di saat dulu aku berada di tim kampus. Aku tetap menari agar tubuhku bugar. Kalau dulu untuk mencari nafkah sekarang fokusnya untuk olahraga. Tetapi pernah sejak pakai hijab aku mengisi kembali satu acara di salah satu stasiun televisi. itu cukup menjadi angin segar untuk aku.

Kisah sebelum Hijrah berhijab Menyelami Dunia Tari (2)
zoom-in-whitePerbesar

Performance untuk salah satu stasiun televisi nasional | @nadiaendikaputri

Dan sepertinya sekalipun aku tidak lagi menari di depan orang banyak aku akan tetap menari untuk diriku sendiri. Selain untuk olahraga, dan kesehatan aku tidak ingin menghilangkan passion dan semangat menari yang ada di dalam dirikku. Jika ada diantara para pembaca yang juga menyukai seni tari boleh kapan-kapan kita kumpul dan nari bareng “cari keringat” dan sharing-sharing tentang dunia tari kalian. Aku akan sangat senang untuk mendengarkan cerita dari sisi kalian. Bagaimana kalian tetap menjaga kecintaan kalian terhadap passion yang kalian miliki.