Kisah Tai Tsung dalam Dinasti Tang (618-907)

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kota yang dikelilingi sebuah benteng didaerah utara terdapat pemuda yang sedang memikirkan berita yang dengar setiap hari. Salah satunya provinsi-provinsi sebelah utara terjadi pemberontakan dan gerombolan perampok yang mengacaukan daerah tersebut, sedangkan Kaisarnya sedang bersenang-senang merencanakan perjalanan.
Setelah negeri pecah oleh bangsa Tartar, kerajaan pusat (Tiongkok) dikuasai oleh kaisar Tionghoa yang bersifat angkara murka, kejam dan mementingkan diri sendiri.
Pemuda itu membayangkan kerajaan Yao, Shun, Wu Wang dan kerajaan yang ada di dinasti Han selalu kerajaannya aman, penduduknya giat, negeri diperintah oleh orang yang jujur dan kuat, sehingga rakyat tidak merasa diperintah serta rakyat hidup sebagai keluarga besar yang menghormati orangtua dan nenek moyangnya.
Foto: Ilustrasi Kekaisaran Tiongkok | www.flickr.com by vanhalligan
Raja disebut “Putera Tuhan” orang yag memerintah dan melindungi rakyatnya sesuai Tao (jalan) serta menjalankan kewajiban yang dipercayakan oleh Tuhan dengan jujur dan bijaksana. Pemuda yang membayangkan itu kemudian pergi menuju rumah ayahnya dan menceritakannya.
Mereka ini adalah keturunan keluarga Li. Ayahnya adalah pangeran Tang dan anaknya bernama Li-Shi-min. Ayahnya sebagai pemmpn yang akan melakukan pemberontakan terhadap Kaisar untuk mengusir dari tahta kerajaan dengan membentuk tentara sebesar 30.000 orang prajurit dan ditambah orang Tartar.
Dengan barisan ini Chang-an (ibukota) dapat direbut. Dengan demikian, kaisar Yang Ti tidak mampu menghadapi tentara dan melarikan diri, sedangkan ayah Li-Shi-min diangkat menjadi kaisar dengan menamakan dinasti Tang.
Foto: Ilustrasi Kekaisaran Tiongkok | www.flickr.com by Max-Leonhard von Schaper
Dinasti Tang mulai memerintah tahun 618 dengan waktu enam tahun.mengamankan seluruh negeri yang dikerjakan oleh Li-Shi-min sebagai panglima dan seorang prajurit yang gagah berani.
Dalam peperangan dia berlaku adil dan jujur, maka pasukan yang kalah dilucuti dan pulang kembali. Akhirnya kerajaan aman dan menguasai daerah yang membentang dari Tembok Raksasa sampai Canton, kemudian dari Laut sebelah timur sampai Gapura Berlian.
Li-Shi-min bersama prajurit-prajuritnya pulang ke Chang menumpaki kuda dengan senjata yang lengkap, berpakaian perwira dari perak dan topi baja yang berbulu. Kemudian Li-Shi-min disambut oleh rakyatnya dengan menyanyikan lagu dan tempik sorak. Li-Shi-min yang telah mempersatukan dan mengamankan kerajaan. Dengan demikian, dua tahun setelah negeri aman ayahnya mengundurkan diri dari tahtanya dan menyerahkan kepada Li-Shi-min yang berumur tiga puluh tahun, kemudian menamakan dirinya Tai Tsung.
Kemudian Tai Tsung memanggil pujangga dan orang cerdik, pandai diistana untuk saling bertukar pikiran dalam membangun kerajaan yang berdasarkan cara-cara kuno. Kenginan Tai Tsung ialah mengikuti jejak dan contoh raja-raja yang bijaksana dari zaman lampau. Dia percaya kepada ajaran Confucius dan tidak membutuhkan agama lain.
Diolah dari: Seeger, Elizabeth. 1952. Sedjarah Tiongkok Selajang Pandang. Jakarta: J.B. Wolters
