Konten dari Pengguna

Kondisi Demografis Wilayah Asia Selatan

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat awal di Asia Selatan bermukim di tepi Sungai Gangga dan Indus. Peradaban pertamanya muncul di Lembah Sungai Indus, kini berada di wilayah Pakistan. Dua kota terbesar di Lembah Sungai Indus sekitar tahun 2000 SM adalah Mohenjo-Daro dan Harappa, masing-masing berpenduduk sekitar 40.000 jiwa.

Keduanya termasuk kota terbesar yang ada di dunia, di atasnya terdapat satu lumbung besar yang oleh penduduknya digunakan menjadi semacam sebuah bank sentral padad zaman itu. Benteng di Mohenjo-Daro memiliki fasilitas pemandian untuk pribadi maupun untuk umum, serta tempat pertemuan.

Kondisi Demografis Wilayah Asia Selatan
zoom-in-whitePerbesar

Foto: Bangunan di Asia Selatan | www.pexels.com by Roney John

Bangunan terbuat dari batu bara yang dibakar di atas panggangan dengan menggunakan kayu bakar. Para petani di Lembah Sungai Indus menanam padi-padian, gandum, kapas, melon, dan kurma. Gajah dan kerbau digunakkan untuk bekerja di lading, daerah tersebut memiliki banyak pengrajin gerabah yang terampil, menggunakan roda untuk membentuk gerabah, suatu teknologi baru pada zaman itu.

Penduduk Harappa menggunakan perkakas batu serta membuat pisau, senjata, mangkuk, dan patung dari perunggu. Mereka memiliki sistem pembuangan limbah yang telah maju, termasuk membangun saluran pembuangan tertutup dan instalasi limbah sampah. Kawasan ini memiliki sejumlah persamaan dengan Sumeria, walaupun terdapat juga perbedaan besar. Penduduk kota berdagang dengan kota-kota di Sumeria.

Kondisi Demografis Wilayah Asia Selatan (1)
zoom-in-whitePerbesar

Foto: Bangunan di Asia Selatan | Pixabay.com

Mereka juga berdagang dengan suku-suku yang menghuni India dan Asia Tengah. Tidak seorang pun yang mengetahui alasan kepunahannya yang mendadak sekitar 3.700 tahun lalu, kemungkinan penyebabnya yaitu banjir, penyakit, kemerosotan di bidang perdagangan, perekonomian maupun kemasyarakatan, imigrasi, dan pengambilalihan kekuasaan oleh Bangsa Arya yang menyerang India dari Asia Tengah.

Sekitar 3.500 tahun yang lalu, bangsa Arya sebagai pejuang dan gembala yang tangguh berpindah ke selatan menyebrangi Pegunungan Hindu Kush untuk berdiam di anak benua India. Bencana alam berupa musim kemarau atau wabah penyakit serta perang saudara memaksa bangsa Arya meninggalkan kampung halaman di Rusia Selatan.

Mereka menyebar ke Anatolia, Persia, dan India. Mereka hidup dalam rumah-rumah kayu di desa terpencil, tidak seperti penduduk kota yang tinggal di rumah-rumah berbatu bata di Lembah Sungai Indus. Orang Arya mengukur kekayaan dari jumlah ternak yang dimiliki. Sekalipun tidak semaju penduduk India, mereka lebih tangguh. Mereka dikenal sebagai prajurit dan penjudi, senang memakan daging sapid dan minum anggur serta menyukai musik, tari, dan perlombaan balap kereta perang.

Perlahan, mereka mengadopsi banyak cara penduduk asli India, yaitu menjadi petani dan pandai besi. Padi adalah salah satu tanaman yang paling banyak dibudidayakan padahal sebelumnya Bangsa Arya tidak mengenal tanaman padi, walaupun padi telah ditanam di lembah Sungai Indus.

Penggunaan bajak dan sistem irigasi memungkinkan Bangsa Arya menghasilkan cukup panen guna menopang kota besar. Pada 500 SM terdapat 16 kerajaan besar di India Utara. Kerajaan terkuat adalah Maghada, yang merupakan tempat kelahiran kekaisaran Maurya dan dua agama baru, Jain dan Budha. Bangsa Arya tidak mengenal tulisan. Seperti banyak bangsa kuno, mereka menurunkan sejarah melalui tradisi lisan. Sebagian besar dari yang sudah diketahui tentang kehidupan bangsa Arya pada zaman kuno berasal dari kitab Weda.

Dinasti Gupta menguasai India Utara pada 320 M dan tetap berkuasa selama 200 tahun, jlan mereka untuk berkuasa dibuka oleh bangsa Kush. Di wilayah Turkestan dan ke selatan wilayah Afganistan dan India terdapat bangsa Kush, suku pengembara Asia yang bermukim di Baktria (sekarang Tajikistan), pemeluk agama Budha yang mendukung sikap toleran dalam masalah sosial dan kesenian.

Mereka menguasai sebagian besar daerah perdagangan di Asia dan membentuk perdagangan stabil di kawasan itu. Para maharaja Gupta dikenal sebagai penguasa yang baik dan kuat, mengikuti jejak Asoka, mereka membangun berbagai monumen yang bertuliskan teks keagamaan di seluruh India serta membangun banyak kota dan desa baru, juga menempatkan para Brahmana Hindu sebagai penanggungjawabnya. Pertanian dan perdagangan berkembang pesat. Orang India berpindah ke Indonesia, sementara agama Budha menyebar ke Cina sehingga kebudayaan Hindu dan Budha berkembang.

Diolah dari berbagai sumber

by Sofi Solihah