Macam-macam Tidur dalam Al-Quran

All about hijab.
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agama kita memiliki berbagai macam tata cara yang harus dilaksanakan dan dihindari dalam hidup yang dapat kita temukan pada Al-Quran dan hadits. Apa yang diamanatkan adalah sesuai perintah Allah SWT agar hidup kita penuh dengan rida dan berkah dari Sang Pencipta.
Islam juga mengajarkan umatnya untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Tuhannya. Bahkan, agama Islam menganggap tidur sebagai salah satu anugerah Allah SWT. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Al-Quran:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." (QS. Ar-Rum ayat 23)
Al-Quran mendefinisikan "tidur" ke dalam arti yang beragam. Analisis mendalam dari deskripsi yang berbeda di dalam Al-Quran tentang tidur mungkin mencerminkan berbagai jenis atau tingkatan tidur yang terjadi pada manusia.
Dikutip dari US National Library of Medicine National Institute of Health, berikut ini beberapa macam tidur yang disebut di dalam kitab suci umat Islam, Al-Quran.
Sinah (tidur ringan/kantuk)
Kata "sinah" memiliki arti kantuk. Dilansir dari penelitian Syamsinar (2016) yang berjudul "Pola Tidur dalam Al-Quran", Al-Ashfahani mengartikan kata sinah yang berarti lengah/tidur ringan. Kemudian, M. Qurais Shihab menjelaskan sinah sebagai kantuk (dalam artian Allah) tidak seperti manusia yang tidak kuasa menahan kantuk dan tidak dapat mengelak dari kondisi ingin tertidur.
Selain itu, sinah didefinisikan sebagai kondisi tertidur untuk waktu yang sangat singkat setelah melakukan aktivitas yang cukup memakan tenaga. Dalam Al-Quran, tidur menyiratkan tanda bahwa tubuh perlu istirahat. Sementara Sang Pencipta tidak tidur, namun Dia membuat umat-Nya terlelap setiap hari.
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi...." (QS. Al-Baqarah ayat 255)
Nu'ass
Istilah "nu'aas" muncul dua kali dalam Al Quran untuk mendefinisikan tidur. Salah satu ayat di kitab suci meriwayatkan:
"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. Al-Anfal ayat 11)
Ayat di atas menjelaskan bagaimana tidur (nu'ass) memberi orang perasaan aman ketika menghadapi ketakutan dan stres. Sementara itu, ayat lain mengatakan:
"Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah..." (QS. Ali Imran ayat 154)
Penafsir menggambarkan kata nu'ass sebagai tidur siang singkat, yang kemungkinan merujuk ke pada keadaan tidur lebih pulas dari sinah. Baru-baru ini, para peneliti telah mendalilkan bahwa tidur siang singkat dapat mengurangi stres dan tekanan darah.
Ru'qood
Al-Quran mengisahkan tidurnya penduduk gua dalam "Kisah Ashabul Kahfi". Tujuh orang pemuda meminta pertolongan kepada Allah SWT untuk mempertahankan keimanan mereka dari Raja Decyanus yang kejam. Lalu, Dia mengarahkan mereka untuk mencari perlindungan di sebuah gua. Allah SWT kemudian membuat mereka tertidur.
"Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur (ru'qood); dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka." (QS. Al-Kahf ayat 18)
Penafsiran yang paling tepat dari istilah ru’qood adalah "tidur dalam waktu lama". Para pemuda dan seekor anjing itu telah tinggal di gua selama 309 tahun lamanya. Kisah ini juga terkenal pada literatur Kristen yang berjudul "Seven Sleepers of Ephesus".
Ho'joo
Istilah "ho'joo" menunjukkan tidur di malam hari. Al-Quran menggambarkan orang-orang beriman yang saleh dan takut kepada Allah SWT dalam ayat berikut ini:
"Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (ho'joo), dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)." (QS. Az-Zariyat ayat 17-18)
Su'baat
Adapun Al-Quran menggambarkan tidur manusia dalam satu ayat sebagai "su'baat":
"Dan Kami jadikan tidurmu (su'baat) untuk istirahat." (QS. An-Naba ayat 9)
Dalam bahasa Arab, kata su’baat berasal dari kata sabt, yang berarti memutuskan hubungan. Oleh karena itu, su’baat dapat merujuk pada pemutusan hubungan dengan lingkungan sekitar selama kondisi tidur yang dialami oleh manusia.
