Mampir ke Pantai Batu Hiu. Eh, Tidak Ada Hiu-nya

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bulan nu ngagantung di langit Batu Hiu
Tinggal sapasi, sesa purnama kamari
(Bulan yang menggantung di langit Batu Hiu
Tinggal sebagian, sisa purnama kemarin)
Begitulah dua penggalan lirik lagu yang kerap aku dengar di masa kecil. Kedua orangtuaku asli orang Sunda, karenanya tidak heran bila di rumah mereka sering menyetel berbagai lagu pop Sunda yang sedang hits pada zamannya. Seperti penggalan lagu berjudul Bulan Batu Hiu yang dinyanyikan Doel Sumbang tersebut.
Saat pertama mendengarkan lagu tersebut aku masih berusia lima tahun. Aku selalu membayangkan jika suatu hari nanti aku wisata ke Pantai Batu Hiu pastilah aku akan menemukan sekawanan hiu sedang berenang di pantai lepas.
Foto: Bersama Tim di Batu Hiu | Sofi Solihah
Belasan tahun kemudian aku baru mendapat kesempatan mengunjungi Pantai Batu Hiu. Pantai ini sebenarnya bagian dari wilayah Pangandaran. Tepatnya di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi. Tujuanku datang ke tempat ini bukan untuk wisata, melainkan karena penelitian yang harus segera kami selesaikan.
Bersama para dosen, kami awalnya melakukan penelitian di bidang bahasa. Itulah sebabnya aku dan rekan peneliti harus mampu menangani anak-anak siswa sekolah dasar. Dari mulai melakukan pendekatan, membangun interaksi, mengetahui kemampuan masing-masing, hingga mengenali individu dengan waktu singkat.
Perlu dipahami latar belakang budaya bahwa kami melakukan penelitian di Pangandaran. Dari namanya saja terdiri dari dua kosakata, pangan dan daran. Pangan artinya makanan dalam bahasa Sunda. Daran pun berarti makanan juga tetapi dalam bahasa Jawa. Berarti masyarakat di wilayah ini merupakan percampuran antara suku Jawa dan Sunda. Untuk dapat berinteraksi dengan baik aku dan rekan sesama tim harus bisa mengerti penggunaan kedua bahasa tersebut. Seperti penelitian kami yang bertema bahasa.
Foto: Meneliti Sambil Mengajar | Sofi Solihah
Setelah melakukan penelitian di sekolah-sekolah kemudian kami mencari tahu jejak budaya yang masih bertahan hingga kini. Benar saja, kami menemukan banyak kelompok seniman kuda lumping. Kelompok tersebut sudah bermukim sejak puluhan tahun secara turun-temurun. Jumlahnya pun di atas delapan puluh. Itu baru di wilayah pesisir pantai.
Selain kuda lumping, kami juga menemukan sebuah makam tokoh. Konon, katanya tokoh tersebut memiliki peran besar terhadap perkembangan wilayah Pangandaran. Kami pun mengunjungi keturunan dari tokoh tersebut. Di peristirahatan tokoh itu kami menemukan silsilah keturunan. Itu menjadi informasi penting bagi kami untuk diteliti lebih jauh.
Foto: Di Makam Seorang Tokoh | Sofi Solihah
Namun, karena keterbatasan waktu dan jarak kami harus kembali pulang ke Bandung. Sebelum pulang, dosenku mengingatkan agar tidak lupa mampir dulu ke Pantai Batu Hiu yang terkenal itu. Senangnya aku saat melihat langsung ekosistem pantai. Ini memang bukan pertama kalinya aku pergi ke pantai. Namun, masing-masing pantai memiliki ciri khas ekosistem seperti di Batu Hiu. Misalnya ubur-ubur yang terhempas ke pantai dan sejumlah pohon bakau penahan abrasi.
Nama Batu Hiu ternyata merujuk pada bentuk sebuah batu besar yang menyerupai sirip ikan hiu. Bayangan masa kecilku akan menemukan sekawanan hiu berenang di pantai lepas tidak kutemukan. Tapi aku tidak kecewa, karena bagaimanapun juga rezeki-Nya mengantarkanku wisata 'plus' setelah penat melakukan penelitian harus aku syukuri. Menapaki alam-Nya yang luas sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.
