Konten dari Pengguna

Mengenal Malcolm X, Tokoh Muslim yang Paling Berpengaruh di Amerika Serikat

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malcolm X. Foto: Wikipedia
zoom-in-whitePerbesar
Malcolm X. Foto: Wikipedia

Masalah diskriminasi di Amerika Serikat sampai saat ini masih sangatlah kental. Di mana ras kulit putih dianggap lebih unggul daripada ras kulit hitam. Contohnya saja, seperti yang dialami oleh Malcolm X.

Malcolm X dikenang sebagai tokoh kulit hitam di Amerika Serikat. Malcolm yang beragama Islam kerap disejajarkan dengan para pejuang HAM sebelum dan sezamannya, seperti Ella Baker, Marthin Luther King Jr, atau Frederick Douglass.

Sebelum dikenal dengan sebutan Malcolm X, ia dikenal dengan sebutan Malcolm Little. Ia lahir di Nebraska pada 19 Mei 1925. Sejak memeluk Islam dan menunaikan haji, Malcolm mengganti namanya menjadi El Hajj Malik el-Shabazz. Ia pun adalah seorang muslim Amerika yang bangga akan agama yang dianutnya.

Seiring berjalannya waktu, ketika Malcolm X sedang memberikan ceramah di Ballroom Audubon, Harlem, Amerika Serikat, ia tewas diberondong tembakan pada 1965. Kejadian nahas tersebut, terjadi setelah Malcolm X berselisih dengan pemimpin Natin of Islam, Elijah Muhammad. Sebelum menghadapi kematian, rumahnya bahkan sempat dibom.

Jauh sebelum dia terbunuh, seperti dilansir dari laman Gradesaver yang merangkum dari buku The Autobiography of Malcolm X, Malcolm sempat terlibat transaksi obat bius, perjudian, pemerasan, perampokan, bahkan mucikari. Ia disebut sebagai Detroit Red karena memiliki rambut kemerahan. Hingga pada akhirnya, masa kelamnya itu berakhir ketika ia mesti dipenjara pada 1946 akibat perampokan yang menargetkan warga kulit putih.

Malcolm X, Foto: Wikipedia

Selama mendekam di penjara inilah, Malcolm X mengenal suatu organisasi bernama Nation of Islam (NOI). Organisasi tersebut bergerak untuk menyebarkan ajaran Islam dan menganggap bahwa orang yang memiliki kulit putih adalah setan atau musuh. Organisasi tersebut pula dipimpin oleh Elijah Muhammad. Sejak saat itulah, kata 'X' disematkan pada namanya, yang melambangkan nama sebuah keluarga Afrika yang dia tidak pernah bisa ketahui sampai kapan pun.

Ketika bebas pada 1952, Malcolm X mulai diberikan tugas oleh Elijah Muhammad untuk menyebarkan ajaran-ajaran NOI. Mulai saat itulah, ia berbicara di depan umum, 'berdakwah' di depan gereja-gereja, dan menyebarluaskan ajaran Islam yang diajarkan Elijah. Ia pun berhasil membuahkan pengikut yang banyak, terutama pada masyarakat ras kulit hitam yang merasa putus asa karena perilaku diskriminasi.

Melalui organisasi ini pula, Malcolm X bertemu dengan Betty Sanders yang kemudian dijadikan istrinya. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki enam orang anak sebagaimana dilansir dari Heavy.

Namun sayangnya, ketika dirinya berada di masa kesuksesan, Malcolm memilih untuk keluar dari NOI lantaran kekecewaannya pada Elijah Muhammad. Ia merasa Eljah tidak melaksanakan ajaran NOI dengan baik.

Resmi keluar dari NOI, Malcolm X memutuskan untuk melaksanakan haji ke Mekkah. Di sana, ia menemukan bahwa Islam adalah solusi dari permasalahan ras yang ada di negaranya, Amerika Serikat. Semua orang di seluruh dunia, dengan warna kulit, rambut, atau apa pun berbaur menjadi satu untuk beribadah tanpa mengenal adanya perbedaan di antara satu sama lain.

Bukan semakin meredup, Malcolm X justri semakin tenar semenjak menjalankan organisasi Muslim Mosque, Inc yang didirikannya. Justru hal tersebut memancing kemarahan Elijah. Bahkan pimpinan NOI itu melancarkan ancaman kematian terhadap Malcolm. Maka, tepat pada 21 Februari 1965, Malcolm yang sedang menjadi ceramah, tewas akibat tembakan.

Jasa-jasa Malcolm untuk menaikkan derajat ras kulit hitam dan menyebarkan agama Islam patut dihargai. Di sinilah mulai banyak bermunculan film dan buku otobiografi Malcolm X dibuat.

Semoga perjuangan Malcomlm X dapat menginsipirasi masyarakat di masa depan dan berani dalam menegakkan hak-hak, terutama keyakinan bahwa setiap manusia yang ada di bumi ini itu setara.