Pakaian Dari Daun Hingga Sutra dan Transportasi Dari Jalan Kaki Sampai Naik

All about hijab.
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pakaian
Pada perkembangan sosial, pakaian tidak hanya berfungsi menutupi tubuh, tetapi telah berkembang menjadi benda-benda kesenian seperti yang dijual di Pasar Klewer Solo, atau di butik-butik di Paris, Perancis, kemudian pakaian juga bagian terpenting dalam sistem agama, misalnya kain ihram yang digunakan saat menjalankan ibadah haji umat Islam.
Dari aspek bahannya, pakaian bisa terbuat dari daun-daunan, kulit binatang, kulit bambu, atau kulit pohon. Masyarakat Jawa yang mengenal teknik batik memakai baju yang warna dan motifnya sangat beragam, J.E. Nasper dan M. Pirngadie adalah beberapa antropolog yang melakukan studi tentang batik.
Foto: Pakaian Modern | www.pexels.com by Kai Pilger
Dari fungsinya, pakaian dikelompokan ke dalam empat golongan sebagai penahan pengaruh alam, sebagai lambang keunggulan dan gengsi, misalnya pada model pakaian orang-orang Indian yang didominasi oleh tulang dan bulu unggas biasanya dikenakan oleh kepala suku, lalu sebagai lambang kesucian, biasanya dikenakan saat upacara keagamaan dan sebagai perhiasan badan umumnya mengedepankan konsep estetika misalnya saat menghadiri upacara perkawinan. Masalah yang berkaitan dengan pakaian masyarakat tradisonal adalah ancaman kepunahan sebagaimana teknologi dan peralatan hidup lainnya yang telah punah.
Ketika masyarakat telah melakukan kontak budaya dengan masyarakat lainnya yang lebih maju terdapat kecenderungan cara berpakaian yang sama, misalnya sama-sama mengenakan jas, celana jeans, baju berdasi, t-shirt, dan sebagainya. Meskipun begitu, pada masyarakat modern terdapat kecenderungan kembali kepada masa lampau dengan cara semakin sedikit bagian tubuh yang ditutupi.
Transportasi
Masyarakat berburu mencari binatang buruannya atau mencari pangan di hutan dengan berjalan kaki, kemudian menemukan konsep sandal untuk melindungi kaki dari benda-benda tajam, dan ini banyak ditemukan pada suku Bangsa Eropa, Asia, Amerika Tengah dan Selatan. Namun, sampai sekarang masih dijumpai kelompok masyarakat yang berjalan kaki untuk menuju suatu tempat diantaranya karena tidak mengenal transportasi (orang-orang di pedalaman Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra) lalu adanya aturan adat yang melarang hal itu.
Foto: Transportasi Modern | www.pexels.com by Anugrah Lohiya
Jenis transportasi masyarakat di daerah pantai/sungai tentunya berbeda dengan masyarakat daerah pegunungan. Pada masyarakat tradisional transportasi dapat berupa sepatu, binatang, alat seret, rakit, perahu, alat-alat tenaga manusia atau binatang. Berbagai alat transportasi tersebut biasanya memiliki keterbatasan ruang dan waktu, berbeda dengan alat transportasi modern yang mampu menaklukkan ruang dan waktu, contohnya Pesawat Concorde, Pesawat Ulang-Alik Discovery, bahkan pesawat terbang dengan kecepatan 2000 km/jam mampu melewati batas waktu.
Namun, bukan berarti seluruh alat transportasi menjadi punah dan tidak dipakai lagi, kereta Onta di kawasan wisata Taj Mahal India, Becak di kawasan Malioboro, Kereta Kuda di sekitar Monas dan di bundaran Kota Malang, Kuda di Padang Pasir Gunung Bromo menjadi pendapatan dari pariwista di kota-kota besar tersebut.
By Sofi Solihah
Sumber:
Suhamihardja, Agraha Suhandi. 1997. Pola Hidup Masyarakat Indonesia. Bandung : Fakultas Sastra, UNPAD.
Ekadjati, Edi S. 1995. Kebudayaan Sunda (suatu pendekatan sejarah). Jakarta : Pustaka Jaya.
Mardjono, Ig dan Djoko Pranowo. 2000. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : PT. Pramator
