Konten dari Pengguna

Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil di Bandung-1

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Desember 1950 Raymond Westerling membentuk suatu kelompok yang disebut dengan Angkatan Perang Ratu Adil atau APRA kemudian 5 Januari 1950 ia menulis surat kepada Soekarno agar APRAnya diakui sebagai tentara resmi Negara Pasundan. Bila tidak, ia akan menyerang Bandung dan Jakarta. Kemudian tanggal 23 Januari gerakan APRA terjadi di Bandung dengan mengerahkan sekitar delapan ratus tentara bekas KNIL, tentara Belanda, dan anggota pasukan berbaret hijau menyapu Bandung, dalam serbuan ini korban jatuh di pihak TNI sebanyak seratus orang.

Aksi itu nyaris tanpa perlawanan karena tak terduga, ditambah lagi ada janji dari Kepala Staf Divisi Belanda di Bandung bahwa pasukannyalah yang bertanggung jawab atas kemanan kota.

Pagi buta menjelang subuh, Polisi Negara di pos penjagaan Cimindi dan Cibeureum dilucuti oleh sekelompok orang berpakaian tentara dan bersenjata.

Foto: Ilustrasi Perang Pasca Kemerdekaan | www.flickr.com by boobook48

Tampak pula beberapa orang berjalan kaki, kemudian korban pertama jatuh di Jalan Banceuy, ketika itu sebuah jip disetop oleh gerombolan ini. Pengendaranya ternyata seorang anggota TNI yang kemudian diperintah turun, digertak, disuruh angkat tangan, sebelum akhirnya ditembak.

Di Jalan Braga, sebuah sedan dihentikan, penumpang sedan tersebut diminta turun yang diantaranya seorang Letnan TNI, tanda pangkat letnan itu dilepas paksa, lalu disuruh berdiri di pinggir jalan dan dihajar peluru, di Jalan Merdeka sempat ada perlawanan, tetapi sekitar lima belas menit kemudian tembak-menembak berhenti, sepuluh anggota TNI gugur saat itu juga.

Foto: Ilustrasi Perang Pasca Kemerdekaan | www.flickr.com by boobook48

Sementara itu, di Staf Kwartir Divisi Siliwangi di Jalan Lembong Sekarang, Letkol Sutoko, pimpinan Staf Kwartir ragu akan berbuat apa karena ia tahu kekuatan TNI tak seimbang dengan kekuatan musuh pemberontak, belum sempat keputusan diambil beberapa puluh serdadu menyerbu. Beruntung, Letkol Sutoko dan dua perwira lainnya berhasil lolos dari kepungan. Markas Siliwangi dikuasai APRA

Di jalan ini juga korban lain jatuh, ketika Letkol Lembong mendengar suara tembakan, ia dan ajudannya bergegas mengendarai mobil untuk mencari tahu apa yang terjadi. Namun, di pintu gerbang ia diberondong peluru sehingga tewas, itulah sebabnya mengapa jalan tersebut dinamakan Jalan Lembong.

Pada saat kejadian itu berlangsung, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Sadikin sedang berada di Subang, 60 km dari Bandung, bersama Gubernur Jawa Barat, Sewaka. Mendengar peristiwa APRA di Bandung, dua pejabat itu langsung berunding. Gubernur Sewaka kemudian berangkat ke Jakarta, menghadap Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.