Konten dari Pengguna

Rasa Malu dan Kumpulan Dalilnya

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak Pemalu. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak Pemalu. Foto: Shutterstock

Rasa malu penting untuk dipelihara dan dijaga oleh setiap manusia agar terhindar dari perbuatan tercela. Sebab, seseorang yang memiliki rasa malu tidak akan melakukan perbuatan buruk, seperti mencuri, mengonsumsi miras, atau berzina. Kendati pun perbuatannya tidak diketahui orang-orang, ia pasti memiliki rasa malu kepada Allah SWT yang Maha Mengetahui.

Dalam suatu hadis, Rasulullah SAW pernah menyebut bahwa rasa malu adalah sebagian dari iman. Ajaran Islam menempatkan rasa malu sebagai baian yang menyusun cabang keimanan seseorang.

"Iman mempunyai enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan 'Laa ilaaha illallaah,' dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang iman." (HR Imam Al Bukhari No 9)

Berikut beberapa hadis yang menjelaskan tentang keutamaan dan perhatian Islam terhadap sifat malu, antara lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيـمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيـمَانِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, "Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman." (HR Bukhari 8)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَشَـجِّ الْعَصَرِيِّ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُـحِبُّـهُمَا اللهُ الْحِلْمَ وَالْحَيَاءَ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al Asyaj Al ‘Ashri, "Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah; sifat santun dan malu." (HR Ibnu Majah 4178)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ

Dari Anas ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah sifat buruk berada dalam sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya." (HR Tirmidzi 1897, menurutnya hadis ini Hasan Gharib)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيـمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْعَظْمِ عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيـمَانِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Iman itu ada tujuh puluh cabang, yang paling afdhal adalah LAA ILAAHA ILLAALLAH dan yang paling rendah adalah menyingkirkan tulang dari jalan, dan malu adalah bagian dari keimanan." (HR Abu Daud 4056)

عَنْ أَبُو مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

Dari Abu Mas’ud ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya diantara yang didapatkan manusia dari perkataan (yang disepakati) para Nabi adalah; “Jika kamu tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu"." (HR Bukhari 3225, Ibnu Majah 4173, Ahmad 16470)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim, ia berkata:

, اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ

Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna." (HR Al Hakim)

Jadi, orang yang memiliki sifat malu, inshaallah kebaikan akan selalu datang menghampiri dan membantunya dalam menghindari untuk melakukan perbuatan buruk dan dosa.