Konten dari Pengguna

Ketika Ejekan Menjadi Luka: Refleksi Psikologi Pendidikan di Kampus

Hikmah Alfiah

Hikmah Alfiah

Mahasiswi program studi pendidikan Ekonomi Di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hikmah Alfiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
pexels.com

Kasus tragis mahasiswa FISIP Universitas Udayana yang mengakhiri hidupnya setelah menjadi bahan ejekan di grup mahasiswa mengguncang banyak pihak. Di balik candaan yang dianggap ringan, ternyata tersimpan luka mendalam yang tak terlihat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tak hanya berbicara soal nilai dan prestasi, tetapi juga tentang kesehatan mental dan empati antarindividu. Psikologi pendidikan menegaskan bahwa kesejahteraan emosional adalah bagian penting dari proses belajar. Tanpa itu, pendidikan kehilangan makna kemanusiaannya.

Ejekan, sekecil apa pun, dapat menimbulkan luka psikologis, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan atau krisis diri. Dalam konteks kampus, bullying digital menjadi tantangan serius. Grup percakapan dan media sosial sering kali menjadi ruang di mana batas antara bercanda dan merendahkan menjadi kabur.

Bagi korban, satu komentar atau emoji bisa terasa seperti serangan terhadap harga diri. Sayangnya, banyak kampus belum memiliki sistem yang kuat untuk mencegah dan menangani tekanan psikologis mahasiswa. Layanan konseling sering kali hanya formalitas, padahal perannya vital dalam menjaga kesehatan mental civitas akademika.

Kampus semestinya menjadi ruang aman yang mendukung tumbuhnya empati. Dosen dan teman sebaya dapat berperan penting dengan lebih peka terhadap perubahan perilaku mahasiswa. Satu kalimat dukungan atau ajakan bicara bisa menyelamatkan nyawa.

Pendidikan bukan hanya soal mencetak sarjana, tetapi membentuk manusia yang memahami manusia lain. Tragedi ini seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kata-kata memiliki kekuatan — bisa menguatkan, tetapi juga bisa melukai.

Mari belajar menahan lidah, menumbuhkan empati, dan menghadirkan pendidikan yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menyembuhkan.