Konten dari Pengguna

Menelusuri Jejak Soekarno di Banceuy: Dari Sel Sempit Lahir Indonesia Menggugat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hikmal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tampak depan Monumen Penjara Banceuy (Foto: Dok.Pribadi 21/09/26)
zoom-in-whitePerbesar
Tampak depan Monumen Penjara Banceuy (Foto: Dok.Pribadi 21/09/26)

Pernah kepikiran nggak sih, gimana beratnya jalan Soekarno buat merdekakan Indonesia? Perjalanannya itu jauh dari kata mulus, beliau sampai bolak-balik dijebloskan ke penjara. Salah satu kisah yang paling ikonik tuh terjadi pas beliau menjabat sebagai ketua PNI (Partai Nasional Indonesia).

Ceritanya bermula tanggal 4 Juli 1927 di Bandung, waktu Bung Karno mendirikan PNI bareng teman-teman dari Algemeene Studienclub (ASC) dan para alumni Perhimpunan Indonesia dari Belanda. Waktu itu pendirinya ada delapan tokoh hebat, yaitu Ir. Soekarno sendiri sebagai ketua, terus ada Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo, Mr. Sunario Sastrowardoyo, Mr. Sartono, Mr. Budiarto Martoatmodjo, Dr. Samsi Sastrawidagda, Ir. Anwari, dan Gatot Mangkoepradja. Awalnya, partai ini dikasih nama Perserikatan Nasional Indonesia, baru deh di bulan Mei 1928 namanya diganti jadi Partai Nasional Indonesia.

Nah, dari semua kegiatan PNI, pemerintah kolonial Hindia Belanda itu paling benci kalau mereka udah bikin rapat akbar atau mobilisasi massa. Soalnya, orasi-orasi di rapat itu dianggap radikal, bernada hasutan, dan bawa asas non-kooperatif. Kamu pasti tahu kan gimana jagonya Soekarno kalau lagi pidato? Retorikanya itu bisa narik massa buat kumpul di rapat-rapat umum (openbare vergadering) dan ngebakar semangat anti-kolonialisme mereka. Alhasil, pidato-pidato Soekarno ini dianggap sama Belanda sebagai tindakan menghasut rakyat (haatzaai artikelen) buat ngelawan penguasa.

Karena pengaruh Soekarno yang makin besar ini, pemerintah kolonial jelas merasa terancam. Mereka nggak mau tinggal diam ngelihat semangat rakyat mulai bangkit. Puncaknya ada di pertengahan Desember 1929. Waktu itu, Soekarno bareng beberapa tokoh pergerakan pergi ke Yogyakarta. Tujuannya buat hadir di Kongres PPPKI (Permusyawaratan Partai-Partai Politik Kebangsaan Indonesia), bikin rapat umum, sekalian konsolidasi sama pengurus PNI cabang sana buat galang dukungan. Selama di Jogja, mereka numpang menginap di rumah Mr. Sujadi.

Tapi ternyata, orasi-orasi berapi-api di Jogja itu udah dipantau tajam sama dinas intelijen kolonial (PID). Mereka menilai pergerakan ini sangat berbahaya dan bisa memicu pemberontakan rakyat. Gara-gara itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A.C.D de Graef, langsung ngirim instruksi lewat telegram rahasia dari Batavia ke aparat kepolisian di Jogja untuk menangkap pimpinan PNI serentak.

Kejadiannya subuh-subuh, tanggal 29 Desember 1929. Kediaman Mr. Sujadi tiba-tiba digerebek dan dikepung rapat sama polisi kolonial. Mereka menggeledah seluruh isi rumah dan menyita banyak dokumen penting. Di subuh kelabu itu, Soekarno ditangkap bareng tiga tokoh PNI lainnya, yaitu Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadiredja, dan Soepriadinata.

Pintarnya Belanda, mereka sengaja nggak menahan Soekarno di Jogja karena takut memicu unjuk rasa atau kerusuhan pengikut PNI di sana. Jadi, pagi harinya keempat tokoh ini langsung digiring ke Stasiun Yogyakarta dengan pengawalan super ketat. Mereka dimasukin ke dalam gerbong kereta api yang dikunci dan ditutup rapat untuk dibawa ke Bandung. Uniknya, mereka nggak diturunkan di Stasiun Bandung lho, melainkan di Stasiun Cicalengka secara diam-diam. Belanda sengaja mengalihkan rute karena takut kalau turun di Bandung, ribuan simpatisan bakal ngumpul dan bikin kerusuhan atau nyoba ngebebasin mereka.

Gerbang Situs Sel Penjara Banceuy (Foto: Dok. Pribadi)

Dari Cicalengka, mereka diangkut pakai mobil tahanan polisi tertutup dan dikawal ketat menuju pusat kota Bandung, langsung masuk ke Penjara Banceuy tanpa ketahuan masyarakat luas. Pas sampai sana, direktur penjara udah menyambut mereka bareng tentara Hindia Belanda yang bersenjata lengkap. Ternyata, Banceuy saat itu juga udah penuh sama para penggerak lain yang ikut terjaring razia besar-besaran, kayak Marwoto, Suka, Subagio, sampai Ishaq Tjokrohadisudirjo.

Di Banceuy inilah Soekarno dijebloskan ke Sel Nomor 5. Coba bayangin, selnya itu cuma kamar sempit berukuran 2,5 x 1,5 meter, atapnya rendah, nggak ada jendela yang tembus keluar, dan cuma diterangi dari satu lubang angin kecil. Di tempat pengap inilah Bung Karno harus mendekam selama 8 bulan sebelum akhirnya disidang di Pengadilan Landraad Bandung. Di buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2007), beliau pernah cerita,

"Begitu aku masuk, rambutku dipotong pendek sampai hampir gundul dan aku disuruh memakai seragam tahanan berwarna biru dengan nomor di punggungnya."

Selama ditahan, Soekarno bener-bener dibatasi dari informasi luar. Tapi, di sinilah peran besar sang istri, Ibu Inggit Ganarsih. Beliau jadi jembatan penyelamat buat Soekarno. Dengan berani, Ibu Inggit menyelundupkan surat kabar, buku-buku referensi, sampai catatan data statistik ekonomi kolonial. Caranya pintar banget, bahan-bahan itu disembunyikan di balik lipatan kain kembennya atau diselipin ke dalam makanan kayak telur rebus dan kue kering tiap kali menjenguk. Pengorbanan dan kesetiaan Ibu Inggit ini nggak cuma sekali, beliau rutin ngirim makanan tiap hari sambil bawa kabar dari luar buat Soekarno.

Berbekal info selundupan itu, tiap malam menjelang persidangan, Soekarno duduk bersila menyusun naskah pidato pembelaannya. Karena di selnya nggak ada meja atau kursi, tebak beliau pakai alas apa buat menulis? Kaleng tempat buang air! Soekarno curhat di bukunya,

"Aku tidak punya meja untuk dapat bekerja dengan enak, selain daripada tempat tidur, satu-satunya perabot yang ada dalam selku adalah sebuah kaleng tempat buang air. Kaleng yang menguapkan bau tidak enak itu adalah perpaduan dari tempat buang air kecil dan tempat melepaskan hajat besar.. Aku menyediakan kertas dari rumah. Tinta dari rumah. Sebuah kamus dari perpustakaan penjara. Pekerjaan ini sungguh meremukkan tulang punggung."

Akhirnya, tiba juga hari persidangan di tanggal 18 Agustus 1930. Soekarno dan ketiga rekannya disidang di Landraad Bandung (yang gedungnya sekarang kita kenal sebagai Gedung Indonesia Menggugat). Di sanalah Soekarno membacakan pembelaannya yang diberi judul "Indonesia Menggugat". Bukannya sekadar membela diri supaya bebas, Soekarno malah manfaatin panggung pengadilan kolonial itu buat membedah, mengecam, dan membongkar semua kebobrokan serta kekejaman sistem imperialisme Belanda. Isi pidatonya dengan tegas bilang kalau pergerakan PNI itu bukan aksi kejahatan atau pemberontakan segelintir orang, melainkan dampak alamiah dari kesengsaraan rakyat yang ditindas.

Proses sidangnya lumayan panjang, digelar sampai 19 kali dari tanggal 18 Agustus sampai putusan di 22 Desember 1930. Soekarno sendiri baru membacakan pidato pembelaannya (atau Indonesiƫ Klaagt Aan) pada tanggal 1 sampai 2 Desember 1930. Selama persidangan yang berkali-kali itu, Hakim Ketua Mr. R.E Siegenbeek van Heukelom sampai sering banget memotong omongan dan memperingatkan Soekarno, karena pembelaannya dianggap terang-terangan menyerang kejahatan sistem imperialisme Belanda.

Puncaknya di sidang terakhir tanggal 22 Desember 1930, Majelis Hukum Landraad Bandung menjatuhkan vonis buat keempat pimpinan PNI. Ir. Soekarno divonis 4 tahun penjara, Gatot Mangkoepradja 2 tahun, Maskoen Soemadiredja 1 tahun 8 bulan, dan Soepriadinata 1 tahun 3 bulan. Mereka divonis pakai pasal karet yang sering banget dipakai Belanda buat bungkam pejuang, yaitu pelanggaran pasal 169 KUHP serta pasal 161, 171, dan 153 yang ancaman hukumannya bisa sampai 7 tahun penjara. Setelah vonis ini jatuh, Soekarno dipindahkan dari Banceuy ke Penjara Sukamiskin buat ngejalanin masa hukumannya.

Batu yang terdapat di depan Situs Sel Penjara Banceuy (Foto: Dok. Pribadi)

Kalau kamu jalan-jalan ke Bandung sekarang, rekam jejak perjuangan beliau ini masih bisa kita temui di Monumen Penjara Banceuy, tepatnya di kawasan Braga. Memang sih, sebagian besar kompleks penjara lamanya udah dibongkar di tahun 1980-an dan beralih fungsi jadi kawasan pertokoan Banceuy Permai. Tapi masih ada sisa bangunan yang dipertahankan, salah satunya Sel Nomor 5 tempat Bung Karno ditahan. Di situ juga ada patung Soekarno yang lagi duduk baca, menggambarkan suasana sendu pas beliau nyusun pledoi "Indonesia Menggugat". Di area luarnya, satu menara pengawas tinggi dari zaman Belanda juga masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu arsitektur penjara masa lalu.

Sekarang ini, orang-orang yang datang ke sana nggak cuma cari tempat foto yang estetik aja. Banyak pengunjung yang pengen ngerasain langsung gimana merindingnya berada di tempat itu. Mereka mencari narasi yang autentik, pengen ngebayangin gimana rasanya bertahan di titik paling rendah dalam hidup lalu bangkit menjadi pemenang. Saat ini, Penjara Banceuy bukan lagi cuma tempat tua yang mati, tapi udah berubah jadi simbol daya tahan jiwa manusia yang dicari sama para penikmat makna perjalanan.

Lewat Banceuy, Soekarno membuktikan ke kita satu hal yang luar biasa: bahwa ruangan tersempit sekalipun nggak akan pernah bisa membatasi pikiran yang merdeka.