Konten dari Pengguna

Tim BBK 8 UNAIR Kedungrejo Gelar Pelatihan Pakan Ternak Alternatif & Eco Enzyme

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hikmatun Mubalighoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi kegiatan bersama narasumber dan masyarakat penerima GAYATRI
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi kegiatan bersama narasumber dan masyarakat penerima GAYATRI

Biaya pakan ternak yang terus melambung menjadi momok bagi peternak kecil di berbagai penjuru Bojonegoro, tidak terkecuali di Desa Kedungrejo, Kecamatan Sumberrejo. Persoalan ini bahkan menjadi sorotan di tingkat kabupaten, seiring berjalannya program unggulan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri), yang membagikan ayam petelur kepada ribuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sebagai sumber ketahanan pangan dan tambahan penghasilan. Sayangnya, harga pakan yang tinggi di lapangan justru mengancam keberlanjutan usaha para penerima manfaat.

Menjawab persoalan itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN BBK) 8 Universitas Airlangga hadir di Desa Kedungrejo dengan program "Pakan Ternak Alternatif Menggunakan Bahan Lokal" dan "Eco Enzyme dari Limbah Organik", yang digelar Sabtu, 1 Agustus 2026 di Balai Desa Kedungrejo.

Program Gayatri sejatinya dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendongkrak pendapatan warga melalui budidaya ayam petelur. Namun, di tengah kenaikan harga pakan komersial dan penurunan harga jual telur, banyak KPM kesulitan menjaga margin usahanya. Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) sendiri telah merancang berbagai skema, mulai dari bantuan alat pencampur pakan berbasis dana CSR hingga pelatihan pembuatan pakan semi-konsentrat, sebagai upaya menekan biaya produksi peternak.

Di titik inilah program KKN BBK 8 UNAIR menjadi pelengkap yang relevan. Pelatihan pembuatan pakan ternak alternatif dari bahan lokal memberi warga termasuk penerima manfaat Gayatri keterampilan praktis untuk meracik pakan sendiri dari bahan yang mudah didapat di sekitar rumah, tanpa harus menunggu bantuan alat atau subsidi dari pemerintah. Ini sejalan dengan semangat kemandirian yang menjadi inti dari nama "Gayatri" itu sendiri.

"Selama ini biaya pakan adalah kendala yang paling berat kami rasakan sebagai peternak. Kalau ada cara membuat pakan sendiri dari bahan yang ada di sekitar, itu sangat membantu, apalagi untuk kami penerima bantuan ayam petelur," ujar salah satu warga peserta pelatihan.

Sementara itu, penanggung jawab program dari mahasiswa KKN BBK 8 UNAIR menyampaikan, "Kami melihat langsung keluhan warga soal mahalnya pakan, termasuk yang menerima bantuan program Gayatri. Karena itu kami fokuskan pelatihan pada pakan alternatif berbahan lokal, supaya ilmunya bisa langsung dipraktikkan dan menekan biaya produksi harian."

Selain pakan alternatif, program ini juga membekali warga dengan keterampilan mengolah limbah organik rumah tangga menjadi eco enzyme cairan fermentasi yang bermanfaat sebagai pupuk cair, pembersih alami, hingga pengusir hama. Limbah dapur dan sisa panen yang selama ini terbuang percuma kini bisa diolah menjadi produk yang mendukung aktivitas rumah tangga sekaligus pertanian.

Program ini selaras dengan sejumlah target Sustainable Development Goals. Efisiensi biaya pakan mendukung SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan usaha ternak skala rumah tangga, sekaligus SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dengan menjaga keberlanjutan produksi telur sebagai sumber pangan bergizi yang selaras dengan tujuan awal program Gayatri. Pengolahan limbah organik menjadi eco enzyme mendukung SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), serta SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengurangan limbah organik yang membusuk dan mencemari lingkungan.

Kolaborasi antara program pemerintah seperti Gayatri dan inisiatif akademik seperti KKN BBK 8 UNAIR menunjukkan bagaimana persoalan besar mahalnya biaya pakan ternak bisa dijawab dari langkah-langkah kecil di tingkat desa. Tantangan ke depan adalah memastikan keterampilan ini terus dipraktikkan warga secara mandiri, agar bukan hanya menjadi solusi sesaat, melainkan kebiasaan baru yang memperkuat kemandirian peternak Kedungrejo dalam jangka panjang.