Candi Pari: Jejak Majapahit yang Menyimpan Kisah di Balik Kemegahan Bata Merah

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hilda Amalia Akhmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau mendengar kata Majapahit, yang terlintas di pikiran mungkin adalah kerajaan besar dengan wilayah kekuasaan yang luas.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, sebuah bangunan bata merah masih berdiri dan menjadi pengingat bahwa wilayah ini juga memiliki cerita panjang dari masa Majapahit.
Namanya Candi Pari.
Berdiri di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, candi ini menjadi salah satu peninggalan sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Bentuk bangunannya yang tampak sederhana membuat kita dapat melihat potongan sejarah yang telah bertahan selama berabad-abad.
Berdiri Sejak Masa Majapahit
Candi Pari diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit. Berdasarkan keterangan yang tercatat dalam sumber kebudayaan, pada bagian candi terdapat angka tahun 1293 Saka atau 1371 Masehi.
Bayangkan, bangunan ini telah ada ketika kehidupan masyarakat Jawa masih sangat berbeda dengan sekarang. Belum ada jalan raya seperti yang kita kenal, belum ada kendaraan bermotor, dan tentu saja belum ada teknologi digital.
Namun, sebagian struktur Candi Pari masih dapat kita lihat hingga saat ini.
Bata demi bata seolah menjadi penghubung antara kehidupan masyarakat masa kini dengan masa ratusan tahun yang lalu.
Mengapa Namanya Candi Pari?
Nama Candi Pari juga tidak dapat dilepaskan dari cerita yang berkembang di masyarakat.
Salah satu kisah yang dikaitkan dengan Candi Pari adalah cerita mengenai Jaka Pandelegan, Nyai Walang Angin, dan lumbung padi. Cerita tersebut berkembang sebagai bagian dari tradisi tutur yang menyertai keberadaan candi.
Namun, cerita rakyat dan bukti sejarah perlu dibedakan.
Cerita yang berkembang di masyarakat merupakan bagian dari warisan budaya yang menarik untuk diketahui, sedangkan informasi mengenai usia, struktur, dan karakter bangunan dapat dikaji melalui sumber sejarah serta arkeologi.
Justru perpaduan antara keduanya membuat Candi Pari menjadi menarik.
Ada bangunannya, ada data sejarahnya, dan ada pula cerita yang terus diwariskan.
Pesona Bata Merah yang Bertahan Ratusan Tahun
Bata merah mendominasi struktur bangunan.
Warna merah kecokelatan pada permukaan bata memberikan kesan sederhana, tetapi pada saat yang sama menghadirkan suasana masa lalu yang kuat.
Jika diamati lebih dekat, Candi Pari bukan sekadar tumpukan bata yang disusun menjadi bangunan.
Pada bagian-bagian tertentu terdapat unsur arsitektur dan ornamen yang memiliki makna tersendiri. Salah satunya adalah ornamen berbentuk sangkha atau kerang bersayap yang berkaitan dengan simbolisme keagamaan Hindu.
Dari sini kita dapat melihat bahwa masyarakat pada masa lalu tidak membangun sebuah candi tanpa pertimbangan.
Bentuk bangunan, ornamen, hingga penempatannya merupakan bagian dari kebudayaan dan kepercayaan masyarakat pada zamannya.
Sejarah yang Berada di Tengah Kehidupan Masyarakat
Candi ini bukan peninggalan yang berada di tempat yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan masyarakat. Di sekitarnya, aktivitas kehidupan sehari-hari tetap berlangsung.
Pengunjung tidak hanya melihat bangunan kuno, tetapi juga dapat merasakan bagaimana peninggalan sejarah berada berdampingan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Di sinilah sebuah situs sejarah sebenarnya memiliki nilai penting.
Candi Pari justru menunjukkan bahwa peninggalan masa lalu dapat berada sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang.
Mengapa Generasi Muda Perlu Mengenalnya?
Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, mengenalkan sejarah kepada generasi muda tentu membutuhkan cara yang berbeda.
Candi Pari dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan sejarah lokal.
Mempelajari Majapahit tidak harus selalu dimulai dari membaca buku sejarah yang tebal. Mengunjungi situsnya secara langsung juga dapat menjadi pengalaman belajar.
Melihat ukuran bangunan, memperhatikan susunan bata, membaca informasi mengenai sejarahnya, kemudian membandingkannya dengan kondisi lingkungan saat ini dapat membuat sejarah terasa lebih nyata.
Terlebih lagi, keberadaan situs seperti Candi Pari dapat menjadi pengingat bahwa Sidoarjo tidak hanya memiliki cerita tentang kehidupan modern, tetapi juga mempunyai warisan budaya yang telah melewati perjalanan waktu yang panjang.
Candi Pari memang telah melewati berbagai perubahan zaman.
Namun, tantangan bagi sebuah situs bersejarah bukan hanya bagaimana bangunannya dapat bertahan, tetapi juga bagaimana ceritanya tetap dikenal.
Sebuah peninggalan sejarah akan kehilangan sebagian maknanya jika generasi setelahnya tidak lagi mengetahui mengapa bangunan tersebut penting.
Karena itu, memperkenalkan Candi Pari kepada masyarakat, terutama generasi muda, menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini.
Promosi melalui media digital, tulisan populer, konten edukasi, hingga kunjungan wisata sejarah dapat menjadi cara untuk membuat situs seperti Candi Pari kembali diperhatikan.
Bukan berarti sejarah harus diubah agar menarik.
Justru sejarah yang sudah ada perlu diceritakan dengan bahasa yang lebih dekat dengan pembacanya.
Ratusan tahun telah berlalu sejak Candi Pari dibangun.
Kerajaan yang dahulu berjaya telah menjadi bagian dari sejarah. Kehidupan masyarakat telah berubah. Lingkungan di sekitarnya pun terus berkembang.
Namun, Candi Pari masih menjadi pengingat.
Bahwa di balik kehidupan Sidoarjo yang terus bergerak, terdapat jejak masa lalu yang tidak boleh begitu saja dilupakan.
Candi Pari bukan hanya tentang bata merah dan bangunan kuno.
Ia adalah tentang bagaimana sebuah peninggalan mampu menghubungkan manusia hari ini dengan kehidupan masyarakat berabad-abad sebelumnya.
Mungkin, ketika suatu hari kita berdiri di depan Candi Pari, yang kita lihat bukan lagi sekadar sebuah candi, melainkan melihat sepotong masa lalu yang masih diberi kesempatan untuk bercerita.
