Konten dari Pengguna

Anak yang Diam di Kelas Belum Tentu Tidak Memahami Pelajaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hilda Nurohmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber AI Chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Sumber AI Chatgpt

Di dalam kelas, ada siswa yang selalu mengangkat tangan ketika guru mengajukan pertanyaan. Ada pula siswa yang lebih banyak diam, mendengarkan penjelasan, kemudian mengerjakan tugas tanpa banyak berbicara. Ketika guru meminta siswa menjawab pertanyaan, mereka yang aktif berbicara biasanya lebih mudah terlihat. Sementara itu, siswa yang memilih diam terkadang luput dari perhatian. Padahal, apakah siswa yang jarang berbicara benar-benar tidak memahami pelajaran?

Pertanyaan tersebut menarik untuk dipikirkan karena kegiatan belajar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyampaikan jawaban secara lisan. Selama ini, keaktifan siswa sering kali terlihat dari keberanian mereka bertanya, mengemukakan pendapat, atau mengikuti diskusi. Hal-hal tersebut memang penting dalam proses pembelajaran. Namun, jika keaktifan hanya diukur berdasarkan seberapa sering siswa berbicara, kemampuan sebagian anak mungkin tidak terlihat secara menyeluruh.

Setiap siswa memiliki karakter, tingkat kepercayaan diri, dan cara yang berbeda dalam menunjukkan pemahamannya. Oleh karena itu, guru perlu melihat proses belajar secara lebih luas agar tidak terburu-buru memberikan penilaian hanya berdasarkan perilaku siswa selama kegiatan tanya jawab.

Tidak Semua Siswa Berani Menyampaikan Pendapat

Bayangkan suasana kelas ketika guru mengajukan pertanyaan setelah menjelaskan suatu materi. Beberapa siswa langsung mengangkat tangan, sedangkan siswa lainnya memilih diam atau menunggu teman menjawab terlebih dahulu. Dalam situasi tersebut, siswa yang tidak berbicara mungkin dianggap belum memahami materi. Padahal, ada kemungkinan mereka sudah mengetahui jawabannya, tetapi belum memiliki keberanian untuk menyampaikannya.

Sebagian siswa membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun kalimat sebelum berbicara. Ada juga yang merasa gugup ketika harus menjawab pertanyaan di hadapan teman-temannya. Kekhawatiran memberikan jawaban yang salah dapat membuat mereka memilih diam meskipun sebenarnya sudah memahami materi yang dijelaskan guru.

Selain itu, tidak semua siswa merasa nyaman menunjukkan kemampuan melalui komunikasi lisan. Ada siswa yang lebih mudah menjelaskan pemikirannya melalui tulisan, gambar, atau hasil pekerjaan. Ketika diberikan tugas secara mandiri, mereka mungkin dapat menyelesaikannya dengan baik meskipun jarang terlibat dalam percakapan di kelas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa yang pendiam tidak selalu mengalami kesulitan belajar. Sebaliknya, siswa yang sering berbicara juga belum tentu memahami seluruh materi secara mendalam. Karena itu, kemampuan siswa tidak seharusnya disimpulkan hanya dari keberanian mereka menjawab pertanyaan di depan kelas.

Ketika Keaktifan Menjadi Ukuran Utama

Guru tentu perlu mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari. Mengajukan pertanyaan, mengadakan diskusi, dan meminta siswa menjelaskan jawaban merupakan beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman tersebut. Namun, cara-cara itu sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menilai kemampuan siswa.

Misalnya, dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), guru menjelaskan materi siklus air. Ketika ditanya mengenai proses terjadinya hujan, seorang siswa tidak mengangkat tangan. Akan tetapi, saat diberikan lembar kerja, ia mampu menjelaskan hubungan antara penguapan, pembentukan awan, dan turunnya hujan dengan benar. Dari contoh tersebut, terlihat bahwa siswa tetap dapat memahami materi meskipun tidak menunjukkan keaktifan melalui jawaban lisan.

Guru dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap dengan memperhatikan hasil pekerjaan, jawaban tertulis, proses penyelesaian tugas, dan kemampuan siswa menerapkan pengetahuan. Pengamatan terhadap perkembangan siswa dari waktu ke waktu juga dapat membantu guru memahami kebutuhan belajar mereka.

Jika siswa yang jarang berbicara terus-menerus dianggap kurang mampu, penilaian tersebut berisiko membuat usahanya tidak terlihat. Siswa mungkin merasa bahwa hanya mereka yang berani menjawab pertanyaan yang dianggap pintar atau berhasil. Padahal, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan, meskipun caranya berbeda.

Meskipun demikian, guru juga tidak boleh langsung menganggap bahwa semua siswa yang diam sebenarnya sudah memahami materi. Sikap diam dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk rasa malu, kurang percaya diri, kebingungan, atau kesulitan memahami pelajaran. Oleh sebab itu, guru perlu mencari tahu penyebabnya sebelum menentukan pendekatan yang sesuai.

Kelas Seharusnya Memberi Ruang bagi Semua Siswa

Sekolah bukan hanya tempat siswa mempelajari berbagai mata pelajaran, tetapi juga tempat mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun kepercayaan diri. Karena itu, suasana kelas perlu memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk terlibat dalam pembelajaran tanpa merasa tertekan.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan guru adalah memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban sebelum diminta berbicara. Tidak semua anak dapat langsung menyampaikan pemikiran ketika pertanyaan diajukan. Dengan waktu yang cukup, mereka dapat memahami pertanyaan, menyusun jawaban, dan mempersiapkan diri untuk berpendapat.

Guru juga dapat meminta siswa menuliskan jawaban terlebih dahulu sebelum berdiskusi dengan teman sebangku. Setelah itu, beberapa siswa dapat diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusinya kepada kelas. Cara ini membantu siswa berlatih mengemukakan pendapat secara bertahap, tanpa harus langsung berbicara di hadapan seluruh teman sekelas.

Selain itu, guru perlu membangun suasana belajar yang menghargai proses dan tidak mempermalukan siswa ketika jawabannya belum tepat. Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Jika siswa merasa aman untuk mencoba, mereka dapat belajar memperbaiki jawaban dan mengembangkan pemahamannya.

Namun, memberikan ruang bagi siswa yang pendiam bukan berarti membiarkan mereka terus menghindari komunikasi. Guru tetap dapat mendorong mereka untuk bertanya dan berpendapat secara bertahap sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Tujuannya bukan memaksa semua siswa memiliki karakter yang sama, melainkan membantu mereka berkembang tanpa mengabaikan perbedaan.

Penilaian Perlu Melihat Proses dan Hasil Belajar

Penilaian dalam pembelajaran sebaiknya tidak hanya berfokus pada hasil akhir atau perilaku yang mudah diamati. Guru perlu mempertimbangkan berbagai bukti yang menunjukkan pemahaman siswa. Jawaban lisan, tugas tertulis, kegiatan praktik, proyek, dan hasil diskusi dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Sebagai contoh, jika tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu menjelaskan suatu proses, guru dapat meminta mereka menuliskan penjelasan menggunakan kalimat sendiri. Jika tujuan pembelajaran berkaitan dengan kemampuan menganalisis masalah, guru dapat memberikan persoalan yang mengharuskan siswa menyampaikan alasan dan menentukan solusi. Dengan demikian, penilaian lebih sesuai dengan kemampuan yang ingin diketahui.

Pendekatan tersebut juga membantu guru membedakan siswa yang belum memahami materi dengan siswa yang sudah memahami materi, tetapi belum percaya diri untuk berbicara. Perbedaan ini penting karena keduanya membutuhkan pendampingan yang berbeda. Siswa yang belum memahami materi mungkin memerlukan penjelasan tambahan, sedangkan siswa yang kurang percaya diri membutuhkan kesempatan berlatih dalam suasana yang mendukung.

Dengan penilaian yang lebih beragam, guru dapat menghindari kesimpulan yang terlalu cepat. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan melalui cara yang relevan dengan tujuan pembelajaran, sementara guru tetap dapat memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkannya.

Jangan Terlalu Cepat Menilai Siswa

Pada akhirnya, siswa yang diam di kelas tidak seharusnya langsung dianggap tidak memahami pelajaran. Keaktifan berbicara memang dapat menjadi salah satu tanda keterlibatan siswa, tetapi bukan satu-satunya cara untuk mengetahui pemahaman mereka. Guru perlu memperhatikan jawaban, hasil pekerjaan, proses berpikir, serta perkembangan siswa dari waktu ke waktu.

Mengubah cara pandang terhadap siswa yang pendiam bukan berarti mengurangi pentingnya keaktifan di kelas. Sebaliknya, hal ini menjadi pengingat bahwa keterlibatan siswa dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang menunjukkan pemahamannya melalui pertanyaan, ada yang melalui tulisan, dan ada pula yang membutuhkan waktu sebelum berani menyampaikan pendapat.

Pendidikan seharusnya tidak hanya memberikan ruang kepada siswa yang paling cepat menjawab atau paling berani berbicara. Setiap anak perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar, mencoba, dan menunjukkan kemampuannya. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebutuhan tersebut.

Sebab, tujuan pembelajaran bukan sekadar membuat siswa terlihat aktif, melainkan memastikan mereka benar-benar memperoleh pemahaman dan mampu mengembangkan kemampuannya. Terkadang, siswa yang paling jarang berbicara bukanlah siswa yang paling sedikit memahami pelajaran. Mereka mungkin hanya membutuhkan pendekatan yang tepat agar kemampuan yang dimiliki dapat terlihat dan berkembang.