Konten dari Pengguna

Media Sosial Membuat Kita Mudah Membandingkan Kehidupan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hilda Nurohmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber AI Chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Sumber AI Chatgpt

Setiap hari, kita bisa melihat banyak cerita kehidupan orang lain hanya melalui layar ponsel. Ada teman yang membagikan pencapaian akademiknya, seseorang yang terlihat menikmati liburan, atau orang lain yang mulai meraih impian yang selama ini diinginkan. Semua itu menjadi bagian dari hal-hal yang biasa kita temukan ketika membuka media sosial. Awalnya, kita mungkin hanya ingin melihat kabar terbaru dari teman atau mencari hiburan setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Namun, tanpa disadari, kegiatan sederhana tersebut terkadang membuat kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Perbandingan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk. Kita mulai bertanya mengapa orang lain tampak lebih berhasil, mengapa pencapaian kita terasa biasa saja, atau mengapa kehidupan yang dijalani belum sesuai dengan harapan. Padahal, kita tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik unggahan tersebut.

Media sosial memang memudahkan kita untuk terhubung dan berbagi pengalaman. Akan tetapi, ketika terlalu sering digunakan sebagai ukuran keberhasilan, media sosial juga dapat membuat kita memandang kehidupan secara tidak utuh.

Kita Melihat Kehidupan Orang Lain dari Potongan Cerita

Salah satu hal yang perlu disadari ketika menggunakan media sosial adalah bahwa apa yang terlihat di layar bukanlah keseluruhan kehidupan seseorang. Unggahan biasanya menampilkan momen tertentu yang ingin dibagikan, seperti keberhasilan, kebahagiaan, perjalanan, atau pengalaman menyenangkan. Sementara itu, kegagalan, kebingungan, dan persoalan pribadi belum tentu diceritakan kepada publik.

Akibatnya, kita bisa membandingkan kehidupan sendiri yang kita ketahui secara lengkap dengan kehidupan orang lain yang hanya terlihat melalui beberapa unggahan. Kita mengetahui kekhawatiran dan kekurangan diri sendiri, tetapi mungkin hanya melihat pencapaian orang lain.

Misalnya, seorang mahasiswa melihat temannya berhasil mengikuti berbagai kegiatan, memperoleh prestasi, atau mendapatkan kesempatan yang menarik. Ia kemudian merasa tertinggal karena belum mencapai hal serupa. Padahal, ia mungkin tidak mengetahui berapa banyak usaha yang telah dilakukan temannya, kesulitan yang dihadapi, atau keadaan yang memungkinkan temannya memperoleh kesempatan tersebut.

Bukan berarti pencapaian orang lain tidak nyata. Pencapaian itu bisa saja benar-benar hasil kerja keras yang patut diapresiasi. Namun, menjadikannya sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai kehidupan sendiri bukanlah cara yang adil.

Setiap orang memiliki keadaan, kesempatan, tanggung jawab, dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, apa yang terlihat sama di media sosial belum tentu mencerminkan proses yang sama di kehidupan nyata.

Ketika Pencapaian Orang Lain Membuat Kita Meragukan Diri Sendiri

Membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu berakhir buruk. Dalam situasi tertentu, melihat keberhasilan orang lain justru dapat memberikan inspirasi dan mendorong kita untuk berkembang. Kita bisa mendapatkan ide baru, belajar dari pengalaman seseorang, atau menemukan motivasi untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

Persoalan muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita terus merasa kurang. Pencapaian orang lain tidak lagi menjadi sumber inspirasi, melainkan alasan untuk meragukan kemampuan diri sendiri.

Kita mungkin mulai menganggap bahwa keberhasilan orang lain berarti kegagalan diri sendiri. Ketika teman mendapatkan kesempatan lebih dahulu, kita merasa tertinggal. Ketika orang lain mencapai sesuatu pada usia yang sama, kita merasa seharusnya sudah berada di posisi serupa.

Padahal, kehidupan bukan perlombaan dengan satu garis waktu yang berlaku bagi semua orang. Ada orang yang menemukan arah hidupnya lebih cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami apa yang ingin dicapai. Perbedaan tersebut tidak secara otomatis membuat salah satunya lebih berhasil menjalani kehidupan.

Hal ini penting dipahami, terutama oleh mahasiswa dan orang-orang yang sedang membangun masa depan. Masa kuliah, misalnya, sering diisi dengan berbagai tuntutan, mulai dari menyelesaikan tugas hingga memikirkan pekerjaan setelah lulus. Ketika semua itu ditambah dengan kebiasaan melihat pencapaian orang lain, seseorang dapat semakin sulit menghargai proses yang sedang dijalaninya.

Kita perlu belajar membedakan antara keinginan untuk berkembang dan tekanan untuk selalu terlihat berhasil.

Tidak Semua Hal Harus Dibagikan agar Berarti

Media sosial juga membuat pencapaian terasa semakin dekat dengan pengakuan dari orang lain. Sebagian orang membagikan kabar bahagia karena ingin merayakan momen penting, menyimpan kenangan, atau berbagi pengalaman. Hal tersebut tentu tidak salah.

Namun, kita perlu berhati-hati ketika mulai mengukur keberhasilan berdasarkan respons yang diterima. Jumlah tanda suka, komentar, dan perhatian yang muncul pada sebuah unggahan tidak selalu mencerminkan nilai dari pengalaman tersebut.

Ada pencapaian yang berarti meskipun tidak diketahui banyak orang. Ada proses belajar yang tidak menghasilkan unggahan menarik, tetapi membantu seseorang memahami sesuatu dengan lebih baik. Ada pula usaha kecil yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, padahal membutuhkan keberanian dan kerja keras bagi orang yang menjalaninya.

Tidak semua perkembangan harus diumumkan kepada publik agar dianggap nyata. Kita tetap bisa merasa bangga ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, meskipun tidak ada orang yang memberikan pujian. Kita juga tetap berhak menikmati kebahagiaan tanpa harus mengubahnya menjadi konten.

Pada akhirnya, media sosial adalah salah satu tempat untuk berbagi cerita, bukan tempat untuk menentukan apakah kehidupan kita cukup berharga.

Belajar Menggunakan Media Sosial dengan Lebih Sadar

Mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupan tidak selalu berarti harus berhenti menggunakan media sosial. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.

Kita dapat memulainya dengan memperhatikan perasaan setelah melihat unggahan tertentu. Apakah kita mendapatkan inspirasi, atau justru terus merasa tidak cukup baik? Jika suatu jenis konten berulang kali membuat kita tertekan, kita bisa mengurangi paparan terhadap konten tersebut dan memilih akun yang memberikan informasi, wawasan, atau pengalaman yang lebih bermanfaat.

Selain itu, kita perlu memberi ruang bagi kehidupan di luar layar. Menghabiskan waktu bersama keluarga, berbicara dengan teman, mengembangkan keterampilan, atau menyelesaikan pekerjaan yang tertunda dapat membantu kita kembali memperhatikan hal-hal yang benar-benar sedang dijalani.

Hal yang tidak kalah penting adalah menetapkan ukuran keberhasilan berdasarkan tujuan dan keadaan diri sendiri. Daripada terus bertanya apakah kita sudah melampaui pencapaian orang lain, kita bisa mulai bertanya apakah hari ini kita telah mempelajari sesuatu, memperbaiki kebiasaan, atau mengambil langkah yang mendekatkan kita pada tujuan pribadi.

Perubahan kecil seperti itu dapat membantu kita menggunakan media sosial secara lebih seimbang, tanpa harus menjauh dari perkembangan dan cerita orang lain.

Kehidupan Kita Tidak Harus Menyerupai Kehidupan Orang Lain

Media sosial akan terus menghadirkan cerita tentang keberhasilan, kebahagiaan, dan berbagai pengalaman manusia. Kita tidak perlu menganggap semua unggahan sebagai sesuatu yang buruk, apalagi merasa harus menghindari setiap cerita tentang pencapaian orang lain.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa kehidupan setiap orang memiliki konteks yang berbeda. Kita boleh mengagumi keberhasilan seseorang tanpa merendahkan pencapaian sendiri. Kita boleh terinspirasi oleh perjalanan orang lain tanpa harus meniru seluruh pilihan hidupnya.

Tidak semua orang harus mencapai sesuatu pada waktu yang sama. Tidak semua proses harus terlihat oleh orang lain. Dan tidak semua hal yang berharga dapat diukur melalui apa yang muncul di layar ponsel.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan manusia. Di balik setiap unggahan, ada cerita yang tidak selalu kita ketahui. Begitu pula dengan diri kita sendiri, yang memiliki proses, perjuangan, dan tujuan yang tidak harus selalu dijelaskan kepada orang lain.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai alasan untuk merasa tertinggal. Sebaliknya, kita bisa mulai menghargai apa yang sedang dibangun, sekecil apa pun langkahnya. Sebab, menjalani kehidupan dengan baik bukan berarti harus selalu lebih cepat daripada orang lain, melainkan memahami arah yang ingin dituju dan terus berusaha dengan cara yang sesuai dengan keadaan diri sendiri.