Pekerjaan Rumah untuk Siswa: Membantu Belajar atau Menambah Beban?

UNIVERSITAS PAMULANG FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hilda Nurohmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian siswa, kegiatan belajar tidak selalu berakhir ketika bel pulang berbunyi. Setelah sampai di rumah, masih ada tugas yang harus dikerjakan, materi yang perlu dipelajari, dan terkadang persiapan untuk menghadapi ujian keesokan harinya. Pekerjaan rumah atau PR sudah lama menjadi bagian dari kegiatan pendidikan. Guru memberikannya dengan harapan siswa dapat mengulang materi dan semakin memahami pelajaran. Namun, ada pertanyaan yang patut dipikirkan: apakah setiap pekerjaan rumah benar-benar membantu siswa belajar?
Pertanyaan ini bukan berarti pekerjaan rumah harus dihapus dari kegiatan sekolah. Tugas di rumah dapat membantu siswa berlatih secara mandiri dan mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Persoalannya terletak pada tujuan, bentuk, dan jumlah tugas yang diberikan. Ketika tugas hanya berisi banyak soal tanpa mempertimbangkan kebutuhan siswa, pekerjaan rumah berisiko berubah menjadi rutinitas yang harus diselesaikan, bukan kesempatan untuk memahami pelajaran.
Ketika Tugas Menjadi Sekadar Kewajiban
Pekerjaan rumah seharusnya memiliki hubungan yang jelas dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Setelah mempelajari suatu konsep, siswa dapat diberikan latihan untuk memperkuat pemahamannya. Melalui tugas tersebut, guru juga dapat mengetahui bagian mana yang sudah dikuasai siswa dan bagian mana yang masih membutuhkan penjelasan.
Akan tetapi, tugas yang terlalu banyak atau berulang belum tentu memberikan manfaat yang sebanding dengan waktu yang digunakan. Siswa mungkin lebih sibuk mengejar batas pengumpulan daripada memahami isi tugas. Bahkan, ketika menghadapi soal yang sulit, sebagian siswa dapat tergoda untuk sekadar menyalin jawaban agar tugas segera selesai.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa banyaknya tugas tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pembelajaran. Tugas yang lebih sedikit, tetapi dirancang sesuai tujuan dan kemampuan siswa, dapat memberikan kesempatan untuk belajar secara lebih terarah. Sebaliknya, tugas yang diberikan tanpa tujuan yang jelas berisiko menambah pekerjaan tanpa membantu siswa memahami materi secara berarti.
Apa Kata Penelitian tentang Pekerjaan Rumah?
Pembahasan mengenai pekerjaan rumah bukan sekadar persoalan pendapat. Peneliti pendidikan telah mempelajari kaitan antara pekerjaan rumah dan hasil belajar siswa. Salah satu penelitian yang banyak dirujuk adalah meta-analisis Harris Cooper, Jorgianne Civey Robinson, dan Erika A. Patall yang diterbitkan pada 2006 dengan judul Does Homework Improve Academic Achievement? A Synthesis of Research, 1987–2003 dalam jurnal Review of Educational Research.
Penelitian tersebut mengulas temuan dari berbagai studi mengenai hubungan pekerjaan rumah dengan pencapaian akademik. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa kaitan tersebut perlu dipahami dengan mempertimbangkan tingkat pendidikan siswa dan karakteristik tugas. Manfaat pekerjaan rumah tidak dapat disamaratakan untuk semua usia dan semua bentuk pembelajaran.
Temuan ini penting terutama dalam pendidikan sekolah dasar. Anak-anak masih membutuhkan waktu untuk bermain, beristirahat, berinteraksi dengan keluarga, dan mengembangkan keterampilan sosial. Karena itu, pemberian pekerjaan rumah perlu mempertimbangkan tahap perkembangan mereka, bukan hanya target penyelesaian materi.
Meski demikian, penelitian tersebut berasal dari periode 1987–2003 sehingga tidak dapat langsung dianggap menggambarkan seluruh kondisi pendidikan saat ini. Temuannya lebih tepat digunakan sebagai landasan untuk memahami bahwa manfaat pekerjaan rumah perlu dinilai berdasarkan konteks, bukan diasumsikan selalu sama.
Bukan Berarti Siswa Tidak Perlu Berlatih
Mengkritisi jumlah pekerjaan rumah bukan berarti siswa tidak perlu belajar secara mandiri. Latihan tetap dibutuhkan, terutama untuk membantu siswa menguasai keterampilan tertentu. Dalam matematika, misalnya, siswa memerlukan kesempatan untuk menyelesaikan soal dan memahami langkah-langkahnya. Dalam pembelajaran bahasa, siswa dapat berlatih membaca, menulis, atau menyusun gagasan secara mandiri.
Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah tugas tersebut benar-benar membantu mencapai tujuan pembelajaran. Guru dapat memberikan tugas yang mendorong siswa mengamati lingkungan, membaca cerita, menjelaskan proses terjadinya suatu peristiwa, atau menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, setelah mempelajari lingkungan, siswa sekolah dasar dapat diminta mengamati kebiasaan membuang sampah di sekitar rumah dan menuliskan satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan. Tugas semacam ini tidak harus membutuhkan banyak halaman, tetapi tetap memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan.
Guru juga perlu mempertimbangkan apakah tugas dapat dikerjakan secara mandiri. Jika suatu tugas membutuhkan perangkat digital, bahan tertentu, atau bantuan orang dewasa, tidak semua siswa tentu memiliki akses dan dukungan yang sama. Perbedaan kondisi keluarga perlu diperhatikan agar pekerjaan rumah tidak justru memperlebar kesenjangan kesempatan belajar.
Guru dan Orang Tua Perlu Bekerja Sama
Guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap tugas mempunyai tujuan yang jelas. Sebelum memberikan pekerjaan rumah, guru dapat mempertimbangkan apakah tugas tersebut benar-benar diperlukan, berapa lama waktu yang wajar untuk menyelesaikannya, dan apakah siswa telah mendapatkan penjelasan yang cukup di kelas.
Tugas juga perlu diikuti dengan umpan balik. Jika siswa hanya diminta mengerjakan soal tanpa pernah membahas kesalahan atau mendapatkan penjelasan, kesempatan untuk belajar dari tugas tersebut menjadi terbatas. Dengan membahas jawaban dan memberikan arahan, guru dapat membantu siswa memperbaiki pemahamannya.
Di sisi lain, orang tua dapat mendampingi anak dengan menyediakan waktu dan tempat belajar yang sesuai dengan kondisi keluarga. Pendampingan bukan berarti orang tua harus mengerjakan tugas anak. Sebaliknya, mereka dapat membantu anak memahami instruksi, mendorongnya mencoba sendiri, dan menghubungi guru jika ada materi yang belum dipahami.
Komunikasi antara guru dan orang tua juga penting ketika tugas terasa terlalu sulit atau menyita waktu. Dengan saling menyampaikan informasi, keduanya dapat mencari solusi tanpa langsung menyalahkan siswa.
Pendidikan Bukan Perlombaan Menyelesaikan Tugas
Pekerjaan rumah merupakan salah satu bagian dari proses belajar, tetapi bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan kesungguhan siswa. Anak juga belajar melalui kegiatan membaca, bertanya, mengamati, bermain, berdiskusi, dan mencoba hal baru. Semua kegiatan tersebut dapat mendukung perkembangan pengetahuan serta keterampilan mereka.
Karena itu, sekolah perlu memandang pekerjaan rumah sebagai sarana belajar yang harus dirancang dengan pertimbangan matang. Jumlah tugas tidak seharusnya menjadi ukuran utama kedisiplinan, begitu pula kecepatan mengumpulkan tugas tidak selalu menunjukkan tingkat pemahaman siswa.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak pekerjaan rumah yang diberikan, melainkan apa yang diperoleh siswa setelah mengerjakannya. Jika tugas membantu mereka memahami materi, melatih kemandirian, dan menerapkan pengetahuan, tugas tersebut memiliki tujuan yang jelas. Namun, jika siswa hanya sibuk menyelesaikan lembar demi lembar tanpa memahami isinya, sudah waktunya cara pemberian tugas dievaluasi.
Pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi anak untuk berkembang, bukan sekadar memenuhi daftar kewajiban. Pekerjaan rumah yang baik bukanlah pekerjaan yang paling banyak, melainkan pekerjaan yang membuat siswa memahami sesuatu yang sebelumnya belum mereka pahami.
