Senja Tak Lagi Sunyi: Mahasiswa Psikologi UNNES Menyapa Lansia di Desa Badran

Mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hilda Rosana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
(Kamis, 13 Maret 2025) - Dalam rangka implementasi mata kuliah Gerontologi, Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang telah berhasil merealisasikan kegiatan sosialisasi yang bertajukan “Menghadapi Kehampaan, Merangkai Kebahagiaan: Strategi Menyikapi Sindrom Sarang Kosong di Masa Lanjut Usia”, dengan berfokus terhadap upaya peningkatan kualitas kesejahteraan mental pada lansia di masa senjanya. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif mandiri yang dilakukan secara door to door kepada para lansia di Desa Badran, tepatnya di salah satu dusun yaitu Dusun Ganggon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.

Melalui dialog hangat dan penyampaian materi secara sederhana, Hilda selaku inisiator dan fasilitator membahas isu Empty Nest Syndrome atau sindrom sarang kosong—sebuah kondisi psikologis yang kerap dialami oleh orang tua lanjut usia setelah anak-anak mereka mulai mandiri dan meninggalkan rumah. Konsep sosialisasi dirancang khusus melalui media poster psikoedukasi, sebagai sarana penyampaian informasi yang mudah dipahami, dengan gaya visual yang bersahabat, serta mengandung pesan edukatif melalui pendekatan personal dan ramah. Metode ini dipilih agar lansia dapat lebih leluasa bercerita, merasa dihargai, dan mendapatkan pengetahuan mengenai isu psikologis terkait yang kerap dialami setelah anak-anak mereka tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah.
Setelah materi disampaikan, fasilitator membagikan langsung poster psikoedukasi kepada para lansia. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keberlanjutan edukasi, sekaligus memudahkan lansia dalam mengingat kembali poin-poin penting terkait sindrom sarang kosong dan cara mengelolanya secara sehat. Antusiasme pun terlihat dari ketertarikan mereka membaca isi poster, bahkan beberapa di antaranya turut membagikan pengalaman pribadi.
Dalam poster, dijelaskan bahwa sindrom sarang kosong ditandai oleh perasaan sedih, hampa, hingga rasa kehilangan yang muncul saat orang tua berpisah dari anak-anak yang mulai hidup mandiri. Beberapa faktor penyebab yang berkontribusi antara lain keterikatan emosional terhadap anak, peran orang tua sebagai identitas diri, kondisi pernikahan, hingga perubahan rutinitas dan status pekerjaan.
Adapun gejala umum yang cenderung muncul meliputi kesedihan karena kehilangan peran sebagai pengasuh, rasa lega karena memiliki waktu untuk diri sendiri, hingga kebahagiaan melihat anak mandiri. Di sisi lain, sindrom ini juga memiliki dampak positif seperti mendorong kemandirian emosional dan pengembangan diri lansia, tetapi juga membawa dampak negatif seperti rasa kesepian, kehilangan makna hidup, hingga risiko kecemasan dan depresi.
Dalam bagian solutif, poster memuat strategi penanganan sindrom sarang kosong yang mencakup:
Penerimaan diri dan mengakui emosi
Pengisian waktu luang secara produktif
Membangun koneksi sosial baru
Mencari makna hidup baru lewat aktivitas sosial dan religiusitas
Menjalin komunikasi terbuka dengan keluarga.
Salah satu lansia, Mbah Sri Kawit (68 tahun), mengungkapkan rasa senangnya setelah mendapat kunjungan. “Awale aku kira mung aku wae sing ngrasakake sepi sakwise anak-anak padha lunga merantau. Eh jebul kuwi ana jenenge lan iso diatasi nganggo cara-cara sing apik. Matur nuwun yo wis kerso teka lan diajak ngobrol bareng,” tutur beliau dengan haru.
Segenap perangkat desa dan warga setempat juga turut menyampaikan apresiasi maupun dukungannya terhadap kegiatan ini. “Kami senang sekali ada sosialisasi seperti ini, karena kesehatan mental, terutama untuk para lansia, seringkali terabaikan. Padahal mereka juga butuh didengar dan diberi pemahaman tentang kondisi yang sedang dialami. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” ungkap Kepala Desa Badran.
Selain menyasar para lansia, kegiatan ini juga mendorong anggota keluarga, terutama anak-anak, untuk lebih memahami kebutuhan emosional orang tua di usianya. Keterlibatan keluarga dalam menjaga komunikasi dan kehangatan emosional dinilai sebagai kunci dalam mencegah dan mengatasi empty nest syndrom atau sindrom sarang kosong.
Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat memotivasi lansia agar tetap aktif dan bahagia serta dapat lebih menyadari kondisi yang mereka alami, sekaligus memperoleh dukungan emosional untuk menjalani masa lanjut usia dengan sikap yang lebih positif dan optimis.
