Konten dari Pengguna

Sebelum Membuka Usaha, Kenali Dulu Lingkungan Industrinya

Hilma Bijak Savana

Hilma Bijak Savana

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hilma Bijak Savana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami Persaingan, Konsumen, Pemasok, dan Ancaman Pasar sebagai Dasar Menilai Kelayakan Usaha

Ketika ingin membuka usaha, hal pertama yang biasanya dipikirkan adalah modal, produk yang akan dijual, dan berapa keuntungan yang bisa didapat. Namun, menurut saya, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu memahami lingkungan industri tempat usaha tersebut akan berjalan. Padahal, studi kelayakan bisnis tidak hanya membahas soal modal dan keuntungan, tetapi juga bagaimana sebuah usaha menghadapi persaingan bisnis, konsumen, pemasok, pendatang baru, hingga produk pengganti. Ide usaha yang terlihat menarik belum tentu mudah dijalankan jika tidak disertai dengan analisis persaingan dan pemahaman terhadap kondisi industri. Karena itu, sebelum terburu-buru membuka usaha, calon pengusaha perlu melihat lebih jauh apakah bisnis yang akan dijalankan benar-benar memiliki peluang untuk berkembang di tengah persaingan yang ada.

Dalam studi kelayakan bisnis, lingkungan industri menjadi bagian yang penting karena sebuah perusahaan tidak berdiri sendiri. Setiap bisnis akan berhadapan dengan berbagai kekuatan yang dapat memengaruhi kemampuan perusahaan untuk bertahan dan memperoleh keuntungan. Materi Studi Aspek Lingkungan Industri juga menekankan bahwa jenis industri yang dipilih sejak awal akan berpengaruh terhadap pasar, strategi pemasaran, kualitas produk, hingga sumber daya manusia yang dibutuhkan.

Lingkungan industri pada dasarnya berkaitan dengan kondisi persaingan yang dihadapi perusahaan. Salah satu konsep yang banyak digunakan untuk menganalisis kondisi tersebut adalah Five Forces of Competition dari Michael E. Porter. Lima kekuatan tersebut terdiri dari persaingan antarperusahaan dalam industri, ancaman pendatang baru, ancaman produk pengganti, daya tawar pembeli, dan daya tawar pemasok. Porter menjelaskan bahwa kelima kekuatan tersebut dapat membantu perusahaan memahami struktur industrinya dan menentukan posisi yang lebih tepat dalam menghadapi persaingan.

Pertama adalah persaingan antarperusahaan yang sudah ada. Sebelum membuka usaha, calon pengusaha perlu mengetahui berapa banyak pesaing yang sudah berada di pasar dan bagaimana mereka menjalankan bisnisnya. Persaingan akan semakin kuat ketika jumlah pesaing banyak, produk yang ditawarkan hampir sama, pertumbuhan industri melambat, serta konsumen mudah berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Materi perkuliahan juga menjelaskan bahwa intensitas persaingan dipengaruhi oleh struktur biaya, tingkat diferensiasi produk, pertumbuhan industri, dan kapasitas produksi

Kedua adalah ancaman pendatang baru. Sebuah industri yang terlihat menguntungkan belum tentu mudah dimasuki. Ada hambatan seperti kebutuhan modal yang besar, skala ekonomi, perbedaan produk, biaya perpindahan konsumen, distribusi, dan regulasi pemerintah. Bagi calon pengusaha, hal ini penting karena mudahnya pesaing baru masuk berarti pangsa pasar yang tersedia dapat semakin terbagi.

Ketiga, terdapat ancaman produk atau jasa pengganti. Produk pengganti tidak harus memiliki bentuk yang sama. Selama mampu memenuhi kebutuhan yang sama, produk tersebut dapat menjadi substitusi. Contohnya, seseorang yang ingin berolahraga tidak selalu harus datang ke pusat kebugaran. Ia dapat memilih olahraga di rumah menggunakan aplikasi atau video latihan. Artinya, pelaku usaha tidak cukup hanya memperhatikan pesaing yang menjual produk serupa, tetapi juga perlu melihat alternatif lain yang dapat dipilih konsumen. Materi perkuliahan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi bahkan dapat membuat produk yang sebelumnya tidak dianggap sebagai substitusi menjadi pesaing satu sama lain.

Keempat adalah daya tawar pembeli. Konsumen memiliki kekuatan yang semakin besar ketika mereka memiliki banyak pilihan dan mudah berpindah kepada perusahaan lain. Dalam kondisi seperti ini, konsumen dapat menuntut harga lebih murah, kualitas lebih baik, atau pelayanan yang lebih tinggi. Sebaliknya, perusahaan dapat mengurangi tekanan tersebut melalui inovasi dan penciptaan nilai yang berbeda bagi pelanggan.

Kelima adalah daya tawar pemasok. Pemasok dapat memengaruhi bisnis melalui harga, ketersediaan bahan, maupun kualitas barang atau jasa yang diberikan. Jika sebuah usaha hanya bergantung pada satu pemasok, posisi usaha tersebut menjadi lebih rentan ketika pemasok menaikkan harga atau mengalami masalah dalam menyediakan bahan. Karena itu, calon pengusaha perlu mempertimbangkan jumlah pemasok, alternatif bahan, serta tingkat ketergantungan terhadap pemasok tertentu.

Selain lima kekuatan tersebut, lingkungan industri juga dapat dipengaruhi oleh stakeholder lain seperti masyarakat, pekerja, kreditor, asosiasi perdagangan, dan pemegang saham. Hal ini menunjukkan bahwa kelayakan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh hubungan antara penjual dan pembeli, tetapi juga oleh lingkungan yang lebih luas.

Menurut saya, kesalahan yang cukup sering terjadi ketika seseorang ingin membuka usaha adalah terlalu fokus pada pertanyaan, “Apa yang ingin saya jual?”, tetapi kurang bertanya, “Di lingkungan seperti apa usaha ini akan bersaing?” Padahal, dua usaha yang menjual produk sama belum tentu memiliki peluang yang sama. Lokasi, jumlah pesaing, karakteristik konsumen, harga, pemasok, dan kemampuan membedakan produk dapat menghasilkan kondisi bisnis yang sangat berbeda.

Contoh sederhananya adalah usaha laundry. Seseorang mungkin melihat bahwa membuka laundry di dekat kawasan tempat tinggal mahasiswa merupakan peluang karena banyak mahasiswa membutuhkan jasa tersebut. Namun, sebelum membuka usaha, ia seharusnya melihat terlebih dahulu berapa banyak laundry yang sudah ada di sekitar lokasi tersebut. Jika dalam radius yang dekat sudah terdapat banyak laundry dengan harga hampir sama, maka sekadar membuka laundry baru belum tentu cukup. Pemilik usaha harus memiliki pembeda, misalnya layanan antar-jemput, pengerjaan lebih cepat, sistem pemesanan yang praktis, atau pelayanan yang lebih konsisten.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa studi kelayakan bukan hanya kegiatan menghitung apakah modal dapat kembali atau berapa besar keuntungan yang mungkin diperoleh. Studi kelayakan juga membantu calon pengusaha memahami apakah strategi yang direncanakan mampu menghadapi kondisi industri. Suliyanto menjelaskan bahwa studi kelayakan bisnis diperlukan dalam pembukaan maupun pengembangan usaha dengan tingkat analisis yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

Saya juga berpendapat bahwa mengenali pesaing bukan berarti harus meniru pesaing. Justru, analisis pesaing seharusnya digunakan untuk menemukan ruang yang belum dimanfaatkan. Materi perkuliahan menjelaskan bahwa pesaing dapat dianalisis berdasarkan strategi, tujuan, kekuatan, dan kelemahannya. Dengan demikian, pengusaha dapat menentukan keunggulan yang ingin dibangun, baik melalui harga, kualitas, pelayanan, maupun inovasi

Hal ini sejalan dengan pandangan Barney bahwa keunggulan bersaing dapat berasal dari sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak mudah digantikan. Artinya, usaha yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengikuti apa yang sedang dilakukan pesaing. Usaha tersebut perlu memiliki alasan yang jelas mengapa konsumen memilihnya.

Pada akhirnya, membuka usaha bukan hanya persoalan memiliki modal dan produk yang dianggap menarik. Menurut saya, keputusan bisnis seharusnya dimulai dari pemahaman terhadap lingkungan tempat bisnis tersebut akan berjalan. Persaingan antarperusahaan, pendatang baru, produk pengganti, daya tawar pembeli, pemasok, serta stakeholder dapat memberikan tekanan yang berbeda terhadap setiap jenis usaha.

Karena itu, analisis lingkungan industri sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian formal yang hanya dibuat untuk memenuhi tugas studi kelayakan bisnis. Analisis tersebut justru dapat menjadi dasar untuk melihat apakah sebuah ide usaha benar-benar memiliki ruang untuk berkembang. Sebagaimana materi perkuliahan menegaskan, hasil analisis lingkungan industri dapat menjadi masukan dalam menentukan kelayakan sebuah rencana bisnis. Bagi saya, memahami industri sebelum membuka usaha berarti bukan hanya mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga memahami risiko yang mungkin dihadapi sejak awal. Dengan begitu, keputusan membuka usaha dibuat berdasarkan pertimbangan yang lebih matang, bukan hanya karena melihat bahwa bisnis tersebut sedang terlihat menguntungkan.

https://pixabay.com/images/search/business-analysis/