Konten dari Pengguna

Kasus FH UI dan Luka Psikologis: Menelisik Dampak Panjang Trauma Seksual

hilmanhilmansyah

hilmanhilmansyah

Jurnalis I Writer I Ghostwriter I Editor

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari hilmanhilmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyintas kekerasan seksual menghadapi kesulitan mengelola emosi, kehilangan arah tentang identitas diri, mengalami disosiasi, stres pasca trauma dan masalah kesehatan mental lainnya. Foto/ilustrasi: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Penyintas kekerasan seksual menghadapi kesulitan mengelola emosi, kehilangan arah tentang identitas diri, mengalami disosiasi, stres pasca trauma dan masalah kesehatan mental lainnya. Foto/ilustrasi: Freepik.com

Universitas Indonesia (UI) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sepakat memperkuat pengawasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum UI. Tujuannya jelas, agar prosesnya berjalan terbuka, bisa dipertanggungjawabkan, dan tetap menempatkan perlindungan korban sebagai prioritas utama.

Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari langkah yang lebih luas untuk memperkuat pencegahan sekaligus penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Mengacu pada laporan Mayo Clinic, dampak kekerasan seksual tidak berhenti pada kejadian itu sendiri. Banyak penyintas menghadapi kesulitan mengelola emosi, kehilangan arah tentang identitas diri, mengalami disosiasi, hingga gangguan seperti stres pasca-trauma dan masalah kesehatan mental lainnya.

Dalam situasi awal, perhatian biasanya tertuju pada hal-hal yang mendesak. Mulai dari memastikan korban aman, melibatkan aparat penegak hukum, mencegah risiko kehamilan, hingga pemeriksaan infeksi menular seksual. Meski penting, penanganan sering kali berhenti di fase ini.

Padahal, setelah kondisi darurat teratasi, tantangan yang lebih panjang justru mulai terasa. Tidak sedikit penyintas yang harus berjuang menghadapi dampak psikologis dalam jangka waktu lama, bahkan hingga bertahun-tahun.

Menurut Shweta Kapoor M.D., Ph.D., seorang psikiater Mayo Clinic, yang mendalami trauma kompleks, pengalaman kekerasan seksual dapat meninggalkan pengaruh mendalam terhadap kondisi emosional dan mental. Dampaknya bisa muncul dalam bentuk kesulitan mengatur emosi, kaburnya rasa diri, disosiasi, hingga gangguan seperti Post Traumatic Stress Disorder.

Jika melihat data, angka kekerasan seksual sebenarnya cukup tinggi, meskipun banyak kasus tidak dilaporkan. Perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok yang paling rentan. Selain itu, kelompok minoritas, termasuk komunitas LGBTQI+, juga menghadapi risiko yang lebih besar. Hambatan seperti bahasa, budaya, keterbatasan akses layanan, serta minimnya dukungan yang tepat membuat banyak korban kesulitan mendapatkan bantuan.

Kekerasan seksual tidak hanya terbatas pada pemerkosaan. Semua bentuk aktivitas seksual tanpa persetujuan termasuk di dalamnya, baik berupa sentuhan yang tidak diinginkan maupun pelecehan tanpa kontak fisik seperti memperlihatkan konten pornografi atau percakapan bernuansa seksual kepada anak.

Data menunjukkan fenomena ini cukup luas. Survei CDC mencatat sekitar 27% perempuan dan 4% laki-laki pernah mengalami pemerkosaan atau percobaan pemerkosaan. Selain itu, hampir setengah perempuan dan seperempat laki-laki pernah mengalami kontak seksual yang tidak diinginkan. Di Amerika Serikat, lebih dari 60.000 anak diperkirakan menjadi korban setiap tahunnya. Jika terjadi berulang, kondisi ini bisa berkembang menjadi trauma kompleks.

Yang sering luput, dampak jangka panjang tidak selalu langsung disadari. Banyak orang tidak mengaitkan masalah yang mereka hadapi saat ini dengan pengalaman masa lalu.

Dr. Kapoor menjelaskan, sebagian orang bahkan menganggap pengalaman tersebut sebagai hal yang biasa, terutama jika terjadi sejak usia dini. Karena itu, ia sering menggali melalui pertanyaan sederhana, seperti apakah ada pikiran yang terus muncul atau mimpi yang berulang.

Salah satu dampak yang kerap muncul adalah hilangnya rasa diri. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat membentuk identitas justru bisa menjadi sumber luka, apalagi jika pelaku adalah orang terdekat. Dalam banyak kasus, korban juga mengalami manipulasi emosional yang membuat mereka meragukan diri sendiri. Seiring waktu, rasa percaya diri dan identitas bisa memudar.

Selain itu, banyak penyintas mengalami kesulitan mengelola emosi. Kemampuan menenangkan diri yang biasanya terbentuk sejak kecil menjadi terganggu, sehingga hal-hal kecil bisa memicu reaksi yang berlebihan. Kondisi ini dikenal sebagai disregulasi emosi.

Ada pula pengalaman disosiasi, seperti derealisasi dan depersonalisasi, di mana seseorang merasa dunia di sekitarnya tidak nyata atau seolah melihat dirinya dari luar. Ini merupakan mekanisme perlindungan otak saat menghadapi tekanan berat, namun jika berlangsung lama dapat mengganggu kualitas hidup.

Kekerasan seksual juga berkaitan dengan berbagai gangguan mental lain, seperti kecemasan, depresi, Obsessive Compulsive Disorder, dan PTSD. Pada beberapa kasus, muncul dorongan untuk mengontrol sesuatu secara berlebihan, seperti pada OCD, yang sering berakar dari pengalaman kehilangan kendali.

Dr. Kapoor juga menyoroti bahwa sebagian penyintas, khususnya perempuan, kerap diberi label gangguan kepribadian ambang. Padahal, menurutnya, respons tersebut lebih tepat dipahami sebagai reaksi terhadap trauma, bukan sebagai kelemahan kepribadian.

Hal yang penting diingat, pengalaman traumatis bukanlah identitas seseorang. Itu memang bagian dari perjalanan hidup, tetapi tidak menentukan siapa mereka sebenarnya.

Dampak ini juga bisa terasa dalam hubungan intim. Penyintas bisa menjadi sangat waspada, mudah terpicu, atau mengalami kilas balik saat ada sentuhan tertentu. Bahkan sentuhan yang sebenarnya aman bisa memicu ingatan masa lalu, sehingga sulit membedakan mana yang benar-benar aman.

Karena itu, penting bagi penyintas dan pasangannya untuk mengenali pemicu-pemicu tersebut. Komunikasi yang terbuka, termasuk membicarakan jenis sentuhan atau situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan, bisa membantu membangun kembali rasa aman secara bertahap.

Foto/Ilustrasi: Freepik.com