Konten dari Pengguna

Pendidikan sebagai Kunci Kemajuan Bangsa: Indonesia Tertinggal?

Hilmi Fuadi

Hilmi Fuadi

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hilmi Fuadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/photos/wisuda-topi-kelulusan-topi-3430714/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/photos/wisuda-topi-kelulusan-topi-3430714/

Pendidikan sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa.“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat anda gunakan untuk mengubah dunia.” Kalimat tersebut diucapkan oleh mantan presiden Afrika Selatan – Nelson Mandela. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada saat ini kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh oleh negara-negara tetangga diantaranya Singapura dan Malaysia. Dikutip dari kanal youTube Sekretariat Presiden, Presiden Joko widodo menyayangkan peringkat pendidikan dan kesehatan Indonesia yang jauh tertinggal di posisi ke-57 dan ke-58 secara global. “Sayangnya dari dari sisi daya saing, kita meskipun naik sampai 7 level sangat bagus sekali. Tapi untuk pendidikan dan kesehatan masih di ranking 57, 58,” ujarnya pada hari kamis, 11 Juli 2024.

Kualitas pendidikan suatu negara dapat ditentukan oleh berbagai faktor seperti: Nilai akreditasi sekolah, daya saing SDM, presentase tingkat penyelesaian sekolah, presentase kelulusan sekolah, dan presentase pendaftaran sekolah anak usia dini. Di Indonesia sendiri, masih banyak anak-anak yang harus putus sekolah bahkan belum pernah merasakan duduk di bangku sekolah sama sekali karena berbagai faktor, dan yang paling krusial adalah faktor ekonomi. Banyak orang tua yang merasa keberatan untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka lebih memilih untuk menyuruh anaknya bekerja dengan ijazah seadanya.

Pemerintah harus segera mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan pemerataan pendidikan seperti pemberian beasiswa bagi anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, agar tidak terjadi kesenjangan dalam sektor pendidikan.

Data dari hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2023 yang melibatkan 345.000 rumah tangga di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa lulusan pendidikan terbanyak di Indonesia adalah lulusan SMA/sederajat dengan presentase 30,22%. Disusul oleh lulusan SD/sederajat sebesar 24,62%, dan diikuti oleh lulusan SMP/sederajat sebanyak 22,74%. Mirisnya, penduduk yang merasakan pendidikan perguruan tinggi hanya sebesar 10,15%. Selain itu, presentase penduduk yang tidak tamat SD juga cukup tinggi, yakni sebesar 9.01%, dan yang tidak sekolah sebesar 3,25%. Angka di atas menggambarkan masih banyaknya permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintahan terkait pemerataan pendidikan. Semoga kedepannya masyarakat Indonesia dapat mengakses pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi dengan mudah.