Ekskalasi Potensi Bersama Al-Qur’an

Tulisan dari Hilmy Adam Jieta Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source Picture : Indonesia Qur’an Fondation
Tulisan ini pada mulanya hendak diberi judul belajar dari para penghafal Al-Qur’an. Karena penulis ingin menceritakan sedikit pengalaman bagaimana melihat penghafal Al-Qur’an membersamai hidupnya dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an sendiri tentu bagi seorang muslim bukanlah sesuatu yang asing. Ia merupakan kitab pedoman ummat muslim dalam menggapai kesuksesan dunia akhirat. Selain itu Al-Qur’an juga memiliki hikmah lain di antaranya
Sebagai petunjuk
Surat Ibrahim ayat 1
Surat Al Baqarah ayat 1-2
Sebagai Cahaya
Al Maidah ayat 15
An Nisa ayat 174
Sebagai Pelajaran
Yunus ayat 57
Al An’am ayat 104
Sebagai Bacaan yang menguntungkan
Fathir ayat 29
Fathir ayat 30
Oleh karena itulah kehidupan bersama Al-Qur’an bukanlah suatu perniagaan yang merugi. Dalam tiap ayat, tiap kata, bahkan tiap huruf ada ganjaran pahala yang menanti. Selain itu, Allah sendirilah yang menjamin kehidupan para penghafal Al-Qur’an.
Lalu, bagaimana kaitannya memaksimalkan potensi dengan belajar dari penghafal Al-Qur’an? Ini terkait proses yang dijalani oleh mereka. Menghafal Al-Qur’an merupakan proses long life learning, sebagaimana sepanjang hidup manusia memaksimalkan seluruh potensi untuk bisa berdaya guna. Setelah kita menentukan potensi yang akan kita kembangkan atau mimpi yang ingin diwujudkan termasuk menghafal Al-Qur’an, maka kita perlu bersabar dalam menjalani proses berikut.
Pertama proses yang perlu dilalui pertama yakni niat dan kesungguhan. Sebagaimana perkataan if you know big why you will find a big how. Begitulah niat atau why reason bekerja ia akan membimbing bagaimana jalan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kesungguhan akan mengindikasikan daya tahan kita untuk mencapai tersebut. Sebaik baik niat untuk menghafal Al-Qur’an adalah untuk Allah semata. Al-Qur’an seperti cahaya dengan niat yang tidak murni akan menodai cahaya tersebut masuk ke dalam sanubari seorang insan. Ketika sudah memiliki niat yang murni dan kesungguhan yang kuat maka pertahankan ini secara kontinu (Istiqomah) sampai tujuan tercapai. Khusus untuk menghafal Al-Qur’an istiqomah-lah sampai Al-Qur’an menemanimu di alam kubur.
Kedua proses yang perlu dilalui kedua yakni menentukan target yang jelas. Tujuan kita entah menjadi dokter, dosen, insinyur, profesor, atau hafal 30 juz Al-Qur’an adalah sesuatu yang besar yang tidak bisa kita wujudkan dalam satu malam. Perlu di buat batu batu loncatan untuk mencapainya. Strategi ini kita kenal dengan istilah “divide and conquer”, membagi suatu masalah yang besar untuk diselesaikan bagian per bagiannya. Hal ini erat kaitannya dengan resource yang kita miliki untuk mencapai tujuan. Baik waktu, tenaga, biaya, maupun kendala kendala yang bisa menghambat tercapainya tujuan yang besar. Dalam menghafal Al-Qur’an perlu ditentukan seberapa jam durasi menghafal, sebarapa target ayat yang dihafal per harinya atau metode apakah yang digunakan. Target target kecil ini akan lebih memberikan semangat karena ketercapaiannya yang lebih jelas dibandingkan tujuan besarnya itu sendiri.
Ketiga Deliberate Practice atau latihan yang diulang ulang sampai mahir. Seperti halnya pemain sepakbola ia tidak akan menjadi ahli apabila hanya mencoba bermain saja. Mereka perlu meningkatkan skill spesifik dengan latihan yang spesifik pula yakni drible, shooting, blocking, sprint, dan lain hal sebagainya. Menghafal Al-Qur’an pun seperti itu, seorang penghafal tidak akan menghafal langsung 30 juz lalu menyetorkannya. Ada proses mulai menghafal 1 halaman/1 surat/1 juz lalu kemudian menyetorkannya ke ustadz/guru. Dalam penyetoran ini pun dilakukan evaluasi berupa ketepatan hafalan, kekuatan hafalan, serta kesalahan kesalahan yang sering diulang. Ada metode tasmi’ yakni mengulang hafalan beberapa juz sebagai metode re-evaluasi. Jadi, untuk hafalannya kuat tidak perlulah terburu – buru.
Keempat Murojaah walau secara harfiah artinya mengulang tapi saya di sini menerjemahkan seperti bahasa Stephen Covey menajamkan kembali pisau. Potensi yang kita latih dengan effort pun perlu selalu kita asah. Karena ia bukanlah bawaan dari kita lahir, tanpa diasah maka kemampuan itu akan mengelupas hilang. Seperti misalnya atlet taekwondo yang bersabuk hitam (sabeum : tingkat tertinggi) tanpa latihan yang rutin akan kalah kekuatan fisiknya oleh murid yang dilatihnya dengan rutin. Menghafal Al-Qur’an tidaklah berhenti ketika telah selesai menghafalkan 30 juz. Seperti yang dijelaskan di awal menghafal Al-Qur’an merupakan proses long life learning. Jadi, semakin banyak hafalan yang dimiliki semakin besar pula tanggung jawab mempertahankannya. Seorang penghafal perlu memiliki menu tersendiri untuk menajamkan kembali hafalannya (murojaah) bisa 2-10 juz per hari. Semakin sering diasah tentu semakin baik, seperti ibarat Al-Qur’an berjalan.
Terakhir, penulis sendiri bukanlah penghafal Al-Qur’an yang ulung, masih belajar. Tentu perlu tekad kuat untuk membangun rasa syu’ur Qur’ani (rasa membangkitkan diri bersama Al-Qur’an) bagi pribadi. Dan bagi teman teman yang sedang melatih potensinya, percayalah keadaan sekarang hanyalah modal bukanlah hasil akhir. Its not how good you are, its how good you want to be . Selamat berproses dan berprogres!
