Mengapa Orang yang Suka Rapi Sering Disebut OCD?

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hilmy Azkiya Malik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, istilah OCD semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial. Tidak jarang seseorang mengatakan, "Aku OCD banget kalau meja berantakan" atau "Dia pasti OCD karena suka menyusun barang dengan rapi". Ungkapan seperti ini terdengar biasa, tetapi sebenarnya dapat menimbulkan kesalahpahaman tentang apa itu OCD yang sebenarnya.
Apa Itu OCD?
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh adanya obsessions dan compulsions. Obsessions adalah pikiran, dorongan, atau kekhawatiran yang muncul secara berulang dan sulit dikendalikan, sedangkan compulsions merupakan perilaku yang dilakukan berulang kali sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan.
Menurut American Psychiatric Association (APA), kondisi ini dapat menimbulkan tekanan yang signifikan dan memengaruhi aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, OCD tidak dapat disamakan dengan sekadar kebiasaan menyukai kebersihan, keteraturan, atau kesempurnaan.
Mengapa Banyak Orang Mengaitkan Kerapian dengan OCD?
Salah satu alasannya adalah banyaknya konten di media sosial yang menyederhanakan istilah psikologi menjadi contoh-contoh yang mudah dipahami. Tidak sedikit unggahan yang menggambarkan OCD sebagai kebiasaan tidak tahan melihat barang berantakan atau keinginan agar segala sesuatu tersusun dengan sempurna.
Padahal, menyukai kebersihan dan keteraturan merupakan hal yang umum. Banyak orang merasa lebih nyaman ketika lingkungan di sekitarnya tertata dengan baik, dan hal tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan psikologis.
Ketika istilah OCD digunakan untuk semua perilaku yang berhubungan dengan kerapian, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang kurang tepat mengenai kondisi tersebut. Akibatnya, istilah OCD sering kehilangan makna aslinya dan digunakan sebagai label untuk kebiasaan sehari-hari yang sebenarnya masih dalam batas wajar.
Seperti Apa OCD yang Sebenarnya?
Banyak orang mengira OCD hanya berkaitan dengan kebersihan atau kerapian. Padahal, tidak semua orang dengan OCD memiliki perhatian utama pada hal tersebut. OCD lebih berkaitan dengan munculnya pikiran yang mengganggu secara berulang dan dorongan untuk melakukan perilaku tertentu guna mengurangi kecemasan yang muncul.
Pada beberapa kasus, pikiran dan dorongan tersebut dapat menghabiskan banyak waktu, menimbulkan tekanan emosional, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari. Inilah yang membedakan OCD dari sekadar kebiasaan menyukai keteraturan atau hidup terorganisir.
Karena itu, seseorang tidak dapat langsung dianggap memiliki OCD hanya karena perfeksionis, suka membersihkan kamar, atau merasa tidak nyaman melihat meja yang berantakan. Kondisi psikologis jauh lebih kompleks daripada satu kebiasaan yang terlihat di permukaan.
Mengapa Kita Perlu Berhati-hati dengan Informasi di Media Sosial?
Media sosial dapat menjadi sarana yang baik untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Namun, informasi yang disampaikan dalam format singkat sering kali tidak menjelaskan konteks secara lengkap.
Tidak jarang seseorang merasa cocok dengan penjelasan yang ditemuinya di internet, lalu mulai menyimpulkan bahwa dirinya memiliki kondisi tertentu. Padahal, merasa memiliki satu atau beberapa karakteristik yang disebutkan dalam sebuah konten tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan psikologis.
Karena itu, penting untuk memeriksa kembali informasi yang diterima, membaca sumber yang terpercaya, dan tidak langsung menerima setiap penjelasan di media sosial sebagai fakta yang pasti.
Sebelum Menyebut OCD, Kenali Maknanya Terlebih Dahulu
Kondisi psikologis tidak dapat disimpulkan hanya dari satu perilaku atau informasi singkat yang ditemukan di media sosial. Meskipun konten kesehatan mental dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, informasi yang disajikan sering kali belum menggambarkan kondisi secara utuh. Akibatnya, seseorang bisa saja merasa cocok dengan suatu penjelasan dan langsung menganggap dirinya memiliki kondisi tertentu, padahal belum tentu demikian.
Selain dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, pemahaman yang kurang tepat juga dapat membuat orang lain mudah memberikan label tertentu. Padahal, kondisi psikologis tidak bisa dinilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Karena itu, penting untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan asumsi atau informasi yang belum lengkap.
Karena itu, penting untuk memahami OCD dari sumber yang terpercaya dan tidak terburu-buru menggunakan istilah tersebut tanpa mengetahui maknanya. Jika seseorang memiliki kekhawatiran terkait kondisi psikologis yang dialaminya, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang lebih tepat daripada melakukan self-diagnosis. Dengan memahami OCD secara lebih utuh, kita dapat menghindari kesalahpahaman sekaligus lebih menghargai pengalaman orang-orang yang benar-benar hidup dengan kondisi tersebut.
______________________________________________
Oleh Hilmy Azkiya Malik, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.
