Literasi Digital vs Disinformasi AI: Siapa yang Siap Hadapi?

Selamat datang di akun resmi HIMAKOM UKI! Kami hadir untuk menyajikan berbagai informasi terkait kegiatan akademik, non-akademik, dan update terbaru dunia Ilmu Komunikasi di Universitas Kristen Indonesia. Yuk, ikuti terus perjalanan seru kami bersama
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari HIMAKOM UKI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia mengakses, menyerap, dan menyebarkan informasi. Di tengah era kecerdasan buatan (AI), tantangan baru pun muncul: penyebaran informasi palsu yang tampak kredibel, masif, dan emosional. Teknologi AI yang semakin canggih, seperti AI generatif, tidak hanya mampu menciptakan teks dan gambar yang meyakinkan, tapi juga memanipulasi opini publik melalui rekayasa emosi dan persepsi secara sistematis. Dalam situasi sosial-politik yang panas seperti menjelang pemilu atau saat terjadi konflik sosial, AI dapat dimanfaatkan sebagai mesin propaganda yang efektif. Ketika masyarakat tidak lagi mampu membedakan antara informasi faktual dan hasil rekayasa digital, maka ancaman terhadap stabilitas sosial dan demokrasi menjadi sangat nyata. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana AI bekerja dalam konteks komunikasi digital di Indonesia dan mengapa literasi digital menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari disinformasi.
AI generatif kini mampu memproduksi teks, suara, hingga video yang menyerupai kenyataan. Di Indonesia, kita sudah melihat contoh konkret bagaimana konten deepfake dan narasi provokatif digunakan untuk menyebarkan isu politik dan sosial. Pada masa kampanye, misalnya, mulai dari video pernyataan palsu politisi, gambar editan yang memancing amarah, hingga thread Twitter yang menggiring opini massa. Konten-konten ini seringkali tidak dapat dibedakan dari konten asli, terutama bagi masyarakat yang belum memiliki kesadaran dan kemampuan literasi digital yang kuat.
Dalam laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), disebutkan bahwa lebih dari 11 ribu konten hoaks tersebar di media sosial selama tahun politik 2024. Sebagian besar konten tersebut menyasar isu-isu sensitif seperti agama, etnis, dan ideologi. Dengan algoritma media sosial yang bekerja berdasarkan klik dan interaksi, konten emosional lebih cepat menyebar dibandingkan klarifikasi yang berbasis fakta. Ini menciptakan ruang publik yang bising dan penuh distorsi, di mana kebenaran menjadi relatif.
Disinformasi kini tidak hanya berasal dari individu atau kelompok ekstremis, tetapi juga bisa dilakukan secara otomatis oleh sistem AI. Dengan menggunakan data perilaku pengguna, sistem bisa merancang pesan yang disesuaikan dengan karakteristik psikologis masing-masing individu. Ini berarti, konten disinformasi tidak lagi bersifat generik, melainkan personal. Strategi ini dikenal sebagai micro-targeting, dan sangat efektif dalam memengaruhi sikap dan keputusan publik secara halus namun sistematis.
Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bentuk-bentuk manipulasi visual dan audio. Banyak yang belum memahami bahwa visual bisa dimanipulasi, bahwa suara dalam video bisa diubah, dan bahwa narasi yang terlihat seperti berita bisa saja direkayasa oleh mesin. Tantangan ini menjadi semakin berat ketika institusi belum sepenuhnya siap, baik dari segi regulasi, teknologi, maupun edukasi. Meski pemerintah telah meluncurkan berbagai program literasi digital, namun jangkauannya belum merata dan seringkali tidak cukup praktis untuk mengatasi tantangan yang kompleks.
Di sisi lain, platform digital juga perlu bertanggung jawab. Facebook, TikTok, YouTube, dan lainnya memiliki algoritma yang mendorong konten viral, tanpa menilai akurasi informasi. Dalam situasi ini, kontrol sosial menjadi sangat penting. Media arus utama perlu memperkuat fungsinya sebagai penjernih informasi, dan masyarakat sipil perlu diberdayakan agar lebih kritis dalam memilah informasi yang mereka konsumsi dan sebarkan. Teknologi boleh berkembang, tapi nilai dan etika dalam bermedia tidak boleh ditinggalkan.
Hal yang lebih meresahkan adalah maraknya akun buzzer dan bot otomatis yang menyebarkan narasi tertentu seolah-olah itu suara mayoritas. Dengan bantuan AI, mereka bisa nyebarin opini dalam jumlah besar, sangat cepat, dan terasa seperti suara publik. Padahal itu semua bisa jadi direkayasa. Dan ini gak cuma terjadi di topik besar kayak pemilu, tapi juga nyebar ke isu-isu lokal yang dekat banget sama hidup kita seperti konflik lahan, intoleransi, sampai kebijakan yang kontroversial.
Menurut saya, masyarakat kita masih sangat mudah percaya dengan konten visual, apalagi jika dibungkus dengan narasi yang menyentuh atau disampaikan oleh akun-akun yang terlihat “berpengaruh.” Di titik ini, AI bisa jadi senjata ampuh untuk memanipulasi karena tampilannya sangat meyakinkan. Tidak heran kalau banyak orang jadi makin susah membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Kalau tidak segera ditangani, kita bisa kehilangan kemampuan untuk menilai informasi secara sehat.
Kehadiran AI dalam dunia komunikasi digital membawa peluang sekaligus tantangan besar. Di Indonesia, disinformasi berbasis AI dapat menjadi senjata yang berbahaya jika tidak diimbangi dengan kesadaran digital masyarakat. Kemampuan untuk memproduksi konten palsu yang emosional dan persuasif dapat merusak proses demokrasi, memicu konflik sosial, bahkan mengancam persatuan bangsa. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, media, dan masyarakat untuk memperkuat literasi digital, menciptakan regulasi yang adaptif, dan mengedepankan etika dalam bermedia. Teknologi tidak bisa dihentikan, tapi dampaknya bisa dikendalikan. Saatnya Indonesia bersiap menghadapi perang informasi dengan senjata yang tepat: kesadaran dan ketahanan informasi.
Sebagai bagian dari generasi muda, saya percaya bahwa literasi digital harus jadi hal yang serius dibicarakan, bukan hanya wacana. Anak muda termasuk saya dan kalian yang membaca artikel ini harus dilibatkan dalam gerakan sadar informasi. Edukasi soal bagaimana AI bekerja, bagaimana cara verifikasi informasi, dan bagaimana tetap rasional di tengah banjir emosi digital itu sanagt penting. Kita gak bisa cuma andalkan regulasi dari atas. Harus ada gerakan dari bawah juga, dari komunitas, sekolah, bahkan lingkar pertemanan. Jika kita sendiri tidak memiliki ketahanan dalam menyaring informasi, siapa lagi yang bisa menjaga diri kita?
