Konten dari Pengguna

Hindari Ghibah

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gosip. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gosip. Foto: Shutter Stock

Kita mulai dengan lirik nyanyian yang berjudul Ghibah karya H Oma Irama sebagai berikut:

Ghibah

Mengapa kau suka membukakan aib sesama

Ke sana ke mari kau cerita keburukannya

Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan

Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan

Oh keterlaluan

Janganlah kau sibuk mencari kelemahan orang

Periksa dirimu masih adakah kekurangan

Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan

Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan

Oh keterlaluan

‘Pabila kau tahu ruginya menggunjing orang

Pasti kau tak mau untuk melakukan itu

Maukah kautanggung dosa dari orang lain

Sedangkan pahalamu kauberikan kepadanya

Jangan Anda berbuat ghibah

Siapa yang suka membuka aib temannya

Berarti dirinya lebih hina dan tercela

Siapa yang suka menggunjingkan sesamanya

Berarti dia suka makan bangkai saudaranya

Jangan Anda berbuat ghibah.

Definisi Ghibah

Menurut para ulama, ghibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain saat mereka tidak hadir dan mereka tidak menyukai hal tersebut jika mendengarnya.

Lirik ini disebutkan adalah lagu legendaris berjudul "Ghibah" yang dipopulerkan oleh Rhoma Irama. Lagu ini menyampaikan pesan moral yang sangat kuat dan sejalan dengan ajaran Islam mengenai bahaya membuka aib orang lain.

Berikut ini adalah penjelasan dan makna larik tersebut dalam konteks Islam:

1. Perumpamaan Semut dan Gajah

Lirik: "Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan, Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan"

Makna: Manusia sering kali sangat mudah melihat kesalahan atau kekurangan orang lain yang sangat kecil (semut di seberang), namun buta terhadap kesalahan atau aibnya sendiri yang jauh lebih besar (gajah di pelupuk mata). Ini adalah pengingat untuk bercermin dan memperbaiki diri sendiri sebelum mengomentari orang lain.

2. Dosa dan Kerugian Menggunjing

Lirik: "Maukah kautanggung dosa dari orang lain, Sedangkan pahalamu kauberikan kepadanya"

Makna: Dalam Islam, ketika seseorang bergunjing (ghibah), pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang yang digunjing sebagai ganti atas kedzaliman yang diperbuat. Jika pahala tersebut habis, maka dosa orang yang digunjing akan ditimpakan kepada si penggunjing.

3. Perumpamaan Memakan Bangkai Saudara

Lirik: "Siapa yang suka menggunjingkan sesamanya, Berarti dia suka makan bangkai saudaranya"

Makna: Hal ini merujuk langsung pada larangan keras Allah SWT dalam Al-Quran (Surat Al-Hujurat ayat 12). Menggunjing disamakan dengan memakan daging saudara sendiri yang sudah mati, karena orang yang digunjing tidak bisa membela diri.

Berikut ini adalah dalil utama yang melarang perbuatan ghibah (menggunjing) di dalam Al-Quran dan Hadits, yang dikategorikan sebagai dosa besar:

1. Dalil Al-Quran (Surat Al-Hujurat Ayat 12)

Allah SWT melarang keras ghibah dan mengumpamakannya seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati.

Ayat ini menegaskan perintah untuk menjauhi prasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, serta larangan menggunjing (ghibah) yang disamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri.

2. Dalil Hadits (Siksa Kubur bagi Pelaku Ghibah)

Rasulullah SAW memperingatkan tentang siksa kubur yang pedih akibat ghibah.

Dalam ajaran Islam, peringatan Rasulullah SAW tentang siksa kubur akibat ghibah (bergunjing) bermakna bahwa dosa lisan ini sangat besar dan mendatangkan azab yang pedih. Pelaku diancam disiksa di alam barzakh dengan cara mencabik-cabik wajah dan dadanya sendiri menggunakan kuku tembaga karena semasa hidup ia gemar mengumbar aib dan kehormatan orang lain.

Dari Abu Bakrah, Nabi SAW bersabda ketika melewati dua kuburan: “Keduanya sedang disiksa dan mereka disiksa bukan karena dosa besar (menurut mereka). Yang satu disiksa karena tidak menjaga kebersihan ketika kencing dan yang lain disiksa karena berbuat ghibah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam keadaan yang serba mudah mengeluarkan opini, maka perlu hati-hati jangan sampai masuk ranah ghibah.