Kumparan Logo
Konten Media Partner

16 Siswa di Ketapang Keracunan Usai Santap MBG dengan Menu Daging Ikan Hiu

HiPontianakverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi dapur MBG. Foto Dok Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dapur MBG. Foto Dok Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Sebanyak 16 siswa SD Negeri 12 Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka mengalami gejala mual, muntah, dan sesak napas usai menyantap menu makanan bergizi yang disediakan dalam program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Mitra Mandiri 2.

Insiden tersebut terjadi pada saat jam makan siang, ketika siswa menikmati hidangan yang terdiri dari nasi putih, ikan hiu fillet, tahu goreng, oseng kol wortel, dan buah segar seperti jeruk atau melon. Tak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah siswa mulai mengeluh sakit perut dan muntah-muntah.

Kepala Sekolah SDN 12 Benua Kayong, Dewi Hardina Febriani, membenarkan sebagian besar siswa yang merasakan gejala serupa adalah mereka yang mengonsumsi menu MBG hari itu.

“Belum bisa dipastikan makanan mana yang menjadi penyebab utama, namun gejala dialami oleh hampir seluruh siswa yang menyantap hidangan tersebut,” jelasnya.

Namun ia mencurigai kondisi menu yang dikonsumsi siswanya waktu itu, berupa ikan hiu serta sayuran kol dan wortel.

“Menunya (nugget) ikan hiu, cuma baunya agak menyengat. Sayurnya juga agak berlendir,” tambahnya.

Melihat kondisi yang terus bertambah, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan puskesmas setempat. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan awal dan sebagian dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara itu, Kepala Regional MBG Kalbar, Agus Kurniawi, menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan penelusuran untuk mengetahui penyebab pasti. Ia menyebut, salah satu kemungkinan adalah pemilihan jenis ikan yang belum familiar dikonsumsi oleh siswa.

“Pemilihan ikan yang jarang dikonsumsi bisa menjadi salah satu faktor pemicu. Ini masih dugaan awal dan kami akan mengevaluasi bersama tim SPPG,” ujarnya.

Hingga saat ini, seluruh siswa yang sempat mengalami gejala tersebut telah mendapatkan penanganan medis. Pihak sekolah dan penyelenggara program menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh demi memastikan keamanan makanan yang diberikan kepada siswa.