Kumparan Logo
Konten Media Partner

25 Tahun Band Arwana, Mustafa Debu Puji Hendri Lamiri dan Kawan-kawan

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yudie Chaniago dan Yan Machmud saat tampil di Kalbar, beberapa waktu lalu. Foto: Instagram @yudiechaniago
zoom-in-whitePerbesar
Yudie Chaniago dan Yan Machmud saat tampil di Kalbar, beberapa waktu lalu. Foto: Instagram @yudiechaniago

Band Arwana Ultah ke 25 Tahun, Mustafa Debu Puji Henri Lamiri dan Kawan-kawan

Hi!Pontianak - Arwana, grup band asal Pontianak, merayakan ulang tahun ke 25, pada Jumat, 30 Oktober 2020. Sejumlah ucapan mengalir dari para musisi Tanah Air.

Satu di antaranya adalah dari Mustafa pentolan Debu. "Saya Mustafa Debu, saya mau menyampaikan apresiasi dan mengucapkan selamat kepada Arwanan yang ke 25 tahun. Bagiku, khususnya Hendri Lamiri, dan kawan-kawan Arwana lain-lainnya, itu adalah idolaku dalam bermusik," katanya sebuah video yang diunggah Yudie Chaniago, Kamis (29/10).

Selain dari Mustafa, Yudhi yang merupakan gitaris Arwana, juga mengunggah ucapan selamat dari Cakra Khan. "Selamat ulang tahun untuk grup Arwana yang ke 25 tahun. Tentunya akan makin hebat dan makin sukses," ujarnya.

Arwana adalah ikon bagi geneasi 90an di Kalbar, khususnya Pontianak. Mereka adalah pioner musisi Kalbar yang berhasil masuk ke kancah permusikan Tanah Air.

instagram embed

Artis Pertama Sony Music Indonesia

Dikutip dari wikipedia, pada tahun 1994, Yudie Chaniago, Hendri Lamiri, dan Yan Machmud, berkumpul untuk membuat grup band dengan nama X-Bart. Mereka adalah musisi-musisi kafe yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Rasa persatuan daerah ini menjadikan mereka serius untuk menekuni dunia musik, dengan mencari musisi-musisi dari Pontianak. Akhirnya terbentuk formasi lengkap dalam grup band X-Bart, dengan personel Yudie Chaniago (vocal & drum), Hendri Lamiri (vocal & violin), Yan Machmud (lead vocal & acoustic), Wansyah Fadli (vocal & guitar), Delsi (keyboard) dan Nono (bass). X-Bart membawakan lagu-lagu Top 40 dan manggung dari kafe ke kafe di Jakarta dan pertama kali manggung di News Café.

Pada tahun 1995, X-Bart berganti nama menjadi Nacle Band. Konsep musik masih sama yaitu membawakan Top 40 dari kafe ke kafe.

Dukungan terhadap musisi-musisi ini sangat kuat di kalangan musisi senior Indonesia saat itu. Banyak musisi-musisi senior mendorong Nucle Band untuk masuk ke dapur rekaman. Akhirnya pada tahun 1996, Nucle Band mambuat master 10 lagu dan rekaman di GIN Studio (tempat ngumpulnya musisi-musisi tertama). Proses rekaman banyak dibantu oleh musisi-musisi senior seperti Billy J. Budiarjo, Dian Pramana Putra dan sebagainya.

Pada tahun 1997, Nucle Band memberikan master 10 lagu tersebut ke Jan Juhana, dengan label Sony Music Indonesia. Pada tahun yang sama, berdirilah Sony Music Indonesia, dan Nucle Band diterima sebagai artis pertama.

Nucle Band pun berubah nama untuk masuk ke Sony Music Indonesia. Beberapa nama yang menjadi pilihan saat itu adalah ikon dari Kalimantan Barat, tempat semua personel berasal, yaitu Arwana, Khatulistiwa, dan Kapuas.

Dari ketiga nama tersebut, akhirnya disepakati bersama dengan nama Arwana, tetapi nama-nama yang lain tetap dipakai sebagai judul album.

Album pertama dengan judul "Asa" berisi 9 lagu. Tidak disangka dan tidak diduga, di saat krisis moneter dunia termasuk di Indonesia, album perdana Arwana pertama kali terjual 400 ribu kopi. Prestasi yang membanggakan ini menjadikan Sony Music Indonesia optimis untuk mempersiapkan album kedua.

Tahun 1999, Arwana mengeluarkan album kedua dengan judul Nadi Khatulistiwa, dengan single hits-nya "Lamunanku". Pada album kedua ini Arwana banyak mendapatkan prestasi dan nominasi di antaranya;

  • Pendatang Baru Terbaik

  • Lagu Terbaik versi Ballad & Country dari AMI (Anugerah Musik Indonesia)

  • Lagu “Kepang Kampung”, menjadi hits terbaik MTV Music Award se-Asia (karena satu-satunya musik yang bernuansa pop etnik).

Sayangnya, promo tur di album kedua ini sangat kurang, karena dipengaruhi kondisi politik Indonesia yang memburuk saat itu. Semua hiburan yang berkaitan dengan kumpulan massa sangat rawan, sehingga beberapa Event Organizer dari beberapa kota batal untuk membuat konser Arwana.