4 Tradisi Lebaran yang Mulai Jarang Ditemui di Pontianak

Hi!Pontianak - Lebaran sudah di depan mata. Tinggal beberapa jam lagi kita telah tiba di hari yang indah nan fitrah. Berbagai perhelatan untuk menggelar acara sebelum Lebaran tak jarang dilakukan warga di berbagai wilayah Tanah Air.
Tradisi yang saat ini dilakukan seperti mengucapkan selamat hari raya dan juga mohon maaf lahir dan batin di berbagai media sosial, masih kurang cukup untuk melengkapi rangkaian acara penyambutan hari raya bagi umat Islam ini.
Di Pontianak, beberapa tradisi di antaranya mulai jarang terlihat di pandangan, khususnya di daerah perkotaan. Budayawan Kalimantan Barat, Syafarudin Usman, mengungkapkan empat tradisi menjelang di akhir Ramadan dan pada Lebaran, yang saat ini sulit untuk ditemukan di Pontianak.
1. Sedekah makanan
Tradisi sedekah makanan pada masa selikuran, atau 10 hari terakhir Ramadan, dilakukan oleh masyarakat melayu Pontianak, dengan mengirim makanan ke tetangga, maupun sanak saudara. Makanan yang disedekahkan tersebut, memiliki makna, yakni menyedekahi untuk orang yang telah meninggal dunia. Selain itu juga tradisi ini menjadi ajang saling memberi kepada keluarga yang kurang mampu dan berbagi kebahagiaan di hari Lebaran.
2. Keriang Bandong
Keriang Bandong adalah tradisi masyarakat kota Pontianak berupa penyalaan sejenis obor dari bambu kecil yang diberi sumbu dan diletakkan di halaman rumah-rumah. Ada juga anak-anak kecil yang memainkannya pada malam menjelang penyambutan Lebaran.
Lampu minyak tanah inilah yang disebut dengan Keriang Bandong. Kata 'keriang' diambil dari sejenis hewan serangga yang menyukai cahaya. Sedangkan kata 'bandong' diambil dari kata berbondong-bondong, karena kebiasaan keriang yang selalu datang berbondong-bondong mendatangi pusat cahaya.
Namun, belakangan ini tradisi Keriang Bandong telah memudar dan sudah jarang ditemui.
3. Makan saprahan di awal Syawal
Tradisi lain yang sudah jarang ditemui jelang Lebaran adalah makan saprahan di awal bulan Syawal, atau Lebaran hari pertama. Saat ini saprahan hanya dilakukan pada acara pernikahan atau perayaan acara tertentu, seperti ulang tahun Kota Pontianak.
Makan saprahan adalah budaya makan yang ada di Kota Pontianak. Banyak filosofi yang terkandung dalam budaya makan saprahan tersebut. Dari sisi etika yakni menghormati orang yang lebih tua, menghargai pimpinan atau orang yang dihormati. Selain itu juga adanya rasa kekeluargaan dan kebersamaan menyatu dalam tradisi makan saprahan.
4. Takbiran keliling
Malam menjelang hari raya Idul Fitri, selalu ditandai dengan kumandang takbir untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Di Pontianak, khususnya laki-laki, akan melakukan takbir keliling dengan berjalan kaki, mendatangi rumah-rumah warga beramai-ramai.
Namun untuk sekarang, tradisi tersebut sudah jarang ditemukan. Hanya kawasan-kawasan tertentu yang masih melakukan tradisi tersebut. (hp6)
