Kumparan Logo
Konten Media Partner

Bardan Nadi, Pejuang yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Pontianak

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jalan Bardan Nadi yang berada di kawasan Tepian Kapuas, Pontianak, Kalbar. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Jalan Bardan Nadi yang berada di kawasan Tepian Kapuas, Pontianak, Kalbar. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Kisah Bardan Nadi, seorang pejuang yang memiliki kisah rasa kemanusiaan yang mendalam. Atas perjuangannya, nama Bardan Nadi didedikasikan sebagai nama jalan yang berada di kawasan Tepian Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat.

Dikutip dari buku Revolusi Oktober 1946 di Kalimantan Barat, oleh Rikaz Prabowo, Bardan Nadi memiliki nama asli Sutrisno Sastrakusumo. Ia lahir pada tahun 1912 di Magelang, Jawa Tengah. Sebagai orang Jawa, Sutrisno memiliki status sosial yang cukup tinggi kala itu karena dapat tinggal di lingkungan Keraton Surakarta (Solo).

Ayah Sutrisno, Rasen Suratman Nadi Sastrosasmito merupakan komandan KNIL yang sering ditempatkan berpindah-pindah, hingga akhirnya ditempatkan di Ngabang, Kalbar. Dari sinilah awal Sutrisno berkenalan dengan penduduk Kalimantan Barat.

Ia disekolahkan di sekolah HIS, meskipun dikenal sebagai orang terpandang. Sutrisno juga dikenal ramah dan memiliki tata krama yang baik. Oleh karena itu, ia diberi nama Bardan oleh teman-temannya, yang dalam bahasa Arab berarti sejuk.

Bardan Nadi memiliki nama asli Sutrisno Sastrakusumo. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Seolah berlawanan dengan pekerjaan ayahnya, Bardan Nadi justru aktif di pergerakan kebangsaan Indonesia selama masa Hindia Belanda. Rasa ingin membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda telah tumbuh di sanubarinya.

Ia salah satu pengurus PARINDRA di Ngabang pimpinan Gusti Sulung Lelanang, hingga semakin menempa karakternya memiliki sikap cinta tanah air dan nasionalisme. Ia rela meninggalkan status kebangsawanan Jawanya demi berjuang bersama pemuda-pemuda republiken di belantara Kalimantan Barat.

Pada 29 Oktober 1946, agenda inspeksi pimpinan GERAM di Sidas berubah menjadi suatu malapetaka. Agenda tersebut bocor ke tangan NICA, hingga akhirnya agenda berubah menjadi ajang tembak-menembak sengit.

Namun pasukan NICA kembali gagal menangkap Bardan Nadi yang telah menjadi target operasi utama mereka. Pada 5 Desember 1946, persembunyian Bardan telah dikepung oleh NICA, Bardan bersembunyi membawa anaknya yang berusia dua tahun bernama Paini Trisnowati.

Atas perjuangannya, nama Bardan Nadi didedikasikan sebagai nama jalan di Pontianak. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Bardan menolak untuk menyerah sambil menembakkan senapan lantak di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggendong putrinya. Namun, pada saat tembakan diarahkan ke tempat persembunyian, saat itulah timah panas mengenai putrinya dan seketika gugur di pelukan tangan kiri ayahnya.

Tak ada semangat untuk melawan, akhirnya Bardan Nadi menyerahkan diri hingga dibawa ke Penjara Sungai Jawi, Pontianak. Setelah diinterogasi dan mendapatkan siksaan berat, ia divonis mati. Bardan Nadi wafat pada 17 April 1947, setelah peluru tajam menghujam tubuhnya dan gugur seketika.