Kumparan Logo
Konten Media Partner

BKSDA Kalbar Lepas Liarkan Orang Utan: Jojo Panjat Pohon Usai 20 Tahun Dikurung

HiPontianakverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jojo memanjat pohon untuk pertama kalinya setalah 20 tahun dikurung. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Jojo memanjat pohon untuk pertama kalinya setalah 20 tahun dikurung. Foto: Dok. Istimewa

HiPontianak - Jojo, orang utan yang berhasil diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) akhirnya bisa merasakan memanjat pohon lagi usai lebih dari 20 tahun berada dalam kurungan.

Jojo dilepas liarkan jelang Hari orang utan Internasional yang diperingati pada 19 Agustus 2025 di enclosure hutan semi-liar seluas dua hektare yang dibangun oleh YIARI di pusat rehabilitasi orang utan di Desa Sungai Awan Kiri, Muara Pawan, Ketapang, Kalbar.

Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI, masih mengingat jelas momen ketika pertama kali melihat Jojo. Jojo, yang kini berusia lebih dari 25 tahun, memiliki masa lalu yang memprihatinkan. Ia pertama kali ditemukan pada tahun 2009 dalam kondisi mengenaskan, kakinya dirantai pada sebuah tiang di halaman belakang rumah warga, dengan panjang rantai tak lebih dari 30 sentimeter. Jojo hanya bisa duduk dan berdiri di tempat yang sama, dikelilingi sampah dan limbah, tanpa atap pelindung dari panas atau hujan. Rantai yang membelit kakinya telah menimbulkan luka infeksi parah, hingga besi tersebut menembus ke dalam kulit.

“Itu salah satu hari paling berat dalam hidup saya. Saya hanya bisa membersihkan lukanya dan memindahkan rantainya ke kaki sebelah, karena saat itu belum ada tempat penyelamatan orang utan di Kalimantan Barat. Saya harus meninggalkan Jojo di tempat itu, karena kami tidak punya pilihan lain,” jelasnya.

Kondisi Jojo yang mengenaskan, ditambah kenyataan bahwa tidak ada fasilitas penyelamatan dan rehabilitasi di wilayah tersebut, menjadi titik balik bagi Karmele dan timnya. Menurut informasi dari pemilik sebelumnya, Jojo sudah dipelihara sejak bayi. Saat diselamatkan, usianya diperkirakan sekitar 10 tahun. Itu berarti ia telah menghabiskan seluruh masa kanak-kanak dan remaja dalam kurungan, masa-masa krusial ketika orang utan seharusnya belajar dari induknya bagaimana bertahan hidup di hutan.

Setelah akhirnya berhasil dibawa ke pusat rehabilitasi di Ketapang, tim medis menemukan bahwa Jojo menderita rakitis, yaitu kelainan tulang akibat kekurangan gizi dan sinar matahari selama bertahun-tahun. Kakinya bengkok dan tidak mampu menopang tubuhnya dengan normal, sehingga ia hanya bisa berjalan dengan kedua tangan. Selain itu, Jojo juga sempat menderita pneumonia kronis, infeksi saluran pernapasan yang cukup parah, yang memerlukan perawatan bertahun-tahun hingga ia pulih.

“Kondisi kesehatan Jojo saat ini menjadi alasan kuat mengapa ia tidak bisa dilepas liarkan kembali ke alam. Disabilitas permanen yang ia alami membuatnya tidak mampu memanjat pohon atau mencari makan seperti orang utan liar pada umumnya. Inilah yang membuat kehadiran enclosure hutan semi-liar seluas dua hektare di pusat rehabilitasi menjadi sangat penting, sebagai tempat aman dan layak bagi Jojo untuk tetap hidup mendekati alami, meski tak bisa kembali ke hutan bebas,” tambahnya.

Enclosure yang dibangun sejak tahun 2022 ini bukan hanya untuk Jojo. Area ini dirancang khusus sebagai tempat tinggal jangka panjang bagi orang utan yang tidak bisa dilepas liarkan ke alam bebas akibat kondisi kesehatan, disabilitas, atau karena terlalu lama hidup dalam kurungan sejak bayi. Beberapa orang utan lainnya seperti Monte dan Jimo juga akan bergabung dalam enclosure ini.

“Enclosure ini merupakan salah satu bentuk solusi nyata dari komitmen jangka panjang  terhadap orang utan yang memiliki keterbatasan fisik atau kesehatan sehingga sulit untuk dilepas liarkan. Dengan adanya enclosure ini, kita dapat memastikan kesejahteraan satwa dilakukan secara optimal, sekaligus mendukung kerja konservasi orang utan maupun satwa liar lainnya di tingkat tapak,” pungkasnya.