Kumparan Logo
Konten Media Partner

Eksplorasi Seni dan Sejarah Sungai Kapuas dalam Pameran ‘Wajah Tanjung Besiku’

HiPontianakverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung melihat hasil karya visual dalam pameran ‘Wajah Tanjung Besiku’. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung melihat hasil karya visual dalam pameran ‘Wajah Tanjung Besiku’. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Pameran seni bertajuk ‘Wajah Tanjung Besiku’ selaku bagian dari Program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025 oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII Provinsi Kalimantan Barat resmi dibuka untuk umum di Nowadays Coffee, Pontianak pada Jumat, 3 Oktober 2025. Pameran ini digagas oleh seniman muda asal Pontianak bernama Sasandra Ahsya Tiara.

Sasandra selaku Penawar Gagasan menjelaskan bahwa ‘Wajah Tanjung Besiku’ merupakan sebuah proyek seni di mana Tanjung Besiku–sebuah penamaan persimpangan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak yang bertemu membentuk seperti segitiga bersiku, menjadi subjek eksplorasi untuk output karya seni. Tanjung Besiku sendiri menjadi titik sejarah awal mula berdirinya Kota Pontianak yang saat ini kita kenal.

Penawar atau Pengusul Gagasan ‘Wajah Tanjung Besiku’, Sasandra saat diwawancarai. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak

“Pameran ini adalah diseminasi terhadap output yang telah tersusun sebagai upaya untuk memantik, mengumpulkan, dan menggali lagi simpul-simpul budaya dan sejarah, serta menegaskan peran Sungai Kapuas sebagai ruang hidup dan identitas kolektif masyarakat, khususnya di sekitar Tanjung Besiku. Sebagaimana Sungai Kapuas yang kita kenal dan banggakan, juga sungai-sungai lain di Indonesia bahkan dunia, adalah awal peradaban. Namun, modernitas menggerus banyak ingatan kita,” kata Sasandra.

Tak sendirian, Sasandra melibatkan lima seniman Kalbar lainnya dalam gelaran pameran seni ini dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda, yakni Hera Yulita (Ketapang), Sylvia Capriaty (Kubu Raya), Mardiana (Sambas), Afra Dwisetyo Kurniadi (Pontianak), dan Jean Ferdi Nando (Sanggau). Mereka terpilih melalui mekanisme open call yang diusung sang pengusul guna berkumpul dan berkolaborasi bersama.

Bukan hanya karya visual, karya teks juga turut dihadirkan dalam pameran ini, termasuk satu karya berbentuk buku atau katalog dengan tema yang menggali kembali makna sejarah, sungai, dan identitas masyarakat sekitar Tanjung Besiku. Terdapat sebanyak enam karya yang disuguhkan, mulai dari cerita pendek, mind mapping, live sketch, mozaik puzzle, hingga rekaman aktivitas masyarakat di pesisir sungai dalam bentuk audio-visual.

Pengunjung tampak mencoba membolak-balikkan mozaik puzzle. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak

Sasandra menambahkan, “Pameran ini dihasilkan melalui proses eksplorasi (riset kecil) terhadap subjek–Tanjung Besiku tadi, yang dilakukan secara langsung di lapangan, wawancara bersama narasumber sehingga pameran ini kental dengan nuansa sejarah, ingatan terhadap sungai, dan identitas yang (masih) melekat atau bahkan menghilang di sekitar Tanjung Besiku.”

Lebih lanjut, Sasandra berharap agar pameran yang digelarnya bersama para seniman kolaborator lain ini dapat memberikan inspirasi sekaligus membuka ruang dialog bagi pengunjung, serta mengajak masyarakat untuk mengingat kembali akan identitas dan budaya jati diri Kota Pontianak yang sesungguhnya.

“Semoga pameran ini memberi inspirasi dan membuka ruang dialog yang lebih luas tentang pentingnya sejarah, sungai, dan identitas yang membentuk diri kita saat ini,” pungkasnya.

Yuk, mampir ke pameran ini! 'Wajah Tanjung Besiku’ berlangsung sampai tanggal 5 Oktober 2025 saja, mulai dari pukul 09.00 sampai 21.00 WIB di Nowadays Coffee.

Penulis: Firlansius