Foto: Simulasi Resepsi Pernikahan Hadapi New Normal di Pontianak

Hi!Pontianak - Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia (ASPEDI) melakukan simulasi penyelenggaraan resepsi pernikahan di Hotel Kapuas Palace, Pontianak, Selasa (14/7). Simulasi ini digelar dalam rangka menghadapi adaptasi kebiasaan baru atau new normal.
Dalam simulasi ini, ditampilkan berbagai macam rangkaian protokol kesehatan. Tamu undangan diwajibkan menggunakan masker atau face shield, menjaga jarak fisik, cuci tangan menggunakan sabun dan hand sanitizer sebelum memasuki ruangan. Selanjutnya, setiap makanan diambil oleh pelayan. Tamu, tidak perlu lagi mengambil sendiri makanannya.
Salaman dan foto tidak dianjurkan. Termasuk, tidak menerima titipan foto dari ponsel atau kamera pribadi serta tak menerima sumbangan lagi. Para tamu undangan pun harus mengikuti arahan panitia.
Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan mengatakan, di masa transisi new normal masyarakat dibolehkan beraktivitas dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Namun, jika tidak mematuhi aturan sesuai protokol yang dianjurkan, maka acara yang dibuat akan dibubarkan.
"Tapi seandainya, dalam hal pelaksanaan kegiatan seperti ini melanggar aturan protokol kesehatan, sudah ada aturan pemerintah, bahwa TNI-Polri boleh membubarkan acara yang sedang berlangsung," kata Norsan, Selasa (14/7).
Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menambahkan, pemerintah akan membuat Surat Edaran untuk memberi izin penyelenggaraan wedding atau resepsi di hotel dan gedung-gedung.
"Memang dalam simulasi, bisa patuh. Namun, praktiknya ini menjadi tugas dan tantangan panitia, owner wedding dan pihak keluarga yang menyelengarakan. Saya berharap antrean bisa benar tertib dan waktu acara diusahakan untuk sesingkatnya," ucap Edi.
Sedangkan untuk pasangan yang akan melangsungkan resepsi di rumah, Edi mengatakan, akan membuat protokol khusus. "Untuk acara di rumah kita akan buat protokol khusus, karena di rumah ini relatif lebih sulit untuk dikendalikan," bebernya.
Tempat dan lahan yang terbatas hingga tamu undangan lebih ramai, maka akan sulit dikendalikan. Edi mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan TNI-Polri untuk memantaunya.
"Warga yang ingin menyelengarakan resepsi harus menyampaikan izin terlebih dahulu. Sehingga kita bisa memonitor agar tidak ada klaster-klaster baru dari acara tersebut," tutur Edi.
