Ikanmas Tampilkan Cerita Rakyat Sanggau 'Putri Dara Nante' Lewat Drama Tari

Hi!Pontianak - Ikatan Mahasiswa Seni (Ikanmas) Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Untan Pontianak sukses menampilkan cerita rakyat dari Sanggau berjudul 'Putri Dara Nante' lewat pementasan drama tari bertajuk "Molek Menante’ 100 Purnama", Rabu malam, 8 Desember 2021.
Pergelaran yang dilaksanan di Taman Budaya Pontianak ini merupakan agenda rutin yang dilakukan sebagai ujian akhir mahasiswa.
Winda Istiandi, Dosen Mata Kuliah Drama Tari mengatakan, pementasan ini merupakan ujian akhir semester bagi mahasiswa semester 7. Tujuan diadakannya pementasan drama tari ini sebagai pembelajaran kepada mahasiswa untuk memanajemen sebuah pertunjukan. Selain itu juga untuk memperkenalkan mata kuliah tersebut kepada khalayak ramai.
"Selain ini mata kuliah, saya ingin mahasiswa mempunyai pengalaman dalam membuat sebuah karya drama, tari musik yang dikemas menjadi drama tari. Kemudian yang diangkat adalah cerita-cerita rakyat sekitar Kalimantan Barat," ungkapnya.
"Jadi pengen mengemas hal-hal istilahnya tradisi yang diyakini ada tetapi dikemas dalam bentuk tarian terkini. Karena dalam pertunjukan ini para pemain akan banyak mengkomunikasikan cerita melalui gerak tari kepada penonton," timpalnya.
Untuk judul, ide serta jalan cerita, Winda menyerahkan hal itu langsung kepada mahasiswanya. Pada cerita kali ini mahasiswanya terjun langsung ke Sanggau untuk menggali informasi terkait cerita rakyat 'Putri Dara Nante'. Setelah itu barulah mereka menyusun informasi tersebut dalam sebuah naskah pertunjukan.
"Judul murni dari sutradara. Jadi, sebelum mereka membuat naskah mereka harus cari terlebih dahulu tentang cerita yang akan diangkat. Tentunya mereka harus ketemu narasumber pergi langsung ke Sanggau. Menggali datanya, kemudian setelah dapat datanya susun naskah, baru berproses tariannya itu sendiri," jelasnya.
Sementara itu, Irsza, Sutradara Pertunjukan 'Putri Dara Nante' mengungkapkan, untuk pengemasan drama tari tersebut memakan waktu sekitar dua bulan. Selain itu dipilihnya kisah ‘Putri Dara Nante’ karena menarik untuk dikemas. Ia juga ingin agar penonton lebih mengetahui dan mengenal cerita rakyat yang ada di daerah Kalbar.
"Untuk pengemasan drama tari survei kami selama satu minggu. Kemudian proses garapnya terhitung selama dua bulan. Itu dalam dua bulan hanya dapat tiga kali latihan. Kemudian untuk proses musiknya hanya terhitung 1 bulan jadi seperti itu. Kami pilih judul ini karena satu lebih menarik untuk dikemas. Sebenarnya ini judulnya tentang putri dara nante, karena kami ulik lagi ceritanya ketemulah kenapa dia disebut putri dara nante itulah alasan kenapa judulnya Molek Menante’ 100 Purnama," paparnya.
Molek Menante’ 100 Purnama merupakan cerita rakyat Sanggau tentang 'Putri Dara Dante'. Cerita ini mengisahkan tentang seorang putri bernama Dara Nante yang hidupnya sangat sederhana bersama ibunya. Suatu hari ia pergi ke sungai dan menemukan sebuah timun.
Ia pun memakan buah tersebut, namun tak berselang lama ada keanehan dalam dirinya. Ia kemudian memeriksakan dirinya ke dukun dan dinyatakan hamil. Berita kehamilannya pun terdengar seluruh kampung dan dieksekusi karena telah mencoreng nama baik kampung tersebut.
Seiring berjalannya waktu, anak Putri Dara Nante tumbuh besar. Tiba saatnya mereka mencari suami Putri Dara Nante ke hulu Sungai Sekayam. Sesampai di sana ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Babai Cinga yang memiliki penyakit kulit. Singkat cerita, Babai Cinga dan Putri Dara Nante pun menikah, mereka hidup bahagia, dan mereka pun mendirikan sebuah tempat yang mereka beri nama Sanggau.
