JMI Ingatkan Mahasiswa IAIN Pontianak Bahaya Radikalisme
·waktu baca 2 menit

Hi!Pontianak - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menggelar kuliah umum dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Aula Gedung IAIN Pontianak, pada Kamis, 27 Oktober 2022.
Rektor IAIN Pontianak, Syarif, mengatakan rangkaian kuliah umum ini bertajuk tentang keagamaan serta fungsi-fungsi kemanusiaan yang sudah samar disuarakan.
“Ini penting, hikmah maulid karena misi kenabian itu dalam rangka memanusiakan manusia. Kesamaan derajat manusia ini misi agama-agama sebenarnya. IAIN itu ada 12 ribu mahasiswa saya tidak bisa menjamin tidak terjadi infiltrasi berkaitan dengan paham transnasional yang bertajuk radikalisme dan lebih dari itu supaya mahasiswa juga dalam penguatan NKRI,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI)/Tenaga Ahli Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme Mabes Polri, Islah Bahrawi sebagai pemateri. Ia memberikan materi dengan tema moderasi beragama menguatkan akar kehidupan beragama dalam konteks Bhineka Tunggal Ika.
Islah menyebutkan dalam dunia kampus, terdapat dua faktor pendorong akselerasi terbentuknya paham radikal, di antaranya seperti mahasiswa terpapar dari kajian-kajian ekstra kampus.
“Ini paling sering terjadi, terakhir mahasiswa Universitas Brawijaya yang ditangkap Densus 88 ini terpapar dari kajian ekstra kampus. Yang kedua itu dosennya membawa dari luar untuk diajarkan ke muridnya. Ini sering terjadi dosennya yang membawa dari luar, mahasiswanya terpapar sehingga mahasiswa ini jadi lebih militan dari dosennya itu,” ucapnya.
Ia mengatakan, rata-rata orang yang mudah terpapar radikal tersebut adalah orang-orang pintar yang mempelajari ilmu pasti.
“Teroris itu gak ada agamanya, kalau Densus 88 menangkap teroris bukan karena dia orang Islam tapi justru teroris menunggangi Islam untuk melegalkan aksi terornya. Oleh karena itu mereka ditangkap,” terangnya.
Yang harus dipahami, kata dia, Nabi Muhammad adalah nabi yang moderat pada zamannya. Nabi mendamaikan pertikaian suku, mendamaikan pertikaian suku, mendamaikan pertikaian agama antara kristen dan yahudi, mendamaikan antara orang pendatang dan pribumi yang kemudian dikemas dengan entitas Madinah.
“Nabi ini sangat moderat, kecintaan-kecintaan terhadap nabi dengan perspektif moderat ini harus dibangun lewat kegiatan-kegiatan peringatan Maulid Nabi secara kultural, ini kan peradaban, ini penting,” paparnya.
“Kecintaan terhadap nabi mau dibangun dengan apa? Selain jalur-jalur budaya, kalau dengan bacaan berlaku untuk dia sendiri, baca selawat mendoakan nabi tapi itu kan untuk dia, tapi kalau secara kultural ini berlaku kolektif, masif sehingga segala lapisan umur mencintai nabi, setidaknya pada bulan Maulid dia ingat sama nabi, itu analogi paling sederhana,” tukasnya.
