Kasus Infeksi Menular Seksual pada Remaja Sintang Meningkat, Terbanyak Sifilis
·waktu baca 3 menit

Hi! Sintang - Kepala Puskesmas Sungai Durian, dr Haryono Linoh, mengungkapkan fakta memprihatinkan terkait kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) pada kalangan remaja di Sintang. Ia menyebut, kasus IMS pada remaja mengalami peningkatkan pada tahun ini.
“Penyakit menular seksual atau IMS pada remaja ini mulai meningkat dibanding dari tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan itu dilihat dari jumlah kunjungan ke Puskesmas Sungai Durian,” ungkap Haryono Linoh.
Dengan adanya kondisi tersebut, Haryono mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua, agar hati-hati dengan pergaulan remaja. Karena kasus ini tak hanya dialami pelajar SMA, tetapi juga menyasar siswa SMP.
“Jumlah IMS pada pelajar SMA dan SMP hampir sama jumlahnya. Begitu juga persentase IMS menurut jenis kelamin, jumlahnya juga sama. Jadi tidak membedakan jenis kelamin. Tidak membedakan tingkat pendidikan, sama. Justru yang di bawah umur ini yang banyak dibandingkan dengan dewasa,” bebernya.
Haryono kemudian mengungkapkan jenis penyakit IMS yang dialami para remaja tersebut. “Jenisnya seperti sifilis, gonore, dan lainnya,” katanya.
Ia mengatakan, untuk menangani IMS, sejak dulu Puskesmas punya poli PKPR atau Pelayanan Kesehatan pada Remaja.
“Ada poli khusus untuk remaja. Jadi kalau ada remaja yang punya keluhan penyakit atau punya masalah-masalah pribadi, bisa berkonsultasi di sana. Kami ada petugasnya. Psikolognya kami bisa membantu,” katanya.
Haryono kemudian mempersilakan remaja yang ingin berkonsultasi terkait masalah IMS yang dimaksud untuk datang langsung ke poli PKPR Puskesmas Sungai Durian.
“Untuk remaja yang berkonsultasi ndak usah takut-takut lah. Kerahasiaan tetap kami jaga. Bukan hanya di poli PKPR saja. Tapi di semua pelayanan kesehatan kerahasiaan itu tetap terjaga. Jadi silakan datang konsultasi, akan kami tindak lanjuti dengan semaksimal mungkin,” tegasnya.
Dikatakannya, untuk IMS seperti sifilis bisa disembuhkan selama diobati dengan baik dan terjaga. “Penyakitnya bisa sembuh. Kalau tidak bisa ditangani Puskesmas kami rujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
Saat ini, sambung Haryono Linoh, berhubung telah masuk tahun ajaran baru, Puskesmas Sungai Durian menerima banyak permintaan untuk mengadakan penyuluhan pada remaja atau pelajar. Penyuluhan itu mengenai masalah penyakit hubungan seksual maupun kesehatan pribadi. “Intinya penyuluhan itu mengenai kesehatan pada remaja lah,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Tanjung Puri, dr. Andar Jimmy Pintabar mengungkapkan bahwa cukup banyak kasus IMS tahun 2022 yang terjaring di wilayah kerjanya. Di antaranya HIV 5 kasus, sifilis 7 kasus, HbSAg 5 kasus, gonore 7 kasus, dan jamur 4 kasus.
Untuk mencegah IMS, kata Andar, Puskesmas Tanjung Puri sudah melakukan penyuluhan ke beberapa sekolah, terutama SMA. Karena ternyata IMS ini sudah menyasar pelajar.
“Selain memberikan edukasi pada pelajar, kami juga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja tempat hiburan malam di Kota Sintang. Belum lama ini kita datang ke tempat hiburan di Lintas Melawi untuk melakukan pemeriksaan rutin,” katanya.
“Jadi kita melakukan pendekatan terhadap pelaku usaha tempat hiburan. Bukan hanya di tempat itu saja tetapi juga menyasar ke warung remang-remang, contohnya di hutan wisata,” katanya.
Untuk warga yang terjaring IMS, kata Andar, Puskesmas Tanjung Puri langsung melakukan intervensi. Baik itu dengan melakukan pengobatan, pemeriksaan penunjang lebih lanjut dan merujuk ke RSUD Ade M Djoen Sintang.
“Untuk pelajar, karena kita sifatnya edukasi, ketika mereka punya problem kita buka konsultasi melalui poli PKPR. Yang konsultasi banyak. Sedangkan yang berobat tidak banyak,” ungkapnya.
