Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kata Psikolog soal ‘Bucin’ dalam Hubungan Asmara Generasi Milenial

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pasangan. Foto: Shutterstock/Makistock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pasangan. Foto: Shutterstock/Makistock

Hi!Pontianak - Saat jatuh cinta, tentunya seseorang ingin melakukan yang terbaik demi membahagiakan pasangannya. Tapi sering kali tindakan yang dilakukan untuk menunjukkan rasa cinta justru berlebihan hingga merugikan diri sendiri.

Mulai dari selalu mengikuti kemauan pasangan, sering mengalah sampai rela korban waktu, perasaan dan materi. Seseorang yang melakukan tindakan hal tersebut pun disebut netizen dengan bucin (budak cinta), yang mana mereka tak sadar kalau dirinya melaukan segalanya demi cinta pada pasangannya.

Apakah kamu termasuk bucin? Lalu sebenarnya salah tidak sih menjadi bucin untuk membahagiakan pasangan? Ini kata psikolog.

Praktisi Psikologi di Pontianak, Ferra Novita Anggraini mengatakan, ada dua pandangan mengenai masalah bucin. Ada yang memandang itu negatif, ada pula yang memandang hal tersebut positif.

Ilustrasi bucin Foto: Shutterstock

“Sebenarnya boleh-boleh saja, sih, itukan hanya perkataan atau sebutan jika dilihat secara positif, seperti gurauan-guruan. Namun jika tindakannya sudah berlebihan itu menurut kami secara psikolog hal yang negatif. Sesuai namanya, yakni ‘budak’, mereka seolah-olah tak punya pendirian padahal kami yakin untuk sebuah hubungan asmara yang ideal, pasangan harus mempunyai kontribusi yang seimbang. Meskipun para bucin mungkin menganggap tindakan mereka romantis, ada saatnya harus tahu di mana batasnya,” kata Ferra saat berbincang kepada Hi!Pontianak, Senin (13/1).

Menurut Ferra, umumnya seseorang menjadi budak cinta disebabkan rasa percaya diri yang rendah dan sejak awal menganggap bahwa pasangan selalu lebih darinya. “Kebanyakan dari mereka melakukan hal tersebut untuk mempertahankan hubungan atau mencegah kekasih meninggalkannya. Maka dia akan melakukan segala cara dan berkorban sampai menjadi bucin,” ungkapnya.

Jika terus menerus menjadi budak cinta dalam jangka panjang, Ferra mengatakan, akan membawa dampak yang cukup berbahaya jika mereka dalam tahap pertengkaran. Sebab mereka yang menjadi budak cinta ketika bertengkar dan dikasari oleh pasangannya akan memaklumi tindak kekerasan dan kemarahan tersebut.

“Ketika kita sendiri yang ada di posisi orang tersebut, kita tidak sadar sama sekali. Hal itu terjadi karena ada kedekatan secara emosional, karena rasa sayang kita, karena rasa takut kehilangan kita. Yang akhirnya kita mentolerir itu tanpa kita sadari,” ucap Ferra.

Ilustrasi budak cinta alias bucin. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Sebelum terlalu jauh, untuk mencegah hal tersebut Ferra memaparkan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan setiap pasangan untuk menjalin suatu hubungan yang ideal dan sehat. Langkah pertama adalah baik dari pihak pria maupun wanita, harus tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya dicari dalam hubungan asmara. Dengan begitu mereka bisa memahami kemauan satu sama lain.

“Kedua adalah introspeksi diri dan mengevaluasi hubungan yang telah dijalani selama ini. Ketiga penempatan diri, pasangan yang baik tidak akan menganggap pacarnya sebagai budak, melainkan sahabat keluarga, adik, kakak dan pasangan yang baik itu bisa menempatkan dirinya. Ketika pacar saya butuh, mempunyai masalah oke saya ingin menjadi pendengar, teman curhatnya nah itu yang bisa di katakan pacaran sehat,” tutur Ferra.