Kumparan Logo
Konten Media Partner

Keluarga Valentina Miranti Pinjam ke Credit Union untuk Biaya Berobat

HiPontianakverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komunitas Mari Melihat menyambangi kediaman Valentina Miranti yang kemudian dibagikan di mediasosial. Postingan itu kemudian direspon oleh pemerintah dengan memberikan bantuan dan pelayanan. Foto: Dok Mari Melihat
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas Mari Melihat menyambangi kediaman Valentina Miranti yang kemudian dibagikan di mediasosial. Postingan itu kemudian direspon oleh pemerintah dengan memberikan bantuan dan pelayanan. Foto: Dok Mari Melihat

Hi!Pontianak - Pengobatan kanker paru yang dialami Valentina Miranti, sudah dilakukan pihak keluarga sejak tahun 2018. Selama periode tersebut hingga saat ini, biaya pengobatan sudah menghabiskan dana lebih dari Rp 100 juta.

“Pengobatan kan sejak dari Singkawang hingga di Sintang. Lebih dari Rp 100 juta sudah habis,” kata Natalia Mina, ibu Valentina Miranti saat ditemui Hi!Pontianak, Rabu (30/10).

Ia sangat berharap uluran tangan dermawan serta bantuan pemerintah. “Mohon bantuannya agar anak saya bisa sembuh,” ucapnya.

Velentina Miranti yang berusia 24 tahun, merupakan ibu muda dari Desa Benua Baru Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Ia menderita kanker paru stadium empat dan sedang mengandung. Foto: Yusrizal/Hi!Pontianak

Hendrawati, kakak sepupu Valentina Miranti menambahkan, untuk menutupi biaya berobat, pihak keluarga sampai mengambil pinjaman uang ke Credit Union (CU). “Makanya, suami dan anak Mira di kampung untuk bekerja agar bisa membayar angsuran,” ujarnya.

“Suami Mira memang serba salah. Jika menunggui istrinya di Sintang dia tidak bekerja. Namun, jika dia bekerja di kampung dengan noreh getah, ya terpaksa harus meninggalkan istrinya yang sedang sakit,” timpal Hendrawati.

Ia mengatakan, obat yang dikonsumsi Mira memang tidak murah. Setiap bulan bisa menghabiskan dana hingga Rp 4-5 juta untuk berobat. “Sementara, obat itu harus diminum terus menerus selama 6 bulan. Makanya sempat putus obat karena masalah biaya,” jelas Hendrawati.